"Mbak, sudah minumnya, Mbak sudah habis tiga gelas loh." Si Abang pemilik kedai memberikan peringatan kepada Citra yang sudah menghabiskan tiga gelas cairan berwarna merah dengan busa yang mengembang. Rasa segarnya memang membuat ketagihan. Bebarapa bulan belakangan Citra sangat akrab dengannya. Rasa manis dan wanginya mampu membuat pikirannya tenang.
Malam sabtu kelabu ini ia habiskan di Kedai Bang Ijun bersama Nabila teman satu kampung yang mendadak akrab karena satu perantauan.
"Eh, Bang aye kagak bakalan mabok, kecuali ini bir pletok dioplos sama alkohol." Citra menatap si Abang yang dikenal dengan nama Bang Ijun alias Junaedi. Jika sedang galau ia selalu melarikan diri ke tempat itu.
"Minuman ini seratus persen halal karena terbuat dari rempah-rempah pilihan. Aye cuma ingetin nanti perutnya Neng Citra kembung kalau kebanyakan minum!"Bang Ijun tak ingin pelanggannya sampai sakit gara-gara minuman yang dijualnya.
"Cerewet amat sih Bang, harusnya Abang bersyukur ada pelanggan yang borong minuman. Bukannya selama ini gue selalu minum lima gelas" Citra menumpahkan kekesalannya. Bang Ijun terlalu cerewet. Pedagang macam apa dia.
"Bang, udah biarin aja, lagian aneh banget sih masa iya pedagang ngelarang-larang konsumennya minum banyak. Pembeli itu raja. Kite pasti bayar kok." Nabila yang sengaja menemani Citra menghentikan aksi Bang Ijun yang tak terpuji menurutnya
"Sesuatu yang berlebihan tidak baik, Abang hanya mengingatkan, asalkan Neng Citra kagak knape-nape ya silahkan. Tapi kalo ada ape ape, silahkan tanggung sendiri." Bang Ijun tetap saja memberikan nasihatnya. Sebagai pedagang yang baik ia tidak ingin selalu memikirkan keuntungan pribadi.
Tiba-tiba datang pelanggan baru, seorang wanita cantik dengan blazer. Ia nampak lelah, meski penampilannya tetep cantik dan wangi. Ia memindai kedai berukuran empat kali delapan meter itu. Hanya ada empat pengunjung, Citra, Nabila dan juga sepasang sepasang lansia di pojokan.
Nabila diam-diam memperhatikannya. Aneh sekali wanita cantik dengan pakaian rapi dan wangi malah mampi di kedai Bir Pletok bukannya melipir ke Bar atau Cafe sekalian klub malam, sangat tidak cocok.
"Hai, kamu Citra kan?" Tiba-tiba wanita itu menghampiiri Citra dan Nabila.
Citra pun menoleh.
"Mbak Sania apa kabar? Waduh makin cantik aja." Citra segera memperhatikan penampilan wanita muda yang disapa dengan sebutan Mbak Sania itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia lantas berdiri dan bercipika cipiki. Nabila pun tercengang karena ternyata wanita itu kenal dengan Citra.
"Alhamdulillah sehat. Gak nyanka banget bakalan ketemu di sini." Sania tersenyum ramah memamerkan deretan gigi putihnya.
"Bil, kenalin ini Mbak Sania." Citra melirik ke arah temannya yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi keduanya.
"Nabila." Gadis berambut ikal itu mengulurkan tangannya dengan melempar sebuah senyuman kecil. Nyalinya sering ciut jika bertemu wanita cantik. Maklum saja ia dikategorikan berpenampilan pas-pasan.
"Sania." Dengan penuh percaya diri, Sania mengulurkan tangannya. Bagaimana tidak percaya diri, wanita dua puluh enam tahun itu adalah wanita karir dengan penghasilan tinggi di sebuah perusahaan terkenal. Belum lagi kecantikannya yang seperti bidadari dari kahyangan.
"Ayo, kita minum."
"Makasih."
"Bang, Bir pletok satu ya sama kerak telornya."Sania segera memesan makanan.
"Siap, Neng!"
"Sekarang kamu kerja dimana?" Sania menatap Citra, memperhatikan penampilannya..
"Aku jadi Babysitter." Citra menghela nafas seolah pekerjaan yang dilakoninya itu sangatlah berat. Tentu saja karena itu bukan pekerjaan impiannya.
YOU ARE READING
Pengabdi Cogan
RomanceGara-gara hendak dijodohkan dengan anak tetangganya yang sedikit kurang waras Citra Adelia pergi meninggalkan rumah dan bekerja di Ibukota menjadi babysitter anak seorang artis terkenal bernama Ayu Kenanga. Meski majikannya artis terkenal dan baik h...
