Siang itu cuaca cerah, tak begitu panas tetapi juga tak begitu sejuk karena angin tak sering berhembus. Gumpalan awan di langit juga hanya mengarak pelan. Tak ada langit kelabu atau gemuruh, yang ada hanya awan putih dengan beberapa burung yang melintas hendak bermigrasi.
Ya, cuaca hari ini biasa saja. Akan tetapi, bagi Ara cuaca seperti ini yang dikata luar biasa dan selalu ia harapkan tiap harinya. Hari cerah yang artinya Ara tak perlu menyipitkan mata tiap kali menunggu angkutan kota di pinggir jalan atau menyiapkan payung tiap kali gerimis mulai turun ketika ia akan pergi ke sekolah.
Ara kini sedang menatap keluar jendela kelas. Air mukanya tak menunjukkan ekspresi apapun. Lempeng seperti jalan tol.
5 menit berlangsung.
Pandangannya masih lurus ditambah ia tak berkedip sama sekali, padahal yang ditatap hanyalah tembok biru muda kosong tanpa ada siswa yang berani berkeliaran karena jam istirahat telah usai sekitar setengah jam yang lalu.
"Woi, bengong mulu. Awas aja ntar bisa nggak sengaja tatapan mata sama hantu sekolah hiii" Suara ngawur Manda memecah lamunan Ara.
Ara menoleh ke samping, dilihatnya Manda balik menatap ke depan sambil melanjutkan catatan biologinya yang sudah mau lembar kedua. Gila, nggak salah Ara berteman dengan Manda sejak SMP. Gadis itu pintar dan rajin. Walau kadang ia sering mengomel tiap kali Ara hilang fokus saat sedang dijelaskan, tetapi bisa dibilang Manda orang yang sabar. Gadis itu juga tak segan untuk menawarkan bantuan saat melihat Ara kesusahan dengan materi tertentu, lebih-lebih fisika. Yah, walaupun saat dijelaskan Ara lebih banyak tidak pahamnya. Kadang, jika Manda sedang malas dan tak peka, Ara perlu usaha ekstra untuk membujuk Manda supaya mau membantunya mengerjakan PR. Nggak muluk-muluk kok, cuma butuh sogokan seporsi mie ayam legendnya mang Hamdan. Itu saja, es tehnya dia yang beli sendiri.
Ara kemudian menimpali perkataan Manda barusan dengan berbisik lirih ke telinganya, "Kalo hantunya ganteng-" Ara diam untuk sesaat sampai Manda menoleh ke arahnya lagi dan ia baru melanjutkan kalimatnya. "yaa, boleh juga sih." Ara sontak terkekeh setelah mendapat satu pukulan pelan dari Manda.
"Terserah lo deh Ra, susah emang omongan sama cewek Virgo."
Sambil masih terkekeh, Ara lagi-lagi menatap keluar jendela kelas. Kali ini lain, ada pantulan bayangan yang samar terlihat di dinding koridor tersebut. Bayangan itu semakin mendekat, pelan dan semakin jelas. Ara tak berkedip. Untuk sekian detik Ara pikir itu beneran hantu, hingga kemudian ia baru sadar, hantu tak punya bayangan. Ah, dasar Ara lemot.
Bayangan itu ternyata milik bu Rina, wali kelas Ara yang melintas dan sepertinya hendak pergi ke ruang guru. Ara masih memandang tubuh semampai bu Rina sambil bertopang dagu. Tak lama, dahi Ara sontak berkerut, wajahnya mengernyit seketika. Kali ini bukan bu Rina yang membuat Ara melontarkan mimik wajah itu. Namun seseorang yang berjalan tak lama setelah bu Rina hilang dari pandangannya. Dia laki-laki dengan mata tajam, wajah putih mulus, serta bibirnya yang terlihat pucat. Tanpa disengaja atau entah bagaimana, ia dan Ara saling tatap sebentar. Ya, mata mereka bertaut sampai laki-laki itu juga menghilang di balik tembok. Aneh, belum pernah Ara melihat wajah itu, wajahnya terlihat asing.
Deg. Tunggu.
Ara langsung mengangkat kepalanya dengan cepat dan menatap ke depan, lebih tepatnya ke arah papan tulis.
Saking terkesimanya Ara lupa memperhatikan satu hal yang penting. Bayangan cowok itu. Mata Ara dibuat terbuka lebar setelah wajah cowok tadi tergambar dengan jelas dibenaknya. Ara menutup mulutnya tak percaya.
