"Gimana dengan yang itu?"
Aku dan Caca sontak mengikuti arah pandang Putri, menyapu sudut area coffee shop berlogo putri duyung warna hijau ini sebelum akhirnya pandangan kami hinggap di area kasir, di mana seorang pria berkemeja putih dan berdasi warna maroon sedang memesan kopi. Dia bersandar ke meja konter, mengeluarkan dompet warna abu-abu. Abu-abu? Kenapa tidak hitam atau coklat?
Ini adalah ide Putri. Menurut dia ini adalah ide cemerlang untuk mendapatkan pacar idaman. Definisi lebih tepat menurut dia adalah 'pacar idaman kelas kakap'. Iya, aku nggak ngerti apa ada juga definisi pacar idaman kelas teri.
Sudah hampir sebulan ini sehabis makan siang, yang kami sikat sekilat petir menyambar, kami selalu nongkrong di sini. Di coffee shop bak para eksekutif muda beneran. Walaupun aku jauh dari kategori eksekutif muda. Aku hanya seorang sekretaris junior, dari seorang sekretaris yang pangkatnya sedikit lebih senior dari aku dan di atasnya barulah sekretaris yang bisa dikatakan senior. Kelas kakap beneran. Namanya Bu Rina. Umur? Entahlah. Tapi dia bisa aku samakan dengan umur Ibuku, dengan kejudesan 20 kali lipat. Ibuku tidak pernah judes, kecuali kalau aku pulang malam. Atau tidak menghabiskan makanan. Atau kalau melihat kamarku berantakan. Atau dulu kalau aku malas mengerjakan PR. Oke, baiklah. Ibuku Judes, tetapi dalam kondisi tertentu. Bu Rina adalah tipe unpredictable human being. Bahkan supir bajaj pun tidak akan mampu menebak mood-nya.
Balik ke kopi, dan misi mendapatkan pacar idaman kelas kakap. Sudah hampir sebulan, jangankan pacar, lelaki yang bisa masuk kategori sebagai pacar pun belum dapat. Maksudku, karena sejauh ini tidak ada yang melirik kami. Kami hanyalah kumpulan tiga wanita mengenaskan yang ingin mendapatkan lelaki. Eh bukan aku, karena aku hanya ikut-ikutan, ditarik kedua sahabatku yang berakibat bocornya dompet tanpa terkontrol.
"Sudah punya istri," kataku malas, lalu menyeruput americano yang tinggal setengah. Setiap hari aku memesan americano, karena minuman ini adalah yang paling murah di sini. Di samping, aku butuh asupan kafein supaya mataku bisa bertahan sampai sore nanti dan menghadapi kejudesan Bu Rina. Aku sering bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang membuat dia harus sejudes itu? Padahal Pak Hardiman, bos besar perusahaan kami orangnya sangat baik, ramah dan kebapakan. Aku bahkan tidak pernah melihat beliau marah sedikitpun. Mungkin semua kemarahan Pak Hardiman sudah diwakili oleh Bu Rina.
"Dari mana lo tau?" sahut Putri.
Aku meletakkan paper cup americano, menoleh ke arah Putri dengan malas. "Gue nggak tau."
Putri membalas dengan memonyongkan mulutnya, kalau aku hitung mungkin panjangnya lebih dari lima senti.
"Kita ngapain sih, tiap hari harus ke sini?"
Kali ini Caca yang menoleh, memberikan pandangan 'masih nggak ngerti juga anak ini' ke arahku.
"Mungkin pakai dating app bakalan lebih bersahabat. Maksud gue bersahabat ke kantong. Pake tinder atau apalah itu."
"Udah capek gue tinderan, cowok nggak dapet, yang ada gue banyak di grepe-grepe mulu setiap kopi darat. Gue yakin ujung-ujungnya mereka cuman bakalan ngajak tidur."
Aku mengkeret mendengar kata tidur, bukan karena tidurnya, tetapi tidur dengan lelaki. Bisa didamprat sama emak kalau sampai aku ketahuan tidur dengan lelaki sebelum saatnya.
"Tapi kalau cowoknya kece, kayak Nicholas Saputra, masa elo nggak mau tidur sama dia," Caca mengedipkan mata dengan jenaka. "Eh, dia punya six packs loh."
"Cowok kayak Nicholas Saputra mana mungkin bakal main tinder."
"Jadi kesimpulannya cowok yang bermain tinder adalah kelas looser," timpalku santai.
Caca mengedikkan bahu, sedangkan Putri mulai memindai keadaan sekeliling dengan mata sigap bak elang sedang mengintai mangsa. Mengalahkan sepasang mata Jason Bourne yang sedang mengevaluasi keamanan.
YOU ARE READING
I COFFEE YOU
Romance"I am just a boy, standing in front of a girl, asking her if I could kiss her." Bagi Diandra mencari pacar adalah hal terakhir yag dia pikirkan dalam hidupnya, apalagi mencari pacar yang mengakibatkan dompet pailit. Buatnya yang masih berusia muda...
