1. RINDU MAMA

38 2 0
                                        

Semoga suka.
________________

Hembusan nafas yang terengah-engah, serta tubuh penuh keringat yang kian mengucur bahkan sudah membasahi setengah badan Alya yang tengah dijemur disamping tiang bendera sekolah.

Tangan yang sejak tadi memberi hormat pada sang saka merah putih, belum lagi diturunkan. Pegal-pegal memang tapi Alya tak ingin diberi hukuman tambahan.

Akibat terlambat, Alya harus menerima konsekuensi yakni dihukum oleh pak Samsul, guru killer yang tak pandang bulu.

Jam mata pelajaran pertama berlalu, maka berakhirlah pula hukuman Alya. Dengan berlari sekuat tenaga ia ke kantin. Bodoh amat dengan mata pelajaran kedua. Alya yakin gurunya pasti akan ngaret seperti biasa.

Sistem hukuman sekolah itu memang tidak adil, masa hanya murid saja yang dihukum jika terlambat, tidak dengan guru yang terlambat

'Dasar pilih kasih.'

Mengambil satu botol air mineral di dalam kotak pendingin, Alya langsung meneguknya habis tak tersisa dalam sekali minum.

"Buset, itu minum udah kayak sapi," ujar Ita, penjual air mineral yang Alya minum.

"Uahhhh...."

Merasa lega, Alya hanya membalas senyum bu Ita. Segera ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan uang pas sesuai harga air yang di minumnya.

"Makasih ya tante."

"Sama-sama."

Sesampainya Alya di kelas, ia sudah ditunggu oleh beberapa murid yang sekelas dengannya.

"Mana buku tugas gue ?" Ujar Diza dengan nada tinggi.

"Ada di dalam tas," baru juga masuk kelas, Alya sudah harus menghadapi masalah lagi.

"Buruan ambil."

Alya segera membuka tasnya dan mengambil buku tugas milik Diza, ia memang diberikan amanah untuk mengerjakan pekerjaan rumah milik Diza dengan imbalan akan diberikan uang oleh Diza.

Dengan kasar Diza merampas buku dari tangan Alya, "nanti, gue bayar."

Tak bisa membantah, Alya hanya diam kemudian beranjak ke bangkunya. Bukan hanya sekali tapi sudah berkali-kali Diza begitu. Tapi nyatanya dari sekian banyak tugas yang dikerjakan oleh Alya tidak sebanding dengan janji uang yang ingin diberikan oleh Diza.  Nyatanya baru sekali Diza memenuhi janjinya.

Diza memberikan uang dua puluh ribu saat itu. Jika ditotal-total. Diza sudah harus membayar sesuai janji sebanyak lima ratus ribu. Tapi baru dua puluh ribu yang Diza beri.

Tidak banyak protes, bukan berarti Alya lemah. Hanya ia sudah lelah. Selagi masih bisa Alya kerjakan maka lebih baik ia kerjakan dari pada harus beradu tenaga yang akan lebih merugikan dirinya.

----

Hari melelahkan sudah Alya lalui di sekolah, sesampainya di rumah bukan suara lemah lembut yang Alya dapatkan melainkan bentakan luar biasa.

"Kamu sebagai suami ga ada tanggung jawabnya sama sekali," bentak Desi dengan suara serak.

"Jaga ucapanmu ! selama istriku masih hidup, seluruh kebutuhan di rumah ini terpenuhi dengan uang yang sama yang ku kasih juga ke kamu. Jika Amel bisa kamu juga harus bisa dong" Ujar Arman dengan suara tak kalah besarnya.

PLAK

"Aku bukan mantan istrimu yang sudah mati itu. Aku berbeda," jawab Desi, teriak. Setelah menampar Arman begitu keras.

Merasa sakit, Arman juga membalas Desi dengan tamparan yang tak kalah kerasnya. Alya yang melihat itu hanya bisa bersembunyi ketakutan sembari menutup mulutnya agar tidak kedengaran sedang menangis.

CERITA PENDEK (berbagai kisah)Stories to obsess over. Discover now