Seorang pria, sedang berjalan kaki di tengah-tengah kota. Berjalan menuju pemberhentian bus atau sering disebut halte.
Pria tersebut ialah Pete Jakapan, yang berusia 23 tahun dan saat ini bekerja sebagai karyawan biasa di salah satu perusahaan. Pete hidup dengan neneknya, sebab kedua orang tuanya sudah meninggal dunia 10 tahun silam.
Lumayan menyedikan bukan? Tapi dia masih memiliki teman yang cukup membuat dia semangat untuk menjalankan hari.
"Pete.... Pete... Tunggu gw dong!!" ujar seorang laki-laki.
"Aih cepatan dong Apo... Ini udah sore banget" jawab Pete.
"Haha iya... Bentar gw bayar es cekek dulu" Jawab Apo yang masih sempat membeli es nutrisari rasa markisa.
"Oi.... Oi... Bagi dulu, haus juga gw" ujar Pete yang gak tahu malu.
"Aih.... Ngoceh aja tadi, sekarang minta.... Nih jangan banyak-banyak" ujar apo.
Setelah perdebatan tentang minuman, akhirnya mereka berjalan menuju halte.
Setelah sampai di halte, mereka menunggu bus yang ke arah rumah mereka. Apo dan Pete sudah bersahabat semenjak memasuki Sekolah menengah atas atau SMA.
Walau sebenarnya rumah mereka tidak berdekatan, tetapi mereka selalu pulang bareng karena searah.
"Pet, lihat geh orang ini cakep gak? Dari kemarin chat gw tahu hahaha...." Ujar apo, yang melihatkan gambar seseorang di ponselnya.
"Keknya gw kenal orang ini, kek pernah ketemu" Ujar Pete.
"Iya dia atasan kita di perusahaan, namanya pak Kinn. Aih cakep banget." Ujar apo dan Pete pun hanya mengangguk.
"Lah kalau dia chat lu apa masalahnya?" Ujar Pete.
"Ya dia chatnya romantis. Nanya udah makan belum? Capek gak kerjanya? Dan banyak deh...." Ujar Apo .
"Kalau kek gitu berarti dia suka gw dong" ujar apo.
"Kan lu dah punya pacar?" Ujar Pete.
"Ya tinggal putus. Dia aja gak jelas" ujar apo.
"Emang sih Kinn kinno ini udah jelas ah! Entar sama aja" ujar Pete.
"Jamin gw yang ini, dan kaya, cakep, dan anunya Gedeg" ujar apo.
"Apoooo....! Lu tahu dari mana" ujar Pete sambil memukul kepala apo.
"Dia kan bilang, adek aku bangun, terus gw bilang. Pap dong p*n*snya. Terus di pap" ujar apo.
"Tapi dia jelasin, yang bangun bukan junior Kinn, tapi sepupu gw yang nginep hahaha..." Ujar apo sambil ketawa.
"Anjirr lah... Jadi gara-gara itu lu suka Ama pak Kinn" ujar Pete
"Salah satunya" ujar apo, sambil memberhentikan mobil bus yang pas banget mau lewat.
"Ayo Pete..." Ujar apo sambil menarik tangan pete.
Selama perjalan mereka mengobrol tentang masa-masa kuliah, pekerjaan dan sampai di topik siapa yang disukai pete.
"Pete lu suka Ama siapa sih" ujar apo.
"Gak ada, lagi gak mau pacar apo" Jawab Pete.
"Haha... Kemarin ada karyawan sebelah yang nanya tentang lu tahu." Ujar apo.
"Terus lu apain dong" tanya Pete.
"Ya gw kasih tahu aja, kawan gw emang jomblo, tapi keknya gak suka lu" ujar apo dan membuat Pete tertawa.
"Gw masih suka dia po" ujar Pete.
"Astagah... Itu dah masa lalu Pete. Apa juga yang istimewa dari dia coba" ujar apo.
