Pukul 02:15 dini hari, dimana semua orang di bawah langit malam kota bandung sedang terlelap dalam lautan mimpi namun itu tidak berlaku untuk salah satu penghuni rumah di komplek perumahan panurèja kota bandung. Duduk termenung di depan jendela kamar di temani dengan tiga cangkir kopi yang dua cangkirnya sudah kosong, memandang lampu jalan yang kerlap kerlip. Pasti bentar lagi bakalan mati.batinnya sambil mengamati lampu jalan yang lama kelamaan semakin meredup
Tak
beberapa saat memandang akhirnya lampu jalan itu mati di sertai percikan api yang untungnya terhalang kaca yang mengelilingi bola lampu itu, orang yang mengamati lampu itu tergelak mengetahui tebakannya benar
amantha namanya. seorang gadis yang sedang duduk di depan jendela dengan memandang lampu jalan selama tiga puluh menit lamanya. Selesai dengan urusan –mari mengamati lampu jalan– amantha mengambil sebuah novel di rak yang di penuhi dengan buku sambil bergumam kecil
"pasti nanti bi alma ngomel ngomel kalo tau lampunya yang ke tiga almarhum" dia menggeleng pelan menepis pemikiran konyol yang bersarang di otaknya
jemari lentik itu mulai membuka lembar perlembar halaman dari novel yang dia pegang. sejenak dirinya berpikir kenapa dia malah terlihat seperti anak senja yang sering menggalau di depan jendela, membaca sajak ditemani secangkir kopi? ah ralat tiga gelas kopi?. buru buru dirinya membereskan kembali novel yang sempat dia baca dan beranjak dari kursi menghampiri ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya di sana
"besok sekolah setelah satu tahun online… astaga kenapa gw segugup ini, harusnya gw harus santai dong besok hari pertama sekolah tatap muka bukannya excited malah gemeter kayak gini" amantha mengusak rambutnya frustasi dan langsung menyambar handphone di sebelahnya dan mendial kontak dengan nama 'lele berkumis'
panggilan pertama suara operator yang terdengar, tidak menyerah amantha kembali mendial kontak itu kembali, sampai pada panggilan ketiga baru terdengar suara gerusuk dari telepon
"mau apa lo nelpon gw di pagi buta kayak gini!"
amantha sedikit tersentak ketika gendang telinganya mendengar suara bentakan dari seberang telpon sana disertai suara orang yang sedang menguap sangat kentara karena keadaan yang lumayan hening. memperbaiki posisi tidurnya amantha menjawab panggilan telepon itu dengan suara pelan
"dengar … gw gak bisa tidur" hening sesaat membuat amantha mengerutkan dahinya heran dan melihat kembali layar ponselnya. masih tersambung. batinnya
"lo nelpon gw di jam setengah tiga pagi cuman buat bilang belum tidur?"
"ya, iya" amantha menjawab dengan nada ragu ragu
"bukan urusan gw lo mau belum tidur semalaman, mau lo kayang di atap pun gw gak peduli"
"jahat sekali, gw itu lagi nervous tau besok kita sekolah dan nanti ketemu banyak orang"
"lo itu cuman mau pergi ke sekolah bukan ke medan perang gak usah alay deh mending sekarang lo tidur dan gak usah ganggu gw lagi enak enak tidur"
"tega bener lo sama gw teman macam apa lo menelantarkan bestie lo yang lagi curhat"
"bodo amat"
baru saja amantha akan menjawab namun panggilan telepon itu telah dimatikan terlebih dahulu membuatnya mencak-mencak sambil menatap kesal layar ponselnya. tanpa mau memikirkan apapun amantha lebih memilih meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sambil menunggu mentari memancarkan sinarnya
•
•
•
"pak yadi ini kenapa bisa meledak lagi lampunya?!!" seorang emak emak terlihat mengomeli pria paruh baya yang berada di bawahnya, iya emak emak itu sedang naik di atas tangga memperhatikan lampunya yang kembali meledak usai diganti oleh pak yadi yang kini hanya bisa menunduk sambil berkomat kamit
YOU ARE READING
oh mantha
Teen Fictioncerita tentang cinta lara kasih seorang amantha danuar mandhanu. tentang bagaimana perasaanya yang di tarik ulur bagaikan layangan dan di istimewakan bagai martabak spesial oleh seorang caspian haskal kalingga yang bahkan tidak ada status yang jelas...
