MIMPI PERTAMA

7 1 0
                                        

Dini hari yang sunyi... kebanyakan penghuni bumi kini mungkin tengah tertidur pulas, melepas rasa lelah setelah seharian bergelut dengan urusan duniawi. Ada yang tengah bermimpi bumi tiba-tiba ditimpa hujan uang, ada yang bermimpi bertemu dengan sang pujaan hati, ada yang memimpikan hal sesedarhana membeli makanan favoritnya. Tak jarang juga yang mimpinya terasa mencekam entah karena rasa ketakutan atau kehilangan.

"Tolong..." ucap lirih gadis yang kini tengah terbaring di kasurnya dengan keadaan mata masih tertutup sembari mengangkat kedua tangannya seolah tengah mencoba meraih sesuatu.

Gadis itu terus menggerakkan kepala-nya ke kiri lalu ke kanan dengan ekspresi takut yang tergambar jelas di raut wajahnya. Hingga akhirnya ia tersentak bangun, perlahan ia mulai membuka mata dengan nafas yang masih terengah-engah. Kedua matanya kini terbuka lebar, ia melihat sekeliling dan menyadari kalau dirinya tengah berada di kamarnya sendiri. Gadis itu menghela nafas lega sambil mengusap-usap wajahnya mencoba untuk melupakan mimpi barusan. Sempat terbesit rasa heran dalam dirinya karena biasanya dia bahkan tidak ingat apa yang dimimpikannya saat malam. Namun kali ini beda, bahkan perasaan takut masih menyelimutinya beberapa menit setelah terbangun dari mimpi buruk tadi. Melirik jam yang masih menunjukkan pukul 3 pagi ia pun memilih untuk kembali meringkuk di atas kasurnya agar besok bisa bangun pagi untuk bekerja.

***

Lengkap dengan kemeja putih tulang polos serta celana kain coklat favoritnya, Andara menyisir dan menggelung rambutnya asal setelah melirik jam sudah menunjukkan jam 08.45. sedangkan tempatnya bekerja mulai beroperasi pukul 9 tepat. Di tengah kesibukan Andara pagi itu, rumahnya terlihat sudah kosong karena orangtua nya sudah berangkat sejak jam 7 pagi ke pabrik milik keluarga yang mereka kelola sendiri. Sedangkan adiknya harus sampai di sekolah sebelum pukul 7 pagi. Meskipun tergesa-gesa, gadis itu sempat melirik meja makan yang di atasnya ada sisa nasi goreng dan terlur goreng. Karena takut terlambat, Andara memilih untuk memindahkan sisa menu sarapan pagi tersebut ke dalam kotak makannya dan membawanya ke tempat kerja. Selesai mengepak makan siangnya, ia pun langsung melesat sambil meraih dompet berisi uang dan ponsel yang ia taruh di atas dipan serta tak lupa botol minum yang jadi suporter utama Andara dalam menjalani hari.

***

Baru saja keluar dari pagar, Andara langsung disambut dengan teriakan melengking.

"Raaaa," teriak seorang gadis bertubuh langsing dan mungil dari kejauhan.

Andara menoleh dan memperhatikan gadis itu dari kejauhan, ia sudah kenal betul dengan siempunya suara. Siapa lagi kalau bukan Anjani, teman kecilnya yang lebih tua tiga tahun dari Andara.

"Masih pagi jangan teriak teriak, dimarahin orang kampung baru tau rasa kamu," ujar Andara sesaat setelah Anjani akhirnya berjalan di sampingnya.

Anjani yang usianya lebih tua dari Andara justru terlihat lebih cocok menjadi adik dari gadis itu, karena jika dijejerkan tinggi badan Anjani hanya mencapai pundak Andara.

"Udah kebiasaan... gimana gimana?," Anjani tiba tiba mendekatkan kepala ke arah tubuh Andara seolah menuntut jawaban untuk pertanyaan yang ia lontarkan tiba-tiba itu.

"Gimana apanya?," tatap heran Andara.

"Ya.. gimana ada perkembangan gak soal percintaan atau soal apa gitu? Perasaan kalau kita ngerumpi tuh aku doang yang cerita."

"Kamu tuh setiap hari kan ketemu aku, ya pasti tau dong keadaan aku ya gini gini aja, hidup ku ya gini gini aja."

Anjani menatap gadis itu prihatin yang malah membuat gadis itu risih. "Sayang banget tau, kamu tuh cantik, pinter, lulusan universitas ternama masa kamu mau disini aja doang? ga ada keinginan mau kemana gitu?."

"Keinginan pasti ada lah, tapi kamu tau kan gimana keadaan aku sekarang."

"Emang kalau minta ke ortu gabakal dikabulin permintaan kamu? Mereka kan termasuk orang orang sukses di kampung ini, aset juga dimana-mana."

