PROLOG

59 3 0
                                        

• K A Y L E E •

PROLOG

Suasana ramai melingkupi salah satu SMP di Bandung itu dengan hangat. Teriknya matahari menambah semangat para murid untuk memberikan tepuk tangan. Menggema di sudut-sudut sekolah, terdengar sampai ke luar sekolah, mengalahkan bising jalan raya di sekitarnya.

Grup tari dari nomor undi tujuh belas itu menegakkan punggung, selesai memberikan hormat kepada penonton. Gadis-gadis yang berjumlah enam itu pun turun dari atas panggung, bernapas lega karena sudah berhasil memberikan penampilan terbaiknya. Latihan selama berbulan-bulan akhirnya terbayar. Performa mereka bagus, tidak ada kesalahan seperti salah gerak, tersandung, terlilit selendang, atau semacamnya.

"Wahh! Keren ya penampilan tari modern dari nomor undi tujuh belas. Minta tepuk tangannya sekali lagi, dong, teman-teman!" ujar MC yang tadi sigap menaiki panggung, langsung semangat mengomentari jalannya acara.

Tepuk tangan terdengar lagi, ramai dan riuh. Bahkan, beberapa murid di sudut-sudut mengeluarkan suara seperti peluit dari mulutnya. Jangan tanya bagaimana caranya, yang bisa hanyalah orang yang punya kemampuan khusus. Haha.

"Kalian juga keren, nih. Semangat banget dan antusias menunggu karya-karya teman-teman kita selanjutnya. Sejauh ini, pagelaran seni ini jauh lebih meriah dari tahun lalu. Love sekebon buat kalian!"

Suara tawa terdengar dari penonton karena ucapan MC yang merupakan guru muda di SMP itu. Ada juga yang melontarkan kata-kata menggoda seperti:

"Ah, Bu Angel bisa aja. Sini jadi istri aku, Buu!!"

Selagi masih di batas wajar, apa lagi Bu Angel masih single alias belum menikah ... guru-guru di sana santai saja. Tidak menganggap itu sebagai suatu tindakan yang mem-bully guru atau melecehkan. Bu Angel juga tipikal orang yang santai, murid-murid dianggap seperti temannya.

"Selanjutnya, kita saksikan dari nomor undi delapan belas. Ada Liam Ranveer dari kelas IX-D!" ucap Bu Angel.

Para murid bersorak heboh, terutama kaum perempuan. Pasalnya, nama yang barusan disebut adalah mantan ketua OSIS periode tahun lalu. Dia juga YouTubers yang lumayan populer dengan suara merdunya. Ya, dia suka meng-cover lagu-lagu.

"Nggak diragukan lagi, Liam pasti bakal bawain lagu nih yaa. Selamat menikmati suara Liam yang merdu, teman-teman!"

Bu Angel turun dari panggung melalui tangga sebelah Barat. Bersamaan dengan itu, sosok Liam naik dari tangga sebelah Timur.

Tubuhnya tinggi dan tegap, kulitnya kecoklatan khas orang Indonesia. Ditambah lagi, ia mengikuti ekstrakurikuler basket-di samping ekstrakurikuler musik. Dari sana tubuh tinggi dan atletisnya didapat.

"Izin Bapak dan Ibu guru," ujarnya di depan mikrofon. Guru-guru yang menonton dengan duduk di kursi-disediakan di tepi halaman sekolah pun mengangguk singkat.

Kemudian, Liam mencari posisi nyaman untuk gitarnya dan mulai memetik senar-senar. Menghasilkan nada-nada yang indah di telinga. Sejauh ini, belum ada yang bisa menebak judul lagu yang akan Liam bawakan.

"Hadirlah dirimu,
Berikan suasana baru,
Kau mampu tenangkan aku,
Disaat risau dalam hatiku ...."

Setelah satu bait lagu selesai dinyanyikan, barulah judul lagu dan penyanyinya tertebak. Judulnya Kehadiranmu, Vagetoz.

"Lembutnya sikapmu,
Meluluhkan hati ini,
Terbuai aku terlena,
Oleh dirimu oleh dirimu wo ...."

Suaranya mengalun dengan merdu, temponya sangat tepat sehingga enak didengar telinga. Tekstur suara yang lembut dan berat menjadi satu, siapa pun yang mendengar akan langsung menyukainya.

Menuju ke reff lagu, Liam memberikan isyarat pada penonton untuk ikut bernyanyi, sambil mengangkat kedua tangan dan menggerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Ia pintar dalam mengajak penonton berinteraksi.

"Jantung pun bergetar,
Saat engkau ada didekatku,
Mungkinkah diriku,
Telah jatuh cinta pada dirimu ...."

"Sebisa diriku,
Mencoba untuk melupakanmu,
Namun ku tak bisa,
Kau pun slalu ada dalam hatiku ...."

Tak disadari oleh siapa pun, sedari tadi ... pandangan Liam mengarah pada ruang kelas yang berada lurus dari tempatnya berdiri. Di depan ruang kelas itu, ada seorang gadis yang menjadi tujuannya menyanyikan lagu ini. Ia manis, cantik, anggun duduk di bangku kelas yang ia seret ke teras.

"Dan biarkan semua,
Mengalir apa adanya,
Ku yakin kau pun pahami,
Perasaanku perasaanku ...."

Dimulai ketika ia tiba-tiba pusing saat bermain basket rutin, gadis yang merupakan anak PMR itu menolongnya. Dengan sigap membawanya ke tepi lapangan dan itu lah pertama kali Liam mengenalnya.

"Jantung pun bergetar,
Saat engkau ada didekatku,
Mungkinkah diriku,
Telah jatuh cinta pada dirimu ...."

"Sebisa diriku,
Mencoba untuk melupakanmu,
Namun ku tak bisa,
Kau pun slalu ada dalam hatiku ...."

Tersisa satu reff lagi, sepertinya, gadis itu mulai menyadari tatapan Liam. Ia tampak gelisah menggerak-gerakkan badannya, salah tingkah.

Namun, Liam tak peduli. Ia tetep memandang gadis itu, bahkan semakin melembutkan tatapannya. Seirama dengan reff terakhir uang yang ia nyanyikan dengan nada rendah.

"Jantung pun bergetar,
Saat engkau ada didekatku,
Mungkinkah diriku,
Telah jatuh cinta pada dirimu ...."

"Sebisa diriku,
Mencoba untuk melupakanmu,
Namun ku tak bisa,
Kau pun slalu ada dalam hatiku ...."

Petikan gitar terakhir memancing tepuk tangan dari penonton. Liam pun puas dengan penampilannya sendiri seraya membungkukkan badan. Senyumannya mengembang.

"Lagu tadi gue nyanyiin buat Kaylee, Kaylee Margaretha."

Sekian. Liam langsung turun dari panggung bersamaan dengan raut penonton yang bermacam-macam. Kebanyakan gadis merasa kaget dan kecewa, sedangkan laki-laki terutama teman-temannya bersiul-siul meledek.

Namun, Liam patah hati. Ia sempat melihat Kaylee masuk ke dalam kelasnya saat mendengar namanya disebutkan ke mikrofon. Bukankah itu adalah sebuah penolakan?

•••

K A Y L E E  (Slow Update)Where stories live. Discover now