Ara menyenggol pelan tangan Manda sambil berkata dengan suara gemetar, "Man, cubit gue."
"Ish, apaan sih," balas Manda risih.
"Serius, cubit gue sekarang. Gue abis ngeliat hantu ganteng beneran di koridor depan tadi."
"Hah?" Tak tunggu lama, Manda langsung mencubit lengan Ara cukup keras sampai membuat Ara berteriak dengan suara yang melengking.
"Awww"
Pekikan suara Ara hampir membuat seisi kelas menatap ke arah mereka berdua, tak terkecuali bu Widya yang sedang mengajar di depan.
"Amora, kenapa teriak-teriak?" Tanya wanita itu perhatian.
"Ah- eng-enggak bu. Anu, perut saya tiba-tiba sakit nyeri. Aduh. Izin ke UKS sebentar boleh ya bu, sama Manda."
Mendengar namanya ikutan disebut, si empunya nama langsung mengernyit, tetapi akhirnya ikut juga keluar kelas bareng Ara.
"Yakin beneran sakit perut?" Tanya Manda ragu-ragu. Dari gestur dan wajah cengengesan Ara, Manda yakin 90% bahwa Ara hanya mengada-ada. Pasti ada alasan lain.
"Hehe enggak sih, mau mastiin tadi yang lewat orang beneran atau bukan."
Tuhkan benar. Manda berdecak kesal tak habis pikir, walau akhirnya tetap mengikuti Ara sampai ke depan ruang guru.
Keduanya kemudian mengintip dari jendela luar, gerak-gerik mereka terlihat begitu hati-hati supaya tidak ketahuan. Di sana mereka bisa melihat beberapa guru yang duduk di kursi, ada juga yang berjalan-jalan sambil membawa setumpuk kertas yang digenggam. Beberapa ada yang asik mengobrol dan yang lainnya sibuk dengan laptop masing-masing. Kemudian, manik mata Ara terhenti di satu tempat. Ada satu orang yang mencuri perhatian Ara saat itu, seorang cowok yang berdiri dekat meja bu Rina sambil membelakanginya kini. Ara lantas menghela napas lega sembari menoleh ke arah Manda dan tersenyum. Dia pasti cowok yang Ara lihat tadi.
Sambil menunjuk cowok itu, Ara berkata pada Manda, "Orang beneran ternyata."
Senyum Ara makin mengembang setelah melihat Manda manyun dengan wajahnya seperti sudah capek meladeni Ara yang makin ke sini makin membuatnya harus banyak-banyak menelan pil kesabaran.
"Dah kan, yuk balik kelas," ucap Manda masih dengan intonasi yang coba ia tahan.
Batin Manda, "Sabar, Man. Cewek sabar pacarnya dua. Amin."
"Eh, tunggu bentar, mau liat wajahnya sekali lagi. Ganteng loh."
Manda kembali berdecak kesal, entah untuk keberapa kalinya ia sampai lupa.
"Udah ah, yuk balik sekarang." Kali ini tanpa menunggu kata yang tak juga sempat Ara lontarkan, Manda langsung menarik tangan Ara gesit supaya segera beranjak dari sana. Pil kesabaran Manda mungkin hampir habis dan hanya tersisa rasa pahitnya saja sehingga sudah tak mempan.
Keduanya kemudian berlalu dari sana dan kembali ke dalam kelas, melanjutkan pembelajaran bu Widya yang masih satu jam pelajaran lagi. Kini, satu pertanyaan itu muncul di benak Ara.
Murid baru?
Di kelas Ara diam-diam senyum salting cukup lama. Tahu apa yang dipikirannya kini.
"Lumayan, vitamin mata di sekolah nambah satu."
🌌✨☁️
.
.
.
.
.
Hai hai temen-temen wp yang lagi baca cerita ini, semoga sehat selalu yaa.
Makasih banyak yang udah nyempetin baca, vote, dan coment di sini.
Maybe buat chapter 1 ini belum terlalu seru yh, makanya yuk baca ke next chapter karena masih banyak kejutan cerita dari Ara dan Angkasa yang menunggu xixixi 😍❣️
KAMU SEDANG MEMBACA
CONNECT.
Fiksi RemajaAra dikenal sebagai gadis SMA periang dengan garis mata yang ikut melengkung tiap kali ia tersenyum. Garis mata yang tak banyak orang tahu, ternyata juga menyembunyikan perasaan takut dan kalut tiap kali rima hujan bergemuruh. Semuanya tersimpan den...