"Gak tahu, kenapa gw suka banget Ama tuh orang. Tapi yang jelas sekarang gw lagi fokus kerja aja, Ama nabung-nabung" ujar Pete.
"Haha iya iya... Tapi jangan juga Ampe ke terusan. Entar jomblo seumur hidup lagian" ujar apo.
"Haha iya... Siap-siap lu turun udah mau nyampe" ujar Pete.
"Haha iya juga... Duluan ya Pete sayang" ujar apo membuat Pete ingin muntah.
"Tai...." Balas Pete.
Selama perjalanan Pete hanya berdiam, hingga akhirnya sampai di gang rumahnya.
Perjalanan dari pemberhentian bus sampai rumahnya kira-kira 1 kilometer, yang membuat tenaganya terkuras.
Setiap pulang pasti pembahasannya sama seperti sebelumnya.
Sampinya Pete di rumah.
"Capekan? Dibilang nenek beli motor aja, biar gak capek" ujar nenek.
"Haha... Jakapan-jakapan. Turun temurun masih aja sama" ujar nenek.
"Besok Minggu kalau Jakapan gak beli motor nenek marah. Nanti uangnya nenek kasih" ujar nenek membuat Pete cemberut.
"Ih anak ganteng nenek kok cemberut. Nenek mah sawah di kampung banyak, jangan kamu kira nenek gak punya duit Jakapan" ujar nenek yang selalu sombong dengan hartanya.
"Aih... Iya lah nenek yang emang paling kaya" ujar Pete
"Kan kalau bensin bisa aja kongsi-kongsi Ama apo... Jadi nambah irit, dan hemat waktu. Kasihan juga cucu nenek yang itu" ujar nenek.
"Halah... Nenek kan suka Ama apo. Pantesan" ujar Pete kesal.
"Haha... Enggak juga, yang penting cucu nenek gak capek" ujar nenek.
"Udah sana mandi. Ini nenek udah masak buat makan malam" ujar nenek dan Pete pun beranjak mandi.
Setelah selesai mandi, makan dan membersihkan rumah, Pete meringkaskan pekerjaan yang telah ia bawa dari kantor.
"Akhirnya berhasil. Ini sangat melelahkan" ujar Pete sambil mematikan laptopnya.
*ting-ting
1 pemberitahuan...
Pete mengecek hpnya, ternyata ada pemberitahu bahwa besok ia harus pergi ke kota untuk menghadiri rapat.
"Berarti harus tidur cepat nih... Pagi-pagi harus sudah berangkat" ucap Pete.
Setelah itu Pete bersiap untuk menyiapkan peralatan dan bahan yang akan ia bawa besok lalu pergi tidur.
.
.
.
Tetapi seseorang yang lagi bersantai dan menikmati minumannya, lagi memandang foto Pete dengan lekat.
"Jadi dia Pete? Dan alumni yang sama dengan SMA gw" ujar orang tersebut.
"Iya tuan, dan dia juga kuliah di perguruan tinggi yang sama dengan anda." Ujar salah satu bodygaurdnya.
"Menarik. Jadi penasaran dengan aslinya." Ucap pria tersebut.
"Pete Jakapan, tidak bakal lolos" ujar pria tersebut, dan membakar foto Pete.
-----------------------------------------------------------
Haduhhh... Maaf ya, malah buat book baru lagi.
Udah gak kuat nyelesai the slave, udah terlalu rumit.
Kalau yang ini hanya 15 chapter doang kok keknya. Dan udah terarah lah....
Makasih udah mau baca.
💜💜💜💜💜💜
YOU ARE READING
VEGAS
FanfictionBukannya cinta sebuah cerita yang indah, sehingga hanya kenangan manis dan menghilangkan cerita yang sedih, tapi aku lupa kalau itu untuk yang di cintai. Tapi, saya yang tidak dicintai, selalu mengalami sakit, sedih dan cemburu. apakah ini cinta? sa...
