Gadis itu kembali menunduk, meredam semua sesak dalam dadanya yang nyatanya tidak bisa hilang. Ini sudah tahun keempat ia berteman dengan mantan kekasihnya, Khris Wirasetya. Namun getaran serta rasanya masih belum bisa gadis itu sangkal.
Nama Khris masih tersimpan rapi dalam hatinya meski waktu sudah berlalu. Gadis itu menghela napas panjang, meyakinkan semuanya akan baik-baik saja. Niat hatinya hari ini hanya akan bertemu sahabatnya, namun apa yang kini ia dapat? Ia dapat melihat sahabatnya juga mantan kekasihnya tengah berbincang di dalam restoran yang sudah dijanjikan kemarin malam.
Rasanya masih sama, sakit. Meski sudah banyak melewati waktu bersama sahabatnya itu, tak dapat dipungkiri bahwa pelukan hangat sang mantan juga pernah diberikan pada sahabat dekatnya. Terlebih sebelum ia dan sang mantan menjalin kasih, Khris dengan sahabatnya lebih dulu berteman.
Menghilangkan rasa sesak yang bersarang di dadanya, ia memilih untuk menegakkan kepalanya lalu tersenyum seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Ia memantapkan diri untuk keluar dari mobilnya. Mengambil tas yang ia simpan di kursi samping pengemudi serta kembali melihat wajahnya yang sempat kusut, ia akhirnya beranjak dari duduk nyamannya dan segera keluar untuk menemui mantan dan sahabatnya.
Memasuki area restoran dan melihat ke arah meja yang ia tuju membuat langkahnya terhenti seketika, Khris ternyata sudah lebih dulu melihatnya masuk. Tersenyum ke arah gadis itu dengan hangat.
"Ah.. Senyuman itu lagi."
Memilih acuh, ia membalas senyuman itu disertai sahabatnya yang melambaikan tangan ke arahnya. Sesaat ia terdiam, haruskah ia melangkah menghampiri atau haruskah ia kembali ke dalam mobil? Anehnya kakinya malah membawa ia untuk duduk di samping sahabatnya, Kinasih.
"Lama banget sih, Run, tadi gak macet kan di jalan?" Itu adalah kalimat pertama yang ia dengar ketika mendudukkan dirinya disitu.
"Iya, tadi di jalan sempet macet. Maaf ya," ia membalas pertanyaan Kinasih dengan tersenyum kecut seolah memang keadaan yang memaksanya untuk terlambat, namun kenyataannya ialah yang membuat keadaan menjadi terlambat.
"Aruna,"
Suara itu. Entah kenapa setiap kali Khris memanggil namanya, hatinya masih berdenyut dan dadanya masih selalu diiringi kupu-kupu yang beterbangan. Mencoba abai, ia melihat kearah panggilan itu dan terkejut ketika mendapati tatapan Khris sudah tertuju padanya.
Bola mata gadis itu sempat melebar karena terkejut namun masih bisa ia kendalikan ketika perubahan raut wajah yang ia dapati seketika berubah total menjadi lebih lembut dari tadi.
"Ada apa, Khris? Hei, kau merindukannya bukan?"
Itu bukan suaranya, ia menoleh kearah Kinasih yang kini tengah menggoda Khris dengan menaik turunkan alisnya. Lalu ia melihat kearah Khris yang kini merotasikan matanya. Ia sedikit tertegun, merasa tidak nyaman namun harus bagaimana lagi? Akhirnya ia menyenggol lengan Kinasih dan menatap bingung kearahnya.
"Apa, Run? Kau harus tahu bahwa yang datang lebih awal kesini adalah Khris, tentu ia merindukanmu kan?"
"Oh ayolah, Kin. Aku hanya ingin menyapanya, apa salahnya jika aku memanggilnya lebih dulu?"
"Bagaimana mungkin? Kau bahkan memanggil namanya dengan lengkap, sedangkan aku? Kau bahkan terus mengejekku." Balas Kinasih tak kalah sengit dengan balasan yang diberikan oleh Khris.
"Kau memang pantas untuk mendapatkannya Kinasih,"
Melihat perdebatan kecil antara teman dan sahabatnya, mau tak mau ia menggelengkan kepala dan bersuara, "Ada apa, Khris?"
Khris menoleh seketika pada gadis itu, tatapannya.. Tatapan itu kembali mengarah pada gadis itu. Seolah suaranya tadi merupakan magnet yang dapat membuat pupil matanya bereaksi.
YOU ARE READING
The Bullets
RomanceNEW VERSION. Aruna pikir pertemuannya kembali dengan mantan kekasih sekaligus temannya itu tidak akan menimbulkan bekas apapun. Niat hati hanya ingin menemui sahabatnya yang kebetulan juga mantan dari Khris, mantannya, berujung petaka bagi Aruna. T...
