Takdir memang sulit ditebak. Entah itu tentang jodoh, karir atau pun umur. Hanya Tuhan sahaja yang tahu bagaimana masa depan manusia berjalan nanti nya.
Terbukti, kala angan-angan seorang gadis yang ingin bermain-main dahulu sebelum ia pulang kerumah, pupus sudah. Ketika, seseorang menjemputnya dan memaksa pulang bersama saat itu juga.
"Halo? "
"Halo Aris, lagi dimana? "
"Disekolah lah ege" jawab nya ketus
"Yakali aja Aris main-main ke rumah temennya" seseorang diseberang sana terkikik geli.
"Ngapain emang? "
"Udah pulang kan? Kakak udah di depan gerbang sekolah Aris. Gih, cepet keluar"
"Iihh ngapain didepan gerbang? Nanti diketawain sama temen. Tunggu disimpang sekolah aja sana! " pinta nya sedikit berteriak
"Dih, kenapa? "
"Kakak nanya-nanya mulu. Udah sana, tunggu disimpang. Biar Aris jalan ke sana"
Tit!
Panggilan pun dimatikan oleh Floris. Bermodal kan dua pasang kaki yang dipaksa untuk berlari menuju tempat orang yang menghubungi nya tadi.
Floris semakin mempercepat langkah nya kala melihat presensi seorang pemuda tengah duduk diatas motor sembari memainkan ponsel nya. Ia pun berjalan perlahan mendekati pemuda itu saat tiba tepat dibelakang nya.
"WOY! "
"Anj- astaghfirullah! Ngagetin aja ni bocil! " hampir saja, ponsel pemuda itu terjatuh karna dirinya terkejut.
"Ahay, kaget ya? Kasian. Yok lah cabut pulang" ujar Floris dengan ketidak tahu diriannya langsung menaiki jok motor belakang.
Pemuda itu sendiri hanya manggut manggut mengiyakan. Ia agak malas meladeni bocah tengil seperti Floris. Dan ya, ia langsung menghidupkan motor nya dan melaju ke arah tujuan.
"Yoga" panggil Floris
"Apa?! Yoga! Yoga! Gua lebih tua dari lo" tanya Yoga sedikit berteriak karena ia tengah mengenakan helm.
"Biarin! Gue gamau manggil lo kakak! "
"Ni bocil ngomong apa sih?! "
"YOGA! YOGA! YOGA! "
"DIEM WOY, LAGI BAWA MOTOR INI" teriak Yoga mulai frustasi membonceng salah satu keturunan manusia kera seperti Floris.
"IBUKKK! KAK YOGA KASAR! ARIS GASUKA! "
Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Kesabaran Yoga sudah menipis seperti tisu ketumpahan air. Ia menarik nafas panjang, bersiap siap mempercepat laju motor nya membuat Floris terdiam seketika.
'Tinggalin dijalanan dosa ga ya? ' monolog Yoga.
¤¤¤¤¤
"Besok kamu dijemput Yoga ya Ris"
Floris menghela nafas pasrah. Sudah sering ia mendengar kalimat itu dari Ibu nya. Tidak perlu diulang-ulang lagi kan? Dia masih ingat kok!
"Ibu, kok bisa satu arisan si, sama Mama nya Yoga? " tanya Floris gamblang.
Jidat paripurna Ibu nya berkerut. Heran dengan pertanyaan nyeleneh dari anak gadis nya ini. "Piye toh? Apa masalahnya sama kamu Ris? " Ibu Floris balik bertanya.
"Yakan Aris kepo"
"Kita kan tetanggaan sama keluarga Yoga dulu di Riau, masa lupa? " ucap Ibu nya semakin terheran-heran.
"Masa si? Aris kok gatau? "
"Bukan gatau, kamu itu pikun! " ujar Ibu nya yang mulai kesal.
"Iii tapi kan Bu, kenapa harus Yoga si, yang jadi anak nya tante Weni? " Floris masih hobi nanya nanya.
"Lah? Terus, kenapa harus kamu juga yang jadi anak nya Ibuk? Mau Ibuk kick dari kartu family? " ancam Ibu nya.
"Hehe, engga. Bilangin ke Yoga ya Bu kalo Aris gamau dijemput terus pas pulang sekolah" pinta Floris sembari memelas.
"Kok kamu panggil Yoga doang Ris? Harus nya panggil kakak. Lagian, kamu kalau ga dijemput gabakal pulang pulang juga, udah bagus di kick aja dari kartu keluarga" julid sang Ibunda.
"JANGAN! "
¤¤¤¤¤
See u next time!
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis takdir
Fiksi RemajaSeseorang mengabadikan kisah nya, seseorang telah merasa begitu kehilangan karna nya, seseorang bahkan masih mengingat nya walau 3 tahun telah berlalu. Ia, meninggalkan bekas jejak yang sulit di hapus oleh seseorang itu. Bahkan, hingga saat ini. "F...
