"𝐂𝐚𝐭𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐍𝐚𝐫𝐚"
Aku kira rasa ini telah melebur bersama waktu yang berputar. Tapi, ternyata aku salah.
Perasaan yang aku rasakan dimasa putih biruku masih tersimpan rapi di dalam relung hatiku. Hingga kini, rasa itu tidak pernah berubah ma...
Ini karya pertama author, jadi maaf kalau ceritanya terlalu klise. Dan saya minta tolong beri "Saran" dan "kesan" kalian terhadap cerita author🙏😇
Selamat membaca
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
__________
Nara memandang pantulan dirinya di cermin, ia telah mengenakan seragam lengkap dengan tas dipunggungnya, dan tak lupa riasan tipis diwajahnya.
Nara merupakan gadis yang memiliki wajah tidak cantik dan juga tidak jelek, Ia memiliki tinggi sekitar 150cm dan badan yang sedikit gemuk, bisa dibilang standar perempuan pada umumnya.
Ini adalah hari pertamanya ia bersekolah setelah libur semester ganjil.
"Ayo Nara, semangat. lo pasti bisa melewati hari ini dengan senyuman lo yang manisnya ngalahin pare," ujar Nara pada dirinya sendiri.
Nara pun mulai beranjak dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan. "Wah aroma masakan bunda memang bukan kaleng-kaleng," ucap Nara sambil berjalan menyusuri anak tangga.
Di atas meja makan sudah tersedia satu piring nasi goreng dan segelas air minum. "CEPAT!, SARAPAN!!, UANG SAKUNYA BUNDA TARUH DIATAS KULKAS," teriak Bunda Nara dari dapur.
"IYA BUNDA, GAK USAH TERIAK NANTI TENGGOROKAN BUNDA SAKIT!". Dirumah ini Nara tinggal bersama orang tuanya dan kedua kakaknya.
Bundanya bernama Anita Pramesti Adhirajasa dan Ayahnya Irfan Haidar Abraham. Kakak pertama Nara bernama Arsenio Bagas Adhirajasa dan kakak keduanya bernama Harsya Bachtiar Abraham.
Kedua kakak Nara sudah 6 bulan ini berada di negara orang, mereka berdua sedang menempuh pendidikan sekaligus mengurus usaha kakeknya.
Tiga puluh menit kemudian, Nara telah sampai di depan gerbang SMA JAYANEGARA. Di halaman sekolah sudah tampak ramai, banyak murid yang berbincang-bincang dan bercanda ria.
"Nara!" refleks Nara menoleh ketika ada yang memanggil namanya.
"Tumben, lo gak bareng Dhara?" tanya orang tersebut kepada Nara.
"Dia masih di kampung. Neneknya sakit," orang itupun menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia faham.
Ngomong-ngomong soal Dhara, Dhara Anika Putri merupakan sahabat satu-satunya Nara. Nara dan Dhara memang sudah bersahabat sejak kecil, karena rumah mereka yang bertetanggaan.
Nara dan Dhara sudah bersama-sama mulai dari TK hingga SMA, jadi tak ayal jika teman-temannya sudah tidak kaget dengan kedekatan mereka yang bagaikan perangko.
Nara mulai berjalan menuju kelas bersama orang tadi, dia merupakan teman sekelas Nara. Namanya Sela, ketua kelas sebelas ips 5, dia terkenal tegas dan tidak terbantahkan. Tapi terkadang sifat bobroknya bikin semua orang ngelus dada.