“Hoiii, tugas lo udah selesai belum?!” riuh terdengar dari kelas XI MIPA 2. Sebuah rutinitas setiap pagi bagi teman-teman Ail. Mencari contekan tugas yang seharusnya di selesaikan di rumah.
“Belum, Bang!” ucap Zara tampak sangat santai. Padahal pelajaran Bahasa Indonesia akan segera di mulai. "Santai aja kali. Palingan juga nggak diperiksa," lanjutnya sambil mengeluarkan buku Bahasa Indonesia miliknya yang bersampul merah putih, siap untuk menyalin tugas dari si rajin yang mengerjakan tugas itu.
Sekitar lima menit lagi, gerbang akan di tutup dan kini Ail terjebak di lampu merah tengah menghitung mundur waktu. Walau nampak tenang, jantung Ail sebenarnya berdetak dengan sangat cepat berharap bisa tiba tepat waktu. Sebuah motor tampak berhenti di sebelahnya. Pria yang menggunakan seragam yang persis sama dengan yang Ail kenakan. Tampaknya, Ail tidak sendiri.
Segera setelah lampu berubah warna menjadi hijau, Ail melajukan motornya secepat yang dia bisa. Begitu pula dengan motor yang ada di sebelahnya, kini sudah melaju cepat tak terlihat lagi wujudnya. Ail yang awalnya merasa lega sebab memiliki teman terlambat bersama, kembali was-was. Dia terus berdoa dalam hati agar gerbang belum di tutup. Berharap jalan menjadi lebih pendek agar Ail bisa segera tiba di sekolah.
“Ayo, cepat! Atau kalian akan membersihkan wc!”
Beruntung, tepat satu menit sebelum gerbang ditutup, Ail berhasil tiba di sekolah. Tampak kepala sekolah sudah berteriak menyuruh siswa agar segera masuk sebelum gerbang di tutup. Ternyata banyak siswa lain yang masih berlarian mengejar waktu. Ail memarkirkan motornya tepat di sebelah motor yang dia lihat saat di lampu merah tadi. Anehnya, dia tidak merasa asing dengan motor itu. Tak ingin memikirkannya lebih jauh, Ail bergegas ke kelas sebelum guru mata pelajaran masuk.
Dengan tasnya yang entah berisi apa sehingga selalu saja terasa berat, Ail berlari menelusuri koridor untuk tiba di kelasnya. Suara sentakan sepatunya menaiki tangga terdengar sangat jelas. Dengan napas yang tersengal, Ail akhirnya tiba di kelasnya. Semua orang tampak sangat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing tanda bahwa guru belum datang.
“Tumben lo telat! Biasanya nggak ada yang kalah pagi!” seru Zara melihat Ail meletakkan tasnya di bangku paling depan. Wanita itu kemudian melangkah mendekati teman-temannya yang duduk di bangku paling belakang.
“Mama gue lagi sakit, jadi ngurusin Mama dulu sebelum ke sekolah,” jawab Ail mengemukakan alasannya terlambat.
“Tugas lo udah selesai nggak? Lihat dong!”
“Emang ada tugas?! Yang mana?!”
“Lo pintar doang, tapi malasnya astagfirullah!” Zara menepuk kepala Ail.
Ail merampas buku yang ada di tangan Jihan hendak melihat tugas apa yang dia lewatkan. “Astagfirullah, gue lupa ngerjain!” ucap Ail meletakkan tangan kanannya di dahi. "Ini gimana nih? Udah masuk wehh!” lanjutnya mulai panik. Segera wanita itu berlari mengambil bukunya di bangku depan kemudian dibawa ke belakang untuk menyalin soal.
“Makanya bang, kalau malam tuh belajar. Dilihat, ada tugas nggak? Jangan scroll tik tok mulu lo!” ucap Zara bertindak sok dewasa.
“Sok banget lo! Kayak udah selesai aja tugas lo!” Reva menimpali.
“Heh, gue sambil merem aja selesai ni tugas! Lihat aja!” Zara mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kelas.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Temaram
Genç KurguPemilik sepatu yang tak terikat Apa kisah ini telah dimulai? Atau mungkin lebih tepatnya tidak pernah dimulai? Kurasa setidaknya, kita harus memiliki akhir yang bahagia, walau hanya dalam angan. Sialnya, bahkan anganku pun menolak akhir bahagia itu...
