Alde berlari dengan kecepatan penuh menyusuri koridor SMA Dionysus tanpa memedulikan peluh yang bercucuran membasahi wajahnya. Yang remaja laki-laki itu pedulikan saat ini adalah bagaimana caranya agar dia dapat meloloskan diri dari gadis penghuni kelas sebelah yang sejak saat bel istirahat dibunyikan tadi terus mengintilinya ke manapun dirinya pergi.
Alde sudah berusaha bersembunyi di kantin, di perpustakaan, bahkan di UKS. Namun gadis yang menjadi salah satu penggemar yang tidak begitu rahasia itu selalu dapat menemukannya. Meski Alde berusaha bersembunyi pada sudut paling tak terlihat sekalipun di area sekolahnya.
Menjadi salah seorang murid populer di sekolah tidak selalu menyenangkan jika kalian tahu. Setidaknya begitulah hal dirasakan sendiri oleh Alde.
Saat melihat pintu kelas yang terbuka, Alde segera melesat masuk. Lalu dengan sisa tenaganya yang sejak tadi dia pakai untuk berpindah bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain, dia menarik sebuah meja di kelas tersebut yang dia gunakan untuk mengganjal pintu. Setelah memastikan pintu tertutup rapat dan terganjal sempurna, Alde segera menjatuhkan pantat ke atas salah satu bangku yang berada di deretan depan. Disekanya keringat yang meleleh dari kening dengan punggung tangan kirinya sembari berusaha mengatur napasnya yang nyaris habis. Alde sama sekali tidak menyadari bahwa sejak dia memasuki kelas itu, ada siswa lain yang tengah menatapnya keheranan dari bangku di pojok belakang.
“Sembunyi dari siapa sih lo?”
Alde seketika mengalihkan pandangan ke arah pemilik suara bariton itu. Dilihatnya Bara, siswa yang sejak tadi memerhatikannya, menatapnya penuh rasa ingin tahu dengan sebelah alis terjungkit. Sepasang pelantang telinga berwarna abu-abu tergantung pada lehernya, sementara kabelnya tersambung pada soket sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja. Hanya dia seorang yang bertahan dalam kelas tersebut saat jam istirahat sebelum Alde datang untuk bersembunyi di sana.
“Ada. Cewek IPS 3, yang rambutnya ikal dan selalu diikat dua. Tau kan lo?” terang Alde dengan masih sedikit terengah-engah.
Bara mengangguk-angguk singkat, meski dia tidak yakin juga tentang siapa gadis yang dimaksud Alde.
“You need this?” Bara menawarkan seraya menunjuk botol air mineral yang ada di atas mejanya.
“Absolutely yes, Bar,” sahut Alde tanpa berpikir dua kali.
“Here.”
Bara melempar botol air mineralnya dari tempat dia duduk, yang ditangkap dengan sigap oleh Alde. Begitu botol air mineral yang masih tampak utuh tersebut sudah berada di tangannya, Alde segera meneguk isinya hingga hanya tersisa seperempat bagian. Sepertinya dia benar-benar dehidrasi setelah berusaha menghindari gadis yang menaruh perhatian padanya.
Bara menatap Alde penuh maklum. Sahabatnya yang dia kenal sejak kali pertama masuk ke SMA Dionysus ini memang memiliki banyak penggemar. Selain tampan lantaran memiliki tulang hidung tinggi, lesung pipi yang akan terlihat pada pipi kirinya saat dia tersenyum, juga perawakan jangkung yang sedikit melebihi teman-teman seangkatannya, Alde juga merupakan ketua mading di SMA mereka. Ide-ide segarnya berhasil membuat mading sekolah selalu menarik pada tiap edisinya. Ditambah pribadinya yang teramat mudah bergaul membuatnya dapat dekat dan mengobrol akrab dengan siapapun dalam waktu singkat.
Tidak heran jika banyak siswi SMA Dionysus yang mengagumi, bahkan tergila-gila padanya. Tidak peduli apakah mereka adalah adik kelas, teman seangkatan, ataupun kakak kelasnya.
Tiap jam istirahat, Alde seolah harus mempersiapkan mental dan tenaga ekstra untuk menghadapi para penggemarnya. Mereka akan berlomba-lomba memperoleh perhatian Alde, entah dengan sekadar menyapa, mengajaknya ke kantin bersama, atau bahkan memberikan kado padanya. Namun selama ini, Alde tidak pernah menggubris satupun dari mereka.
YOU ARE READING
A LETTER FROM B
RomancePada hari ulang tahunnya, Alde memperoleh bingkisan yang dia temukan dalam loker miliknya di sekolah. Ternyata bingkisan tersebut berisi serial lengkap buku yang paling Alde inginkan. Bersamaan dengan bingkisan tersebut, tersemat pula sepucuk surat...
