~~~Note sedikit~~~
Bismillah. Ini cerita baruku. Semoga bisa sampai selesai. Cerita ini berlatar di tahun 2014-2015 yaa jadi segala macam sistem atau aturan yang berlaku mengikuti tahun ajaran tsb dan ada beberapa yang aku buat sendiri. Jadi semoga ga bingung ya kok aturannya begini. Terima kasih. Happy reading!
~~~
Bel pertanda berakhirnya dua jam pelajaran berbunyi. Suatu kesempatan untuk seluruh penghuni sekolah baik siswa maupun guru mengistirahatkan diri. Ada yang langsung ke kantin, mengadem di perpustakaan, dan tidak sedikit juga yang memilih berada di dalam kelas.
"Ah! Akhirnya istirahat!" Seru Tami, siswi kelas sebelas IPA, setelah guru mata pelajaran Fisika keluar kelas. "Lo mau ke kantin, Re?" Tanyanya pada teman sebangkunya, Rea.
"Iya. Yuk!"
"Gue titip aja, ya. Perut gue sakit, biasalah hari pertama mens."
Rea tidak langsung mengiyakan. Ia menimbang sebentar karena ia tidak begitu percaya diri untuk pergi sendiri.
"Tapi masa gue sendiri, sih." Ia mencoba berdiskusi. Namun, ketika melihat wajah temannya yang berubah datar, ia akhirnya memutuskan. "Okelah. Lo mau apa?"
Dan benar saja, wajah Tami berubah kembali seperti semula.
"Gue titip gorengan tiga ribu, bebas terserah lo, sama minumannya juga terserah lo."
Tami memberikan uang lima ribu rupiah kepada Rea, dan setelah itu Rea keluar kelas menuju kantin.
Kantin SMA Pelita Bangsa memiliki beragam menu karena jumlahnya yang tidak hanya satu. Letak kantinnya juga berjejer sehingga jalur yang dilalui pembeli sama, sehingga mau-tidak mau antarpembeli sering berpapasan. Hal itu juga menguntungkan bagi kebanyakan orang karena tidak perlu ke sana kemari untuk ke kantin, tapi tidak bagi Rea. Malah sebisa mungkin ia tidak ingin berpapasan dengan orang lain. Bukan introvert, ia memiliki teman, mengikuti ekstrakurikuler juga, entahlah hanya saja ia tidak ingin "dilihat".
Rea tidak cukup populer di sekolah tapi juga ada yang mengenalnya. Kebanyakan teman-teman SMP Rea juga melanjutkan sekolahnya di SMA ini. Tentu saja saat berpapasan, mereka akan mengobrol ringan atau hanya berbasa-basi. Sebenarnya, Rea tidak keberatan tapi ia akan lebih senang jika mereka memanggilnya saat tidak ada banyak orang.
Kemudian, ia sampai di kantin yang ia pilih. Rea mengambil kantong makanan lalu memasukkan gorengan yang dipesan Tami tadi dan miliknya. Setelahnya, dua botol minuman dingin.
"Ibu, aku beli gorengannya enam sama minuman dingin ini dua ya." Katanya sambil mengangkat barang yang dibeli.
"Dua puluh ribu." Mendengar totalnya Rea lalu merogoh saku kemeja putihnya. "Nggak makan aja, Nak?"
"Enggak, Bu. Teman Rea nunggu di kelas." Balasnya lalu menyerahkan uang dua puluh ribu. Rea tahu harga minuman ini memang bukan seribu atau dua ribu, saat ini ia sangat ingin meminum minuman itu, karena itu ia membelinya. Ia bisa saja membelikan Tami minuman sesuai sisa uang yang tadi ia terima, hanya saja rasanya tidak enak jika berdua tapi menunya berbeda.
"Terima kasih, Bu." Tutupnya lalu berjalan kembali ke kelas.
Kelas Rea sering disebut kelas buangan, karena terpisah dari kelas maupun gedung lain. Rute untuk menuju ke kelasnya pun perlu melewati parkiran atau lapangan bulu tangkis. Satu hal lagi yang membuatnya malas berjalan sendirian. Parkiran itu tidak jarang dipakai siswa laki-laki untuk mengobrol―nongkrong. Tidak banyak memang, karena itu parkiran kecil. Mungkin motor yang bisa parkir di sana hanya tiga sampai lima motor. Namun, tetap saja parkiran itu bisa menampung lima sampai delapan atau lebih siswa. Kadang mereka membawa kursi dari kelas terdekat atau bahkan hanya berjongkok.
YOU ARE READING
BEHIND
RandomSemua orang tentu merasa pernah mengalami perubahan dalam dirinya. Entah itu perubahan menjadi baik atau sebaliknya. Di balik perubahan yang terjadi tentu ada sesuatu yang menjadi pemicu. Tidak ada pilihan yang timbangannya rata. Namun, di balik ke...