"Ga semudah itu sih, aku gabisa ninggalin tanggung jawab aku disini."

Anjani menghela nafas pasrah tau betul kalau percakapan mereka sudah tidak bisa diteruskan karena Andara bukan tipe orang yang mudah dibelokkan sedikitpun terutama saat ia sudah benar-benar tau apa yang diinginkannya. "Iya sih."

Mereka terdiam sejenak sambil melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing, hingga akhirnya Andara menyadari kecanggungan di antara mereka dan mencoba untuk mencairkan suasana.

"Gimana kehidupan setelah nikah?."

"Ya gitu itulah, ada seneng ada dukanya, kan udah aku ceritain ke kamu semua."

"Iya sih, beruntung kamu itu bisa dapet cowok tulus kayak Jaya dijaman kayak gini."

"Aku gapernah lupa bersyukur kok, tenang aja, semoga kamu juga suatu saat nanti nemu yang kayak dia."

"Amin."

"Kalo misal ntar aku tiba tiba pindah dari desa ini gimana Ra?."

"Aku sendirian dong," keluh Andara.

"Makanya sana sering sering bergaul sama orang biar ga aku doang temenmu," canda Anjani.

"Bergaul sama siapa? Sama bocah bocah? Orang remaja menjelang dewasa disini udah hampir punah, udah pada nikah semua."

"Makanya kamu nikah dong, heran banget deh padahal solusinya gampang," protes Anjani.

"Enteng banget kamu ngomongnya, andai aja segampang itu tinggal nikah aja udah kelar semua problematika dalam kehidupan ini," cerocos Andara.

"Emang gampang kok, kamunya aja kali yang mempersulit diri sendiri," timpal Anjani dengan nada sedikit mengejek.

Andara tertawa miris membenarkan ucapan Anjani barusan. "Tapi sadar nggak sih Ni? Kalo kebanyakan orang sini yang bukan pendatang sampai sekarang masih tinggal disini semua beserta anak-cucu nya. Mau nikah kek, mau merantau, kuliah atau kerja keluar kota, endingnya selalu balik lagi kesini dan akhirnya milih buat hidup disini. Seolah-olah nih desa tuh ada pagar tak kasat matanya tau."

Anjani menatap Andara serius namun tiba-tiba tawanya pecah, ia menyenggol lengan sahabatnya itu. "Khayalan mu ituloh tinggi banget, mana ada pagar tak kasat mata, ada ada aja ini orang, kamu tuh kebanyakan baca novel novel tuh."

"Ih tapi coba pikirin lagi deh omongan aku." Andara dalam hati sebenarnya juga tidak yakin dengan apa yang barusan keluar dari mulutnya pun kenapa dia tiba-tiba terpikir hal tersebut.

Anjani diam sejenak, "Iya juga sih kalo dipikir-pikir, mungkin mereka udah nyaman kali Ra disini."

Andara menganggukkan kepala pelan seolah tengah menimang-nimang pendapat Anjani. "Nyaman ya? Hmm perasaan nyaman itu yang justru selama ini bikin aku takut Ni, takut kalau aku ikut terlena dan melewatkan kesempatan buat lihat dunia luar cuma karena aku ngerasa nyaman disini. Selama disini rasanya hidupku kayak jalan di tempat, aku sadar tapi sering juga perasaan nyaman itu datang, perasaan nyaman itu yang bikin aku yakin kalau aku bakal baik-baik aja selama aku disini. Padahal sebenernya aku udah mulai ngerasa sesak disini, serasa perlahan mulai terikat dan terhalang sama pagar tak kasat mata itu."

Anjani menelan ludah, tidak menduga kalau Andara tiba-tiba membicarakan hal yang cukup serius dengannya. Mulutnya beberapa kali terbuka lalu tertutup kembali seolah-olah ragu akan kata-kata yang akan dilontarkannya.

"Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa keluar dari sini dan menikmati hidup kamu."

Andara tersenyum tulus, sebelum matanya tiba-tiba tertuju pada salah satu rumah yang mereka lewati dalam perjalanan menuju tempat kerja. Andara menghentikan langkah dan berdiri membeku dengan tatapan mata lurus menuju arah rumah yang menarik perhatiannya itu.

Anjani yang sadar kalau Andara sudah tidak ada di sebelahnya pun menoleh ke belakang, ia berlari menghampiri gadis tersebut.

"Ra? Kenapa Ra?," ujarnya sambil menggoyangkan badan gadis yang tengah berdiri sambil melamun itu.

Andara yang tersadar dari lamunan langsung menoleh ke arah Anjani, "Eh... N-nggak nggapapa kok."

Anjani masih menatapnya heran, sedangkan Andara langsung menggandeng tangannya dan menggeret tubuh mungil Anjani untuk melanjutkan perjalanan mereka untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan lain dari Anjani. 

TERJEBAKWhere stories live. Discover now