"Rini, ini adalah calon suami kamu,"
Arini terlihat shock mendengar hal tersebut keluar dari mulut ibunya sendiri. Sekarang bukan jamannya lagi jodoh-jodohan dan hal ini terlihat konyol untuk Arini.
Sebenarnya sedari tadi pintu terbuka dan sepaket keluarga ini datang sudah membuat Arini curiga. Apalagi ia melihat seorang lelaki di sana yang sangat tampan dan tinggi menggunakan baju muslim dengan kopiah hitam menambah indahnya pemandangan itu. Lelaki itu tidak menatapnya sedikitpun dan menghindari kontak mata langsung dengannya.
"Ma, mama jangan bercanda dong. Masa masih jaman sih perjodohan kayak gini," wajah Arini yang awalnya kebingungan berubah menjadi marah.
"Daripada kamu pacaran gak jelas nanti malah kamu sendiri yang menyesal. Mending mama cariin yang pasti dan yang bakal jagain kamu. Dia ini lulusan pesantren dan insyaallah bakal membawa kamu ke jalan yang lebih baik," kurang lebih begitu celotehan mama Arini yang membuat telinga Arini panas.
Ia sudah memiliki pacar di SMA-nya dan sudah pasti dia ingin menolaknya. Tapi terlalu sulit untuk membantah perkataan mamanya yang selama ini tidak pernah mengeluarkan nada tinggi padanya. Pertama kali ini ia melihat Mamanya se-serius ini saat berbicara padanya. Biasanya Mamanya memberikan pilihan padanya untuk menolaknya atau menerimanya. Namun, kali ini ia tidak bisa memilih, mungkin saja karena hal ini menyangkut masa depannya.
Arini tahu mamanya ingin yang terbaik untuknya, dia merupakan anak kedua dari dua bersaudara dan ia memiliki kakak yang sedang kuliah di Turki dengan beasiswa. Dia adalah anak perempuan satu-satunya, oleh karena itu mamanya sangat berhati hati jika menyangkut anak perempuannya itu. Namun, ini semua terlalu mendadak dan itu membuat Arini belum siap.
Akhirnya tanpa mengatakan apapun Arini pergi dari tempat duduknya di sofa dan masuk ke dalam kamarnya. Mamanya dan orang lain yang menyaksikan hal itu hanya terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Bu Tasya, tidak perlu dipaksakan saat ini kalau anak ibu belum mau,"
Tasya segera membantah hal tersebut
"Tenang saja, bu. Ia pasti terima kok. Mungkin sekarang dia Cuma lagi shock aja tiba tiba di jodohin. Mana mungkin tidak ada yang tertarik sama anak ibu yang sholeh dan ganteng ini," Tasya mencoba meyakinkan Naila tentang perjodohan anak mereka.
"hahaha bisa aja kamu, Tas. Ya udah jadi pernikahan anak kita empat hari lagi ya. Semua biaya biar kami yang tanggung, kamu Cuma perlu siapin anak kamu supaya tampil lebih cantik lagi,"
Rudy, adalah teman lama Tasya saat SMA. Mereka pernah mempunyai kesepakatan Bersama kalau misalkan mereka tidak bisa Bersama sebagai suami istri, maka anak mereka yang akan mereka jodohkan. Itu sebenarnya hanya perjanjian yang iseng mereka ciptakan dan mereka tidak menyangkan bahwa saat itu tiba.
"Iya aman, kupastiin anakmu ini akan terpesona sama anakku,"
Mereka melanjutkan bersendau gurau dan sedari tadi anak lelaki itu yang akan menjadi suami dari Arini tidak banyak bicara. Arini diam diam memperhatikan apa yang mamanya dengan orang tua mempelai lelaki itu bicarakan dan juga ia terus memperhatikan gerak gerik lelaki itu.
Selang beberapa kali ia memperhatikan, tidak ada yang mencurigakan dan lelaki itu tidak terlalu banyak bicara juga melakukan hal yang tidak perlu. Terlihat lebih tampan lagi jika diperhatikan lebih dalam.
Arini menjadi lebih tertarik dengan lelaki itu tetapi hanya sebatas itu. Ia masih setia dengan kekasihnya yang sekarang.
############
Arini sedang ngerumpi di kelas dengan teman-temannya, Sela, Lara, dan Cantika.
"Seriussss lu, Rin? Hahaha system jaman dah masih pake jodoh-jodohan, kuno banget," Lara tertawa sangat lepas.
Lara berpikir Arini hanya bercanda dan ia berhenti tertawa setelah melihat wajah sahabatnya itu semakin serius.
Kayaknya sohib gue beneran lagi ada masalah deh. Kasian bener.
"Apaan sih, Ra. Temen lu lagi ada masalah malah ketawa-ketawa,"
Sela kasihan melihat Arini sahabatnya yang biasanya paling cerewet ini tiba-tiba murung.
