Jika sudah Rizky

23 5 11
                                        

Jam masih menunjukkan pukul 01.00, suara langkah kaki yang cepat beradu dengan lantai kayu membuat gaduh kamar tidur. Hira menyipitkan mata, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Jika hendak tidur ia selalu mematikan lampu agar tidur menjadi lebih nyenyak dan ketika bangun, tubuh akan menjadi bugar.

Hira menggeliat, matanya masih setengah terbuka. Ia melihat adiknya naik turun ranjang. Hira dan adiknya memang tidur di dalam satu ruangan yang sama tetapi beda ranjang. Dulu ia dan adiknya memakai ranjang bertingkat, tetapi Hira meminta orang tuanya untuk membelikan ranjang lagi.

Tingkah adiknya saat tidur membuatnya khawatir, bagaimana tidak. Cara tidur sang adik seperti pusaran tornado, kadang kaki di atas bantal dan kepala di luar pagar pembatas ranjang, mirip adengan film horror Thailand yang kepala tiba-tiba menyembul dari atas. Beruntung adiknya tidak jatuh kebawah.

Makanya Hira harus mengikat adiknya sebelum tidur agar adiknya itu bisa tidur dengan aman. Bahkan ia hampir tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan keselamatan adiknya karena ikatannya sering lepas.

"Iky, kamu ngapain?" tanya Hira saat matanya telah menyesuaikan dengan cahaya lampu.

Iky tidak menghiraukan pertanyaan Abangnya, ia masih sibuk mengacak-acak lemari. Menarik satu persatu pakaian dan mencocokkan satu sama lain. Hira menggeleng-gelengkan kepala, ranjang adiknya penuh dengan baju.

"Ky...."

"Diem Abang, Iky lagi fokus."

Hira membuang napas pelan, membuka selimut lalu menjewer adiknya, yang di jewer mengadu kesakitan.

"Berani ya, bicara begitu sama Abang?"

"Adu duu, sakit, Bang. Huh ia ia, maaf." Hira melepaskan tangannya lalu melipat kedua tangan di depan dada sembari menunggu jawaban Iky.

"Jadi gini, Bang. Nanti sore tuh ada acara Halal bi Halal sekolah. Terus dresscode nya tuh hijau sama putih, Bang."

"Terus ...."

"Iky enggak punya warna itu, cuma ada sweater putih doang. Huaaa."

Abang menggeleng-gelengkan kepala lalu menyentil dahi Iky. "Sekarang masih dini hari, lanjutin tidur, Ky. Lagian acaranya nanti sore kan. Sstt, besok pagi Abang temenin beli. Oke, sekarang bobok yang manis yah. Lipat lagi bajunya." Iky mengangguk pasrah.

Pagi hari pukul 05.00.

"Abanggg! Bangun!" Hira kaget setengah mati, Iky berteriak di dekat telinganya.

"IKY, sini!" teriak Hira balik, ia berdiri namun terjatuh karena matanya masih menyesuaikan cahaya lampu kamar.

"Kejar Iky kalo bisa. Haha," balas Iky sembari membuka pintu dan turun menuju dapur.

Di dapur, Ibu sedang memasak sarapan sedangkan Ayah seperti biasanya, apel ke kamar mandi terlebih dahulu. Yah, menunaikan hajat terpenting dalam hidup katanya. Ciku dan Ciko masih tidur di atas ranjang pribadinya.

"Kenapa sih pagi-pagi mulai ribut?" tanya Ibu seperti biasa, padahal ia sudah tahu. Jika kedua anaknya sedang ribut itu artinya si adik atau si abang membuat ulah lebih dulu. Lalu keduanya akan berkejar-kejaran keliling rumah hingga salah satu menangis.

"Itu, Bu. Abang tuh susah bangunnya."

"Heh, alasan dari mana itu. Enggak, Bu, tuh Iky yang mulai. Lagi enak tidur main teriak-teriak aja."

"Ye..., lagian Abang tuh, di panggil-panggil enggak bangun, di cubit masih aja tidur eh malah nyalahin nyamuk."

"Oh, jadi kamu toh yang bikin tangan aku merah-merah. Kamu-"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 15, 2022 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

HiraikyWhere stories live. Discover now