"Tentang takdir yang tak pernah terpikir, tapi mampir dan hadir untuk diukir."
(Arruna Kaylee Darellyn)
Mentari mulai menampakkan wajahnya, semburat merah kekuningan menghiasi langit. Cahaya masuk ke dalam celah-celah jendela kamarku. Berbeda dengan Afifah, tadi pagi sekali ia berpamitan karena ada interview magang. Hari ini, aku akan pergi ke kampus karena semalam tiba-tiba ada pemberitahuan bahwa akan ada kelas hari ini. Padahal sebelumnya, dosen memberitahukan bahwa hari ini jadwal dikosongkan karena beliau tidak bisa masuk untuk memberikan materi.
Aku pandangi diri yang memantul di cermin, "Maa syaa Allah, cantik banget sih, aku" Aku bergumam memberikan pujian untuk diri sendiri, Baju tunik berwarna biru muda dipadukan dengan rok berwarna cream sangat pas, apalagi jilbab pashmina berwarna cream muda yang aku kenakan semakin menambah kesan elegan. Lantas, segera aku menyambar tas serta laptop yang ada di atas meja produktifku. "Bismillah, awali pagimu dengan senyuman, wahai Arruna Kaylee Darellyn," ujarku dengan penuh semangat.
Aku pun menuruni tangga, seperti biasa Abi selalu sibuk dengan koran di tangannya dan Umi sibuk dengan merapikan makanan di meja makan. Sebenarnya, aku mempunyai seorang Kakak laki-laki, hanya saja saat ini dia sedang bertugas di salah satu negara yang berpasir.
"Assalamualaikum, pagi, Abi, Umi."
Umi tersenyum ke arahku, "Waalaikumussalam, pagi juga cantiknya Umi."
Aku melirik ke arah Abi yang masih sibuk membaca koran. "Ih, Abi ko engga jawab salam Eneng!" Aku mendengus dan berpura-pura kesal.
"Abi udah jawab, dalam hati."
"Ih, mana bisa gitu."
"Bisa atuh, Neng. Kan tidak semua hal harus tersirat lewat kata, bisa aja hanya dikenang dalam jiwa." Jawaban Abi membuat aku dan Umi saling berpandangan, aneh.
"Dih, dih, Abi belajar kata-kata gitu dari mana? Curiga Abi lagi puber, Mi."
"Biarin puber juga, asal sama orang kaya terus hartanya buat Umi semua." Jawaban Umi lebih diluar ekspektasi, sungguh pasangan yang saling melengkapi pantas saja berjodoh.
Aku mendelik, geli. Dari pada aku menyaksikan ke absurd-an Umi dan Abi, lebih baik aku segera pergi ke kampus. "Yaudah, ah. Neng berangkat dulu ke kampus, ada jadwal pagi."
"Ga sarapan dulu, Neng?" tanya Umi ketika aku ingin menyalaminya.
Aku menggeleng pelan, "Nanti aja, Mi di kantin takut ga keburu," tolakku pelan.
Umi menghela nafas panjang. "Jangan lupa, nanti asam lambung kamu kumat kalo telat sarapan."
"Iya siap Umi, yaudah Neng berangkat dulu, Assalamualaikum Umi, Abi." Aku pun bergegas pergi setelah menyalami orang tuaku.
Aku langsung menaiki motor Scoopy berwarna biru muda kesayanganku yang sudah menanti di depan rumah untuk menuju kampus tercinta.
------
Di tengah perjalanan motor yang aku pakai tiba-tiba berhenti. "Sial bensinnya abis" Tanganku mengepal karena kesal atas kecerobohan yang aku perbuat karena tidak mengeceknya. Kuedarkan mata ke sekeliling mencari seseorang yang bisa dimintai bantuan, namun nihil biasanya hari senin adalah hari tersibuk, entah kenapa Senin kali ini jalanan begitu sepi membuat aku terpaksa mendorong si biru sendirian menuju bengkel terdekat sejauh dua kilo meter.
Saat sampai di tempat pengisian bahan bakar, jarum di jam tangan yang aku kenakan menunjukkan pukul delapan pagi kurang sepuluh menit, sedangkan kelas akan dimulai pukul delapan pas. Tidak ada kemungkinan untuk sampai tepat waktu, pasti akan tetap terlambat masuk kelas hari ini. Setelah menunggu empat antrian akhirnya giliran aku, secepat mungkin aku menancap gas menuju kampus agar tidak semakin terlambat.
Sesampainya di area kampus, aku bergegas masuk ke dalam kelas berharap dosen belum masuk. Namun, saat membuka pintu dengan perlahan, mataku terbelalak ketika melihat sosok pria tinggi dengan kemeja yang dilipat hingga sikut berdiri di depan kelas menatap dengan tajam ke arahku.
"Ada keperluan apa?" Saat dia bersuara, aura dingin seakan menelisik ruangan kelas.
