Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
WHY ARE WE DIFFERENT?
- Mengapa Kita Berbeda? -
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
. . .
✿⋆🎡⋆✿
"Berhenti mencoba membahagiakan semua orang, termasuk diriku! Mengapa kau tidak mengerti juga?!" Arrai menatap tajam perempuan bersurai cokelat sebahu yang sedang berdiri di hadapannya.
Angin sepoi-sepoi yang berembus pelan sore hari itu menepis sedikit untaian rambut di dahi sang gadis.
"Aku tidak berhak untuk bahagia, tetapi aku wajib membuat orang lain bahagia, terlebih orang yang aku sayangi." Enzi berusaha tersenyum dan berbicara setenang mungkin.
Ini bukan pertama kalinya ia mendapat kata-kata tak mengenakan dari pria itu.
"Ck ... mengapa aku harus termasuk di antara orang yang kau sayangi itu?" tanya Arrai.
Enzi terdiam sejenak. "Kendati begitu, apa kau bahagia?"
"Aku bahagia jika kau pergi dan berhenti membahagiakanku," tegas Arrai.
Enzi menundukkan kepalanya dalam. "Bisakah setidaknya kamu pura-pura bahagia untuk semua yang telah kulakukan untukmu?!!"
"Aku tak perlu pura-pura untuk bahagia. Aku juga tak pernah meminta dibahagiakan olehmu. Bodoh! Hidupmu itu menyedihkan! Apa kau tak tahu?! Dengar baik-baik! Kita berbeda dan tidak akan pernah bersama!" bentak Arrai, "SELAMANYA!"
Enzi mengangkat kepalanya. Iris mata cokelat terang miliknya beradu dengan iris mata cokelat gelap milik pria di hadapannya.
Gadis itu merasa detak jantungnya berpacu dua kali lipat dari biasanya. Ia memandang ke bawah dan melihat bayangan dirinya yang tampak samar.
Ia memang sudah terbiasa dengan cercaan Arrai, tetapi kali ini rasanya berbeda.
Arrai mengalihkan atensinya dan memperbaiki letak kacamatanya. "Alisha Enzi, pergilah dari kehidupanku. Bukankah kau ingin aku bahagia?"
Enzi terdiam lama, lalu ia memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap kembali pria di depannya yang sedang berdiri dengan dua tangan terlipat di dada.
"Aku hanya ingin membahagiakanmu. Itu saja. Namun, jika dengan kepergianku akan membuatmu bahagia. Aku ... aku ... akan melakukannya."
"Mengapa tidak dari dulu kau membuat keputusan ini. Kau membuatku lelah," ucap Arrai dingin dan memejamkan matanya.
Enzi menggenggam erat dua buku tebal bersampul biru dan cokelat dalam dekapannya. Sebuah note tersemat di atas buku itu, di balik tangannya yang gemetaran.
'Untuk ArraiCardova. Selamat membaca, ya!'
Hadiah untuk Arrai, awalnya.
"Ma-maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku ... ti-tidak akan mengganggumu lagi," ucap Enzi terbata.
Arrai menghela napas panjang dan masih setia memejamkan matanya.
Enzi mencoba mengeluarkan suaranya yang tertahan. "Te-terima kasih sudah mengajarkanku apa artinya kebahagiaan ... dan membuktikan indahnya kesabaran. Aku pergi ... Kak Arrai."
Arrai membuka matanya cepat untuk melihat gadis yang baru saja berbicara dalam nada rendah dan terbata.
Namun, Enzi telah membalikkan badannya dan melangkah cepat meninggalkan pria yang selama satu tahun belakangan ini menjadi alasannya untuk bertahan menjalani kehidupan.
Mata gadis itu berkaca-kaca. Bukan karena rasa sayangnya tak dihargai, tetapi ia baru saja dibuang oleh satu-satunya orang yang harusnya ia punya di dunia ini.
"Maaf, sepertinya kita memang ditakdirkan untuk berpisah, kak Arrai."
"Kaubenar. Kita memang berbeda. Sepertinya perjuanganku harus berhenti sampai di sini. Maaf ya, kak."
"Dan aku tak akan kembali, sampai hari itu tiba."
. . .
✿⋆🎡⋆✿
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
☸︎Published : 6 November 2022 ☸︎Republish : 14 Oktober 2023