Pertemuan.

12 3 1
                                        

H
A
P
P
Y

READING

1. Pertemuan.

-


Pikirannya kacau balau tak strukturi, memandang obat putih ditelapak tangannya dengan tatapan bimbang. Ia ingin mencoba, namun ragu untuk melangkah. Obat tidur yang belum lama ia beli secara online, karna saran dari temannya itu berhasil membuatnya ragu. Namun, akhirnya telapak tangan gadis cantik itu terangkat mengarah ke mulut, menelan satu pil obat tidur dan dengan cepat ia meneguk air putih yang sudah ia siapkan.

Hanya menunggu beberapa menit kemudian kepalanya berdenyut pusing, tubuhnya terhuyung ke belakang menduduki sofa ruang tamu. Tak lama pandangannya mengabur bersamaan dengan ketukan pintu yang terdengar di Indra pendengarannya.

"Jenari! Jen!"gadis yang dipanggil Jenari menoleh ke sumber suara.

Aneh, kenapa kepalanya tidak terasa pusing lagi? apakah ia membeli obat yang salah? memikirkan obat tadi membuatnya bingung. Kembali fokus menatap seseorang yang memanggil namanya, Jenari.

"Ada apa?"tanya Jenari, gadis itu sedikit mendongak menatap sahabatnya, Nara. Yang kini berada dihadapannya, mengingat ia masih menduduki sofa.

"Anterin gua yuk, mau beli mie ayam kang Ujang. Bunda gua ngidam nih!"ajak Nara sembari menarik kedua tangan Jenari, membuat Jenari terpaksa beranjak dari posisi nyamannya.

"Woi sabar monyet! baru balik nih gua,"protes Jenari.

"Lagian tumben, lo gak nyuruh Adek lo."Lanjut Jenari, kakinya melangkah keluar rumah ditemani Nara yang terus menatap layar handphone. Sesekali tersenyum seperti orang gila, maklum sahabatnya itu salah satu kaum virtual. Mendengar ucapan Jenari, lantas Nara mengalihkan tatapannya.

"Gua juga mau beli cimol depan komplek,"ucap Nara dengan mata berbinar.

"Sekalian gua mau cuci mata! katanya komplek kita ini banyak cogan loh."Nara nampak semangat membayangkan deretan cogan-cogan yang akan ia temui, tak heran ia nampak penasaran. Sebab, Jenari dan Nara merupakan orang baru.

"Mata lo jelalatan, inget noh ayang lo dilayar hp."Ucap Jenari.

"Selagi dia gak tau, ya gapapa dong?"Nara tertawa, merasa lucu dengan ucapannya sendiri. Sedangkan Jenari hanya bisa menggelengkan kepala, ia tau sahabatnya itu tidak serius dengan ucapannya.

Sore ini sangat menyejukkan. Langit dan suasana mendukung untuk berkeliling menatap deretan jajanan yang menggiurkan, mulai dari bakso bakar, cilung, cimol dan berbagai jajanan lainnya. Jenari dan Nara menghampiri gerobak cimol yang berada didekat penjual es kelapa, kali ini bukan hanya Nara yang nampak bersemangat, Jenari juga terlihat semangat saat menatap es kelapa yang begitu menggoda disore hari.

"Woi nyet, gua beli es dulu ya."Setelah mendapat jawaban anggukan kepala dari Nara, Jenari melangkahkan kakinya ke arah penjual es kelapa. Tidak perlu mengantri panjang, karna hanya ada beberapa orang yang sedang membeli.

"Om, es kelapa satu ya! pake gula merah."ucap Jenari yang dibales dengan acungan jempol dari penjual es kelapa.

"Siap neng!"

Menganggukkan kepala, sembari menunggu es kelapa pesanannya. Jenari mengeluarkan handphone disaku celana, niatnya ingin ia mainkan. Namun sapaan orang disampingnya membuat Jenari mengalihkan perhatian dari layar handphone, menatap cowok asing yang sedang menatap dirinya.

"Lo nyapa gua?"tanya Jenari sembari menunjuk dirinya sendiri.

Yang ditanya malah tertawa, membuat Jenari memandangnya dengan tatapan bingung sekaligus merasa aneh. Padahal tidak ada yang lucu, mengapa cowok disampingnya ini tertawa seperti orang aneh.

"Iya, nama lo siapa?"

"Jenari."

Cowok itu mengangguk, menatap Jenari dengan tatapan bingung. Sepertinya dia sadar bahwa wajah Jenari nampak asing baginya, ia merasa belum pernah bertemu Jenari. Terasa asing baginya, atau mungkin jenari adalah anak rumahan?

"Lo anak baru ya? gua belum pernah ngeliat lo disini,"

"Baru pindah? atau lo anak rumahan yang gak pernah keluar?"lanjutnya.

"Baru beberapa hari disini, lo anak komplek sini?"Jenari menatap cowok disampingnya dengan seksama, kalau dilihat lihat cowok itu ganteng juga. Sikapnya juga terkesan friendly, ciri-ciri modelan buaya darat.

"Yoi, gua anak komplek sini. Nama gua Elang, lo bisa panggil gua elang atau sayang juga boleh."Elang terkekeh kecil saat mendapati wajah Jenari yang berubah masam.

"Becanda yaelah, serius amat."

Jenari mengangguk, males meladeni manusia aneh itu lebih lama. Gadis itu lebih memilih beranjak dari tempat duduknya, Jenari menghampiri si penjual es kelapa yang sudah memanggilnya. Mengambil pesanannya dan memberikan sejumlah uang delapan ribu kepada sang penjual.

"Terima kasih ya om."Ucap Jenari sembari tersenyum.

"Sawangsulna neng."

Berbalik untuk keluar, Jenari menyempatkan diri untuk menatap Elang yang sedang memfokuskan perhatiannya ke layar handphone.

"El,"panggil Jenari. Merasa namanya dipanggil, Elang menoleh menatap Jenari dengan tatapan bertanya-tanya.

"Duluan."Ucap Jenari, sembari berjalan menuju Nara yang sudah menunggunya.

Menatap Jenari dan satu gadis yang tidak ia kenali, Elang mengusap belakang lehernya. Pipi dan kupingnya terasa panas, menimbulkan nora merah ketara. Bibirnya membentuk bulan sabit, membuat kadar ketampanannya bertambah berkali lipat. Perasannya berbunga-bunga ketika berinteraksi bersama Nara, 

"Cantik banget."ucapnya lirih.

Since.26.03.2023.

To już koniec opublikowanych części.

⏰ Ostatnio Aktualizowane: Mar 26, 2023 ⏰

Dodaj to dzieło do Biblioteki, aby dostawać powiadomienia o nowych częściach!

Jenari [ On going ]Opowieści tętniące życiem. Odkryj je teraz