Bab 1 "Payung Biru"

32 5 13
                                        

Tiada hari tanpa tugas.

Itulah yang dirasakan oleh Yena, siswi kelas dua SMA Permata yang kini sudah berada di penghujung semester keempat. Walau ujian kenaikan kelas telah berlalu, sang guru sepertinya tidak puas jika tidak memberikan tugas tambahan. Entah itu menulis esai, praktikum tambahan, tugas proyek, dan lain sebagainya.

Hal tersebut membuat Yena menggeleng pelan. Ketahuilah, gadis tersebut tidak suka jika ada begitu banyak tugas yang menghampirinya.

Setelah mengerjakan setengah dari keseluruhan tugasnya, Yena berencana untuk ke luar rumah. Berjalan-jalan sebentar setelah hujan deras mengguyur kota tempat ia tinggal adalah ide yang bagus untuk menyegarkan pikirannya. Gadis berambut panjang sebahu tersebut mengenakan jaketnya dan lekas pergi setelah mendapat izin dari kedua orangtuanya.

Tidak mungkin ia pergi begitu saja bukan?

Aroma setelah hujan selalu berhasil membuat Yena tersenyum lebar. Suara jangkrik yang saling beradu, jalanan yang becek, daun-daun dengan beberapa tetes air, dan angin sepoi-sepoi yang menusuk kulit. Yena menyukai semua itu. Pikirannya mendadak jernih sekarang, padahal belum ada lima menit ia berjalan.

“Wah!” Mulut Yena terbuka saat gadis itu menatap ke langit.

Bintang-bintang terlihat sangat berkilauan malam ini, membuat mereka tidak pernah bosan untuk dipandang. “Kalian cantik banget,” gumamnya sambil terus berjalan.

Perlahan namun pasti, Yena mengedarkan pandangannya. Sedari tadi ia tidak melihat satu pun orang yang lewat. Oh, ayolah! Mereka akan menyesal jika tidak merasakan suasana ini. Tunggu, apakah rebahan di kasur dengan cuaca yang dingin seperti ini lebih baik?

Lupakan saja.

“Aw!” Seseorang tidak sengaja menabrak Yena. Ia bisa saja terjatuh jika laki-laki itu tidak menahannya. “Eh! Lo bisa nggak, sih, kalau jalan-“

Belum sempat Yena melanjutkan kalimatnya, laki-laki itu malah menarik tangannya dan mengajak gadis itu untuk ikut berlari.

“Hey! Lo mau ngapain?!” pekik Yena.

Bukannya menjawab, laki-laki tersebut malah semakin kuat menarik tangannya untuk ikut berlari. Tatapan matanya begitu tajam hingga membuat Yena takut dan mulai berpikir macam-macam.

“LO KENAPA, SIH?!” seru Yena. Suaranya sedikit gemetar dan tangannya juga mulai memerah. “Lo siapa, hah?! Mau macem-macem, yaa?!” sambung Yena.

Laki-laki itu mulai mengendurkan pegangannya. Napasnya tersengal-sengal karena masker hitam yang menutupi setengah wajahnya. Tiba-tiba kedua matanya membulat saat sosok lain muncul dari balik tembok. Sosok tersebut memegang payung biru di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya membawa sebuah pisau.

Yena membalikkan badannya. Ia kaget bukan main saat pria bermasker hitam-hampir menutupi seluruh wajahnya-dari balik sebuah tembok hendak menyerang dirinya.

Payung biru yang ia pegang terlepas begitu saja seiring dengan tangannya yang mengayunkan pisau ke arah Yena. Gadis itu refleks menutup mata dan kepala, takut jika pisau mengenai wajahnya walaupun usaha tersebut tidak akan berhasil.

Ckk.

Tunggu, Yena tidak merasakan apa-apa.

“Argh!”

Ringisan itu membuat Yena membuka kedua matanya. Ia tersentak kaget saat tangan laki-laki yang memaksanya berlari tadi tertancap pisau. Darah mulai mengalir dan hal itu membuat tubuh Yena membeku.

Kejadian ini terlalu tiba-tiba hingga membuatnya kesulitan untuk mengendalikan diri. Awalnya ia hanya ingin menjernihkan pikiran namun kenapa malah jadi membebankan pikirannya?

Blue DistanceWhere stories live. Discover now