01

2 0 0
                                        

Juni menatap rumah di hadapannya, sebuah rumah yang akan dia huni untuk kedepannya

اوووه! هذه الصورة لا تتبع إرشادات المحتوى الخاصة بنا. لمتابعة النشر، يرجى إزالتها أو تحميل صورة أخرى.


Juni menatap rumah di hadapannya, sebuah rumah yang akan dia huni untuk kedepannya. Sebuah 'rumah' katanya. Bahkan Juni sendiri sudah tidak tau apa arti dari kata 'rumah' sebenarnya. Dahulu, Juni menyebut rumah sebagai tempat dia kembali dan menerima kehangatan ketika berada di rumah. Hari ini, Juni akan memulai lembaran baru lagi. Perceraian Ibu dan Ayahnya membuat Juni takut ketika bertemu dengan orang baru.

Saat ini, ia akan bertemu dengan orang baru bahkan keluarga baru. Setelah Ibu dan Ayahnya bercerai, Ibu Juni menikah dengan pria lain dan berhubung hak asuh jatuh di tangan ibu Juni maka Juni mengikuti kemanapun ibunya pergi. Tambahan, Juni juga masih sekolah sehingga Juni mau tidak mau harus ikut dengan Ibunya.

"Bismillah ya, Nak. Semoga ini menjadi lembaran baru yang indah untuk kita semua."

Juni hanya mengangguk dan ikut berdoa dalam hati, berharap tidak ada hal-hal yang memberinya rasa duka lagi. Cukup sebuah perpisahan antara kedua orangtuanya saja.

"Akhirnya kalian sampai juga. Harusnya aku jemput kalian berdua tadi ke stasiun. Gimana perjalanannya tadi?"

Sang pemilik rumah sekaligus Ayah tiri dari Juni menyambut mereka dengan hangat. Tapi Juni belum bisa merasakan kehangatan yang dimaksud. Hatinya masih tidak bisa menerima kehangatan yang sementara.

"Duh gak apa-apa, Mas Ibra. Emang aku mau berdua sama Juni datengnya karena masih banyak yang harus aku urus, termasuk berkas pindah sekolahnya Juni."

"Semoga Juni betah ya tinggal disini. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang sama papa ya."

"Iya Om"

Jawaban singkat dari Juni membuat Ibra-ayah tirinya terdiam sementara Ibu Juni terlihat gelagapan karena panggilan dari Juni yang menurutnya tidak sopan.

"Juni! Om Ibra sekarang adalah ayah kamu. Coba kamu panggil papa juga."

"Bu! Aku gak-"

"Sudah tidak apa, aku gak masalah Indri. Jangan paksa Juni begitu, aku bakal bebasin dia manggil Om selama itu membuatnya nyaman. Ayo masuk, Giska udah semangat banget nungguin kalian berdua."

Giska?

Setelah bertemu ayah tirinya, sekarang Juni harus bertemu saudari tirinya juga. Rentetan pertemuan yang asing ini membuat Juni sakit kepala. Dia belum siap untuk bertemu dengan orang baru dan menerima orang baru. Sangat egois memang tapi trauma akibat perpisahan kemarin masih terbekas di benaknya. Juni belum siap dengan kehadiran orang lain selain orang terdekatnya.

Sebagai informasi, Juni belum sepenuhnya mengenal keluarga Ibra. Pasca perceraian orangtuanya, dia memilih tinggal dengan Bibinya, pertengkaran demi pertengkaran yang terdengar membuatnya begitu trauma dan Juni masih mengingat dengan jelas bagaimana kedua insan yang saling cinta bisa bertengkar seperti tidak pernah hidup bersama.

"Pa! Kok lama banget?? Mama Indri udah nyampe belum?"

Giska sedari tadi sudah menunggu kedatangan Juni dan Ibunya. Tidak seperti Juni yang masih sulit menerima orang baru, Giska adalah kebalikannya. Dia begitu bersemangat bertemu dengan keluarga barunya. Dia tidak takut pada label 'ibu tiri' yang terdengar sangat kejam. Giska yakin kalau Indri-Ibu tirinya-tidak seperti ibu tiri pada dongeng dan telenovela kebanyakan.

"Halo Giska!"

"Mama Indri?? Giska kangen banget sama mama"

Giska segera berlari ke pelukan Ibu Juni dan Juni sejak tadi sudah melongo melihat Giska yang begitu dekat dengan ibunya. Sangat berbanding terbalik dengannya.

"Oh iya! Kenalin, ini anak mama, namanya Juni. Semoga kalian cepat akrab ya."

Giska tersenyum pada Juni dan segera menjabat tangan Juni tanpa permisi.

"Hi Juni!! Kenalin aku Giska, kamu umurnya berapa? Semoga kamu lebih muda deh. Soalnya aku pengen banget punya adik."