"Ya maap, gue kira Rini bercanda,"
"Udah ah males gue. Mana gue takut lagi mau bilang ke Reza,"
Reza Mahardika adalah pacar Arini dan merupakan anggota OSIS sebagai Kepala Seksi Pengamanan Siswa atau Kasipamsis. Tidak ada yang berani dengan Reza apalagi mendekati pacarnya yaitu si Arini. Selain badannya yang kekar, ia juga memiliki hak untuk menjatuhi hukuman ke siswa lain berdasarkan persetujuan ketua OSIS.
"Kenapa gak berani, siapa tau kan dia bisa kasih solusi atau mungkin bisa bantu lu buat gagalin pernikahan itu,"
Arini tertegun dengan saran Cantika. Mungkin ia bisa mencoba berkomunikasi seperti yang di bilang Cantika tadi.
"Ya udah gue coba bilang ke Reza, semoga aja dia bisa bantu,"
Baru saja Arini akan beranjak untuk mencari keberadaan Reza, anaknya sudah nongol di samping Arini sambil menarik tangannya dan mengatakan "ikut gue bentar,"
Sela, Lara, dan Cantika cuma pasrah temen mereka diambil sama Reza. Toh mungkins aja ada hal penting yang akan mereka bahas.
Sementara Reza membawa jauh Arini menuju taman di belakang sekolah dan mempersilakannya duduk di bangku taman. Reza mengikuti duduk dan merapat ke Arini. Arini merasakan ada kehangatan saat tangan Reza menyentuh tangannya. Namun, setelah ia memperhatikan raut wajah Reza yang Nampak serius, ia mengurungkan niat untuk bercerita kepada Reza.
"Maaf, Rin, gue udah ganggu ngobrol lu ama temen-temen lu, gue mau ngasih tau lu sesuatu yang penting banget,"
Arini menatap mata Reza lekat-lekat. Terlihat kecemasan dari cara dia menatap Arini.
"lu tenang dulu," Arini menenangkan Reza yang saat itu terlihat panik.
Setelah Reza terlihat tenang, Arini melanjutkan.
Sekarang coba lu pelan-pelan cerita ke gue,"
Reza mengangguk. Ia menunjukkan layar ponselnya dan menampilkan pesan Whatsapp percakapan ia dengan ibunya. Di pesan itu ibu Reza mengatakan kalau dia sudah mendaftarkan anaknya ke universitas di Jerman dan jika Arini melihat percakapan mereka, Reza akan berangkat dua hari lagi.
"ibu gue ngasih Taunya tiba-tiba banget," kata Reza dengan nada putus asa. Sepertinya ia tidak menduga kalau ibunya akan langsung mednaftarkannya kuliah keluar negeri setelah melihat nilai Reza yang terbilang bagus.
Kelas tiga sudah melaksanakan ujian akhir semester dan pengumuman kelulusan. Tersisa hari besok untuk wisuda dan pelepasan siswa dan siswi SMA Budi Bhakti. Dan bagi Arini besoknya lagi adalah hari pernikahannya yang ia rasa terlalu terburu-buru di rencanakan ibunya.
"Kalau itu cocok sama yang lu mau ya gapapa," Kata Arini menanggapi pernyataan Reza. Sepertinya ia sudah pasrah dengan keadaan ini. Ketika ia akan dijodohkan dengan lelaki lain, ternyata waktunya bersamaan dengan kekasihnya akan pergi jauh. Mungkin ini sudah takdir, pikirnya.
"tapi nanti kita bakal LDR-an dong," desah Reza tidak suka dengan keadaan ini. Arini mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang harus dia katakan. Ia sudah memutuskan untuk tidak mengecewakan mamanya.
"gak usah aja dulu," Arini memberanikan diri untuk mengatakannya. Ia tahu ini akan sakit.
"Maksudnya, Rin. Gue gak paham," Ujar Reza bingung dengan apa yang Arini katakan. "Lu gak akan bilang kita putus kan Cuma gara-gara ini?"
"engga kok, jalanin aja. Gue juga bingung mau gimana, yang penting lu belajar serius aja ya di sana," ucap Arini seraya menggenggam telapak tangan Reza. Hal itu membuat Reza terasa tenang. Bagi Reza hal ini menjadikan motivasinya untuk membahagiakan Arini kelak dan berbanding terbalik dengan Rini yang harus menjadikan ini titik terberaninya untuk melakukan sebuah Tindakan yang mungkin akan merubah hidup dia. Ia berharap apa yang dia lakukan ini adalah yang terbaik untuknya.
Kalo suka sama cerita aku jangan lupa vote ya dan komen apa yang kurang. biar bisa ku baikin. trus aku buka jasa bikinin crita satu aja buat satu orang tercepat yang menjadi orang tercepat yang follow dan komen ke aku
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Hebat
RomanceBaru aja lulus SMA udah nikah. Dijodohin lagi. Udah punya pacar juga. Ya pasti gak mau lah(awalnya). lanjutannya? ya baca aja sendiri. kontak lebih lanjut? WA : 085811215017 Ig : wahju_blablabla