Aku tersenyum kikuk, mencoba menghilangkan rasa gugup. "Maaf saya terlambat, tadi motor saya habis bensin."
Pria bertubuh tinggi dengan kacamata yang bertengger di dihidungnya bernama lengkap Rayyan Arion Wiratama itu sama sekali tidak menggubris perkataanku, bahkan ia tidak mempersilahkanku untuk duduk di bangku yang ada di kelas ini, rasa kesal sekaligus bingung dibuatnya seakan memenuhi otakku. Setelah beberapa saat, aku memutuskan untuk berinisiatif berjalan menuju bangku paling depan yang kebetulan kosong. Baru saja aku ingin mendudukkan bokong suara dingin itu kembali menargetkanku.
"Suruh siapa kamu duduk?" tanyanya dengan nada yang terdengar kejam.
Aku langsung berdiri dan meminta maaf. "Maaf, Pak. Saya kira, saya boleh duduk karena Bapak tidak bicara lagi."
Pria itu mendekat ke arahku membuat jantung ini berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi saking seramnya pria di hadapanku saat ini.
"Kamu cukup tidak tahu diri ternyata." Jleb, rasa malu dan kesal bersatu.
Aku menunduk untuk menetralkan racun yang baru saja keluar dari mulut tajam pria ini. "Kenapa sih, bukan Pak Suryo yang gantiin Bu Nori malah Dosen killer baru yang gantiin." gerutuku dalam hati.
"Kamu boleh mengikuti kelas Saya, tapi tidak diperbolehkan untuk duduk. Berdiri dan dengarkan, lalu setelah itu kamu jelaskan lagi apa yang saya sampaikan."
"Oh Tuhan, hamba ada salah apa hari ini?" gumamku saat mendengar keputusan final dari pria tidak berperasaan ini.
Beruntung kelas hari ini hanya berlangsung satu jam. Jika tidak, kakiku pasti akan jadi tongkat saking kakunya. Saat kakiku hendak melangkah ke luar, tiba-tiba suara bariton menghentikan langkahku.
"Mau ke mana kamu?"
Aku melirik ke arahnya dengan memamerkan senyuman yang terpaksa. "Mau pulang, pak. Kan saya cuma ada kelas ini aja."
"Kata siapa kamu boleh pulang? Beresin meja saya dan antar semua barang saya ke ruangan dosen," titahnya sebelum ia pergi meninggalkan aku yang menahan diri agar tetap santai.
"Dasar dosen killer nyebelin, aku sumpahin biar jomblo terus!" Mau tak mau, aku pun menuruti perintah Dosen nyebelin itu dengan mulut yang sesekali mengumpat.
Untungnya di ruangan dosen sepi, tidak terlihat batang hidung dosen killer yang menyebalkan itu. Aku bergegas mundur dan membalikkan badan untuk keluar dari ruangan yang penuh dengan aura mencekam ini.
"Aww, jidat aku!" Aku mengaduh ketika tanpa sengaja saat berbalik malah menabrak dada bidang seseorang.
Suara deheman membuatku sontak menatap ke arahnya, "Mampus! Ini mah," batinku.
"Maaf, Pak gak sengaja" Aku segera lari ke luar ruangan tanpa menunggu pria di hadapanku menjawab. Lama-lama berinteraksi dengan Pak Rayyan hanya akan membuat hidupku semakin sulit rasanya.
Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan diri di atas kasur. Kuraih benda pipih yang sebelumnya aku letakkan di atas nakas samping tempat tidur, berniat menghubungi Afifah. Namun teringat sesuatu, sebelum jam kelas selesai, dosen killer itu memberikan tugas hanya kepadaku, katanya hukuman. Padahal, jelas-jelas dia sudah menghukumku di sepanjang mata kuliah bersamanya.
Dengan malas, aku membuka email untuk melihat tugas apa yang ia berikan. Mataku membulat sempurna melihat tugas yang berderet saat membaca email darinya. Aku menghela nafas kasar, berharap ada malaikat yang bisa membantuku.
Tak terasa sudah dua jam aku berkutat dengan laptop di depanku, tapi rasanya tugas yang dosen killer berikan tak kunjung selesai. Aku memutuskan untuk istirahat sejenak dengan menscroll aplikasi Wattpad, mencari cerita yang bisa mengembalikan moodku yang hancur.
📝Bandung, Desember 2025🦋
________________
Happy reading 🦋
Terima kasih udah baca, vote atau komennya. Ouh iya, selain follow akun Wattpad, follow juga sosmed aku, ya ...
IG : NirvanaAna01
Tiktok: nirvana_ana01
YOU ARE READING
Ketika Cinta tak Bertahta
Teen FictionCinta pertama selalu meninggalkan jejak meskipun belum pernah terikat, begitu pula bagiku. Di masa SMA, aku Arruna Kaylee Darellyn diam-diam mengagumi seseorang sejak pertama kali melihat sorot matanya. Sebelum aku lebih jauh mengenalnya, kami terp...