Juni menatap tangannya yang sudah digenggam oleh Giska begitu erat. Kemudian Juni menatap ibunya, memberi isyarat agar ibunya membantu untuk melewati situasi ini.

"Ahahahaha kayaknya Juni masih malu-malu deh. Juni sebenernya pemalu banget, Gis. Tapi dia dua tahun lebih muda dari kamu kok. Jadi, Selamat! Kamu punya adik."

"Udah udah, lebih baik kita makan dulu. Pasti udah pada laper kan? Nanti kita lanjutin sesi bincang-bincangnya setelah makan."

Semua menyetujui ajakan dari Ayah Giska dan menyantap hidangan yang sudah disajikan oleh keluarga Giska sambil berbincang banyak hal walau Juni lebih banyak diam dan memilih menyimak percakapan mereka saja.

----------

Satu hal yang Juni syukuri saat pindah kemari adalah dia bisa memiliki kamar sendiri. Jadi, saat ini Juni sedang membereskan pakaian dan barang-barang yang dibawanya. Hingga kemudian satu figura kecil menarik perhatiannya. Itu adalah foto keluarga kecilnya dahulu. Juni melihat dirinya tersenyum begitu lebar pada foto yang diapit oleh kedua orangtuanya. Sungguh, Juni rindu masa-masa itu dan tentu saja semua itu hanyalah kenangan semata sekarang. Tidak ada lagi keluarga kecil bahagia untuk Juni. Juni terus memperhatikan foto tersebut hingga suara ketukan kecil di pintu membuatnya tersadar dan segera menyembunyikan foto yang dibawanya.

"Juni? Ibu boleh masuk?"

"Masuk aja bu, gak dikunci kok."

Ibu Juni menatap ke seluruh kamar Juni, memastikan apakah anak gadisnya ini memerlukan bantuannya.

"Kamu belum bisa nerima om Ibra?"

Pertanyaan dari Ibunya membuat Juni menghentikan kegiatan bersih-bersihnya. Lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan ibunya itu.

"Ibu tau dan ngerti kalau kamu belum bisa nerima. Tapi seenggaknya kamu bisa hargain om Ibra dengan tidak memanggilnya dengan sebutan om. Ayolah Jun! Kita harus buka lembaran baru"

"Stop bu! Oke! Kalau Ibu mau buka lembaran baru, silahkan! Aku gak masalah! Tapi tolong jangan paksa Juni, Bu!"

Juni sedikit berteriak pada Ibunya, dia masih tidak terima dengan kenyataan yang terjadi. Semua yang diinginkannya hanya keluarga yang utuh bukan yang baru.

"Juni! Buka mata kamu! Ibu dan Ayah kamu sudah berpisah. Kamu harus terima kenyataan itu. Ibu hanya tidak ingin kamu terus menerus larut dalam kesedihan. Bagaimanapun, kamu tetap putri Ayah dan Ibu hanya saja kami sudah berpisah Juni."

Juni tertawa kecil, ah, lebih tepatnya menertawakan takdir yang membuatnya seperti ini. Sungguh, jika ada mesin waktu maka Juni adalah orang pertama yang akan menggunakan mesin itu untuk memperbaiki hubungan Ibu dan Ayahnya.

Namun, andai hanya tinggal andai saja. Nasi sudah menjadi bubur. Begitupun keluarga Juni, Ibunya sudah menikah lagi dengan pria lain. Ayahnya? Juni sendiri sudah tidak tau kabar ayahnya semenjak hak asuh anak jatuh ke tangan ibunya. Ayahnya seolah-olah memutuskan hubungan antara mereka. Pergi sejauh mungkin tanpa memberitahu Juni.

"Bu, aku capek. Aku mau istirahat" ucap Juni yang memilih untuk berhenti berdebat dengan Ibunya. Istirahat hanya alasan semata, Juni hanya lelah untuk bertengkar.

"Juni, bagaimanapun Ibu dan Ayahmu sudah berpisah. Ibu harap kamu bisa menerima itu." ucap Ibu Juni sebelum akhirnya keluar dari kamar Juni.

Gadis itu hanya bisa menangis dalam diam. Menangis untuk meluapkan rasa sedihnya. Juni sendiri tidak tau, bagaimana dia akan berdamai dengan kehidupan yang terus berjalan ini.

Sebuah kata perpisahan yang terucap dari mulut Ibunya menjadi senjata tajam untuk hati Juni. Sebuah perpisahan yang terlihat mudah dilakukan namun sulit untuk diterima.

-------

Halo? Selamat berkenalan dengan Januari untuk Juni.
Senang bertemu dengan kalian semua. Aku harap kedepannya cerita ini bisa membawa kebahagiaan untuk kalian semua ❤️💫

Thnk you so much 🫶🫶

P.s. Saran dan masukan kalian akan diterima dgn senang hati 🫶

Januari untuk Juniقصص لتهوسّ بها. اكتشف الآن