Prolog

274 60 15
                                        

20 tahun yang lalu.....

Lisa masih berumur 8 tahun waktu itu. Gadis kecil itu tengah duduk dengan rambut dikepang dimeja makan.

Matanya berbinar penuh bahagia melihat makanan yang begitu banyak untuknya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya dan ibunya telah menyiapkan semua makanan kesukaannya diatas meja makan.

"Mom, apakah Daddy akan pulang?"

Ibunya tersenyum sembari memasangkan celemek makan didadanya.

"Ibu kurang tau sayang. Daddy mu belum memberi kabar apapun."

"Ku harap Daddy tidak melupakan ulang tahunku."

"Tentu saja tidak sayang. Mommy yakin kalau Daddy mu pasti membawa hadiah yang banyak!"

"Yyeeeyy! Aku tidak sabar Mom!"

Ibunya terkekeh dengan tingkah Lisa yang begitu menggemaskan. Gadis kecil itu mulai makan makanan yang ada di meja.

Meja makan kembali hening kala keduanya sibuk mengisi isi perut hingga beberapa menit kemudian terdengar suara tembakan dari arah luar.

Lisa menatap ibunya bingung. Sedangkan sang ibu segera menghampiri Lisa kecil.

"Ada apa mom?"

Sang ibu menangkup wajah Lisa dengan gemetar, "ikut mom." Bisiknya.

Lisa yang polos pun hanya bisa mengikuti kemana ibunya pergi.

Keduanya masuk kedalam sebuah ruangan yang Lisa tidak tahu apa itu. Karena ini adalah pertama kalinya Lisa kesini. Terlebih lagi, Lisa baru tahu kalau ada ruangan tersembunyi didalam rumahnya.

"Mom?"

"Ssssstttt."

Ibunya menyuruhnya diam. Lisa pun diam dan tidak ingin bertanya lagi.

Ibunya membawanya masuk kedalam sebuah lemari yang menurut Lisa sangat sempit.

"Kenapa mom tidak masuk?" Tanya Lisa saat sang ibu malah keluar dari lemari.

"Tunggu disini ya, sayang. Jangan keluar apapun yang terjadi. Kau mengerti kan sayang?"

"Lisa mengerti mom." Lisa pun memundurkan dirinya dan sang ibu pun mulai menutup pintu.

Lisa menggeser pakaian yang menghalanginya sedikit demi sedikit hingga cela pintu lemari pun ia bisa melihat dari dalam, apa yang terjadi diluar.

Lisa kecil sedikit tersentak saat melihat ibunya memegang pistol yang mengarah ke pintu. Lisa tahu barang yang dipegang ibunya itu pistol, namun Lisa jelas tidak untuk apa ibunya menggunakan pistol saat ini. Lisa yang tidak tahu apa-apa dengan keadaan diluar, hanya bisa berharap bahwa ibunya baik-baik saja.

Suara gebrakan pintu membuat Lisa menyipitkan matanya. Guna melihat apa yang terjadi diluar. Lisa melihat ibunya melangkah mundur dengar pelan. Penasaran, Lisa pun menoleh ke kiri guna melihat apa yang membuat ibunya melangkah mundur seperti itu.

Lisa mencengkeram pakaian yang menggantung tanpa sadar. Ada lima orang yang menodongkan senjata pada ibunya.

Lisa nekat untuk keluar, namun gelengan pelan dari ibunya membuat Lisa berhenti. Tanpa sadar air matanya jatuh.

"Katakan, dimana suami saat ini?!"

"Aku tidak tahu."

"Bohong! Apa kalian sudah menemukan apa yang kita cari?"

"Sudah tuan. Memori kecil ini kamu temukan disisi pot bunga kamar anak kecil."

"Oh, kau punya anak rupanya. Cepat carikan anak itu! Aku yakin, dia ada disekitar sini!"

Lisa melotot sembari menutup mulutnya. Ketakutan menggerayangi tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat.

"Mommy..." Lirihnya.

"Kau yakin tidak memberi tahu keberadaan suamimu?"

"Untuk apa? Agar kau bisa membunuhnya?"

Cengkraman pada senjata api yang dipegang ibu Lisa semakin kuat.

Pria itu terkekeh sinis.

"Sombong sekali jawabanmu. Kau ingin mati rupanya."

"Kau yakin ingin membunuhku? Rahasia keberadaan suamiku hanya aku yang tahu. Bahkan anak buahnya pun tidak tahu. Kalau aku mati, aku yakin tidak terjadi apa-apa. Kecuali dirimu. Dirimu akan hancur, mati berkeping-keping!"

Pria itu tertawa kencang.

"Ancamanmu lucu sekali. Sayangnya nyawamu hanya hitungan menit saja. Karena keberadaan suamimu sudah kuketahui sekarang."

"Kami tidak menemukan anak kecil dirumah ini."

Pria itu melihat kearah lemari. Lisa yang berada didalam lemari hanya menahan napas.

Lisa ketakutan. Tidak! Dia tidak ingin mati saat ini. Lisa harus membalas orang-orang yang telah memporak-porandakan keluarganya.

"Setelah menyembunyikan suamimu, kau juga menyembunyikan anakmu?"

"Aku akan membunuhmu jika kau menyentuh anakku!"

"Ouh. Kau menakutkan sekali. Bunuh aku sekarang. Ayo bunuh aku." Tantang laki-laki yang Lisa yakini seumuran orang tuanya.

Lisa melihat ibunya tampak siap menarik pelatuk untuk menembak laki-laki itu. Hingga belum sampai semenit ibunya menarik pelatuk, ibunya terjatuh begitu saja diiringi dengan suara keras tembakan. Lisa memekik tertahan sembari menutup mulutnya. Badannya bergetar hebat kala melihat ibunya ambruk dengan genangan darah yang mengalir.

"Sehun?"

"Ayah terlalu lama membunuhnya."

Lisa melihat seorang anak kecil yang badannya tidak jauh besar darinya, sedang memegang pistol yang sama seperti ayahnya.

"Ayah tidak menyuruhmu kesini Sehun."

"Aku hanya penasaran saja, apa yang ayah lakukan."

"Baiklah. Semuanya mari kita pulang. Kita sudah mendapatkan apa yang kita mau."

Semua orang pun berlalu keluar meninggalkan Lisa yang sedari tadi menangis dalam diam. Tubuhnya lemas, badannya gemetar dengan pelan membuka lemari dan menghampiri sang ibu yang tergeletak tanpa daya.

Lisa menghapus air matanya kasar dan memegang ibunya.

"Mom....." Panggil Lisa lirih. Gadis itu masih memanggil sang ibu, berharap ibunya hanya pura-pura mati.

"Ku mohon jangan pergi. Aku tidak mau sendiri mom...a-aku takut."

Lisa menatap darah yang terus mengalir dilantai dengan tatapan tajam.

"Sehun!"

"Aku akan membalasmu. Tunggu saja." Tatapan dingin menghiasi mata lentiknya dan mengepal tangan kuat. Ya, dia akan membalas bajingan itu. Bajingan yang telah membunuh ibunya.

***

Baru prolog ya guys, nanti di up lagi chapter satunya.

Mau lanjut kah?

Revenge Where stories live. Discover now