Coklat bersekolah di SMA SENAWAN yang termasuk sekolah ternama di Kotanya. Di temani empat temannya membuat Coklat mampu berdiri gagah di setiap badai yang menerjang. Contohnya saat ulangan matematika.
Rasanya ia hampir menangis melihat soal itu, kalau saja bukan karna tak mau pisah dari teman temannya pasti ia sudah pindah dari lama.
"Ayo coklat, lo pasti bisa" ujar Zena sambil mengangkat tangannya yang terkepal
Coklat menghela napas gusar. "Gue mau nyerah"
"Gak! Lo harus kuat" ujar Kezia dan diangguki oleh Fela
"Ingat, kalau lo nyerah berarti persahabatan kita patah" ancam Fela
Coklat tau itu hanya gurauan semata untuk mengancamnya, cuma sekarang otaknya tak bisa diajak berkompromi ketika dihadapi soal matematika pemberian Pak Ghulo.
Coklat teringat perkataan Cinta semalam. Bahwa Hexan juga bersekolah di tempat yang sama dengannya, ia takut jika Hexan tau jika mempunyai predikat ranking yang rendah.
Coklat menggeleng kuat dan mulai mengumpulkan semangat yang membara dalam dirinya untuk mengerjakan soal ulangan matematika itu.
Di sela mereka yang berusaha menyemangati Coklat, ada Pak Ghulo yang sesekali menguap bosan mengamati tingkah muridnya.
Tak lama kemudian, Coklat menyerahkan soal ulangannya dan mengajak teman temannya ke kantin bersama.
Di kantin yang ramai tak membuat mereka menyerah melawan lautan manusia itu. Rasa lapar yang menyiksa membuat mereka bersemangat memesan makanan dan berebut tempat duduk dengan orang orang.
Setelah makanan datang, mereka langsung melahapkan makanan ke dalam mulut dengan rakus.
Perhatian mereka teralihkan dengan suara cempreng di sebelah meja mereka. Seorang siswi berpenampilan menor yang bergelayutan pada lengan siswa cool berekspresi dingin.
"Hexan, gue suapin ya" ucapnya manja
Coklat yang mendengar itu tiba tiba memanas dan menunduk.
Teman temannya yang paham segera pasang badan.
"Nama dia siapa? " tanya Fela
"Kalau gak salah Clara, kelas sebelah" jawab Zena
"Emang gatal ya tu cewe" sindir Kezia dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Kayak tante girang" sambung Kezia sambil melirik sekilas ke Clara yang juga menatapnya
"Hushh.. Gak boleh gitu" tegur Coklat
"Ya.. Lucu aja liat orang kek gitu, ke sekolah kok dandannya menor gitu" ujar Zena sambil tertawa
Brakk
Meja mereka di gebrak oleh Clara yang memasang ekspresi marahnya.
"Apa lo bilang? Coba ulang" bentak Clara
Kezia mengernyit. "Bilang apa? "
"Jangan sok polos, lo nyindir gue kan? "
Mereka berempat diam.
"Halah cupu! " ejek Clara
"Lo ngerasa kami nyindirin lo? " tanya Fela tenang
Hawa panas makin terasa, membuat Coklat gelisah dan menatap Hexan yang juga menatapnya sekilas.
"Kami gak paham maksud lo ngelabrak gini, tapi kalau lo ngerasa bahan ghibah kami tentang TANTE TANTE tadi, berarti IYA itu LO" ucap Fela dan menarik teman temannya menjauhi keramaian.
"WOY, CUPU! LO IRI BILANG" teriaknya
Mereka tak menggubris itu, tetap melanjutkan perjalanan menuju kelas.
🌿
Sepulang sekolah, Coklat sesekali menyapa tetangga komplek yang berpapasan dengannya.
Dari kejauhan Coklat dapat melihat Ghina yang sedang menyapu halaman.
Ia berniat untuk menyapa dan sekedar menanya kabar, bonusnya bertemu Hexan.
"Hai, Tan" sapa Coklat membuat Ghina mendongak sambil tersenyum.
"Hai.. Coklat" balas Ghina
"Apa kabar, tan? " tanya Coklat dan mencium tangan Ghina
"Baik. Kamu tambah cantik ya"
Coklat tersipu. "Aduh.. Dipuji camer"
"Tante tambah cantik juga" ucap Coklat sambil terkekeh
"Ah.. Masa iya? Kata Hexan tante tambah tua, lho.. " adu Ghina sambil berbisik
"Hah? Engga kok, mungkin dia itu takut kalah saing sama tante yang keliatan awet muda ini" ujar Coklat memanas manasi
Ghina tertawa. "Ada ada aja kamu. Satu sekolah sama Hexan, ya? "
"Iya tan" jawab Coklat
Ghina mengangguk paham.
Coklat melirik ponselnya sekilas. "Hm.. Iya, tan. Coklat pulang dulu ya"
Ghina tersenyum. "Iya.. Lain kali main ke sini ya temenin Hexan"
Coklat tertawa dan melangkah menjauhi Ghina. Ia membuka pagar dan menguncinya kembali. Pulang pulang ia disambut aroma ayam bakar kesukannya. Selera makannya bangkit membuat ia dengn tidak sabaran membersihkan diri dan turunan ke meja makan.
Seusai makan, ia naik kembali ke kamarnya untuk membaca buku lebih tepatnya novel. Bayang bayang Hexan menghantui dirinya membuat jantungnya terus berdegup kencang.
"Hexan? "
"Kamu gak boleh main sama mereka lagi" larang Hexan
"Kenapa? " tanya Coklat polos
"Kalau kamu main sama mereka, pasti aku dilupain. Cukup sama aku aja, titik" jawab Hexan tegas sambil mengeratkan genggamannya pada tangan Coklat
Ketukan pintu menyadarkan Coklat dari lamunannya. "Buka aja" teriak Coklat
Cklek
"Kak, ada Bang Hexan di bawah" ucap Srikaya -adik Coklat
Coklat terkejut. "Hah? "
"Iya. Mama lagi gak ada, kakak aja ke sana lah"
"Yaudah" balas Coklat dan segera turun menuju ruang tamu
Ia melihat Hexan membawa sesuatu di genggamannya.
"Hexan? "
Laki laki itu pun berbalik dengan ekspresi khasnya.
Coklat menahan napasnya sejenak melihat betapa tampannya teman kecilnya ini.
"Ini dari Mama" ucap Hexan menyodorkan kotak yang berukuran lumayan besar.
"Oh! Terima kasih" ucap Coklat menatap kotak itu dan tak lupa dengan tersenyum. Jantungnya berkali kali berdegup kencang dengan bertemu langsung seperti ini.
Tak lama kemudian, Hexan pulang membuat Coklat bisa berteriak sebebasnya saking bahagianya.
"Berisik, kak" tegur Srikaya
"Diam lu bocah" ketus Coklat sambil senyam senyum tak jelas
YOU ARE READING
HEXANIO
Teen FictionDulu. Coklat selalu berusaha mendapatkan Hexan. Disaat Coklat sudah menyerah, kenapa Hexan baru menyadari bahwa Coklat telah berhasil memiliki hatinya? Kenapa ia baru menyadari bahwa Coklat merupakan sebagian dari jiwanya? "He-hexan? Ini bukan...
