Jangan lupa vote ya
This is the first story I made. I hope you like this.
Happy reading
💕💕💕
"Bagaimana ulangan kamu hari ini?" Suara bariton terdengar menggema membuat Andina terkejut
Papanya sudah pulang dan menunggu di ruang tamu
Andina menuju ketempat papanya dan mengeluarkan 2 kertas ulangan dengan berisi nilai.
"Ini pa, pelajaran biologi dan bahasa Inggris" Andina memberi kertas dengan menjaga jarak antara dirinya dan papanya sebagai ancang ancang untuk melarikan diri dari amukan papanya
David mengambil kertas dengan keras dan melihat nilainya
Biologi: 100
Bahasa Inggris:100
Papanya mengembalikan kertasnya dan menatap Andina dengan tatapan yang tak senang
"Bagus, pertahankan. Jangan sampai kurang dari 100"
Setelah mengatakan itu David meninggalkan Andina dan menuju ke ruang makan
"Alhamdulillah, ya Allah terima kasih, stidaknya hari ini pala tidak memarahi dan menampar ku" syukur Andina
Andina menaiki tangga dan membuka kamar tidurnya
Ia meletakkan kacamata dan tasnya di tempat dan membersihkan dirinya. Lalu melaksanakan ibadah shalat ashar.
Ia akan pergi les musik hari ini.
Memakai pakaian santai dan mengambil peralatan yang akan diperlukan disana
Dan turun kebawah.
"Sudah makan siang disekolah?"
"Belum ma"
"Ini bekal buat kamu , jangan lupa makan disana"
"Makasih ma" Andina mengambil kotak bekal coklat nya dan memasukkan ke dalam tasnya
"Dina pamit, assalamualaikum"
Dina menaikin sepeda untuk pergi ke tempat les nya . Tidak jauh jarak rumah nya ke tempat les tersebut.
Memakirkan sepeda nya. Dan masuk kedalam kelas dan disambut bahagia dengan semua teman kelasnya
"Siang Andina"
"Udah sore Vina"
"Gess , liat poster ini" ucap Qey yang beru masuk ke kelas dan menempel kan poster ke Mading kelas
Mereka berbondong bondong melihat isi poster itu
"Ini poster tentang lomba grup musik yang acaranya di laksanakan gedung *** tanggal pendaftaran nya 12-20 April
Ada door prize gesss"
"Din ikutan yok"
"Duh gw belum lancar mainnya"
"Kan kita belajar dan minta bantuan pak jefan "
"Sore anak anak" suara guru membuat kediaman di kelas
"Sore pak"
"Kalian sudah tau poster lomba itu?"
"Sudah pak"
"Siapa yang berkenan ingin mendaftar max 10 orang?" Tanya pak jefan tanpa basa basi
" Saya pak"
"Saya pak"
Siswa berteriak ingin mengikuti lomba tersebut
"Andina kamu catat nama mereka yang ingin ikut dan nanti berikan ke saya ya."
"Baik pak"
Andina dipercayakan oleh pak jefan untuk mengurus kelas musik ini.
"Baik sekarang kita mulai kelas dan kalian ambil alat musik nya"
***
Kelas selesai kini Andini berada di depan ruangan pak jefan. Ia mengetuk pintunya dan ada sahutan didalam nya memberikan ia masuk
"Pak ini daftar orang yang mengikuti lombanya"
"Baik" jefan menatap kertasnya dan melihat siswa yang mengikuti lomba tersebut
"Kamu tidak mau ikut"
"Tidak pak, saya belum bisa dan lagian namanya juga sudah pas 10 orang "
"Kamu bisa Andina, baru 2 bulan kamu belajar tapi kemampuan kamu sudah setara dengan mereka semua"
"Maaf pak, saya tidak berkenan mengikuti lomba ini. Ad lagi yang diperlukan pak?" Tolak Andina dengan tegas
"Hm, tidak ada. Terimakasih. Sekarang pulang lah, hari sudah malam"
"Saya pamit"
Andina keluar dari ruangan pak jefan dan berlari di koridor yang sepi menuju parkiran sepedanya
Mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi , suasana jalan ramai banyak berlalu lalang kendaraan di jalan besar.
Bukan takut karena sepi melainkan takut di marahin orang tuanya karena pulang malam.
Sesampai dirumah ,ia melihat orang tuanya sedang menonton tv dengan kakak nya , ia langsung pergi dengan diam diam ke kamarnya
"Mengapa pulang malam?"
Andina berhenti ,ia ketahuan dengan papanya
"Eh, ada sedikit keperluan dengan pak jefan pa. Tadi beliau suruh mampir ke ruangannya untuk membantu acara lomba"
"Lomba? Kamu ikut lomba itu?"
"Tidak pa, karena peserta nya sudah penuh"
"Papa akan telepon pak jefan.kamu pergi tidur sana, sudah malam"
"B-baik pa"gugup Andina.
Andina meninggalkan papanya dan menatap mama dan kakaknya yang asik bercerita di ruang tamu
Ia ingin seperti kakaknya
Aceh,09 Juli 2022
YOU ARE READING
DEAN ( ON GOING )
Teen Fiction"setiap pertemuan pasti ada perpisahan, yang ku takutkan adalah perpisahan itu mengenaskan" - Dean buana "tak perlu takut, takdir itu Tuhan tentukan.kita hanya menjalankan saja" - Andhina kedua insan yang saling memiliki masalah kini ditakutkan den...
