"Penyuka bulan di gelapnya malam"
@seladwrhyu
Selena Paramita gadis sekolah menengah ke atas yang masih menduduki kelas 11 cantik, pintar, punya kekurangan? jelas ada. Mempunyai sahabat bernama Hana Trisna yang sayang nya sudah beda kota.
Tinggal b...
Tinggal di kota besar bersama saudara bukanlah hal menyenangkan. Demi harapan orang tua ku yang sudah tidak lengkap itu aku rela meninggalkan kota kelahiran ku dengan sejuta kenangan.
Sebuah kota besar yang menjadi ibu kota negara Indonesia dan disebut kota metropolitan oleh orang-orang.
Beradaptasi dengan orang-orang yang terbiasa hidup mandiri seperti tidak membutuhkan orang lain. Bukan mahkluk sosial namanya.
Aku pindah bukan saat yang tepat, pindah ke kota besar dan bersekolah di sana disaat aku kelas 11 SMA daftar lewat prestasi ke trima walaupun nilai ku minim sekali aku bersyukur tidak terlalu membebani ayah.
Terbesit rasa takut saat ayah meminta ku bersekolah di kota besar itu. Aku tidak menolak, hanya diam dan memberanikan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi saat tidak ada orang kesayangan yang di sampingku menemani proses belajar ini.
Mau tak mau aku harus berangkat hari ini pukul 08.30 WIB dengan diantar ayahanda tercinta dan sahabat ku Hana.
Rambut di kucir kuda dengan pakaian yang sudah rapi bersih aku menghela nafas.
Selesai merapikan baju di koper aku melihat sekeliling kamar ku berat rasanya meninggal kan ayah sendirian di rumah, siapa nanti yang mau diajak ngobrol?, apakah ayah tidak akan kesepian?, siapa yang masakin ayah? Pertanyaan itu selalu muncul dibenak ku.
Teringat saat ibu sudah meninggal, saat aku bangun kesiangan kulihat ayah berkutat di dapur dengan alat-alat seperti wajan dan juga istri nya sotel (buat numis) kulihat ayah seperti kebingungan di kompor ada wajan yang menggoreng telur yang sudah gosong, dan ayahku memegang pisau memotong bawang merah dengan mata berkaca-kaca. Aku berjalan dengan tertawa dan langsung mematikan kompor ya.
Air mata ku menetes begitu saja pertanyaan muncul lagi dibenak ku 'apakah ayah akan terurusi' aku tak kuasa air mata ku mengalir deras mencoba tenang mendongak menatap langit-langit kamar supaya air mata ku tak jatuh lagi.
Tok tok
Kulihat ayah sedang berdiri di ambang pintu dengan tersenyum tipis aku mengusap air mata ku dan ikut tersenyum, demi apapun yang saat ini jadi tujuan ku adalah melihat wajah ayah dengan senyumannya.
"Sudah siap?" Aku pun mengangguk, mengambil sling bag dan menyeret koper keluar rumah bersama ayah.
Baru saja melewati pintu aku sudah mendengar teriakan yang memanggil namaku dengan suara keras aku tau suara siapa itu. Aku hanya tersenyum memang begitu kelakuan sahabatku.
Menuju stasiun menaiki mobil saudara Hana aku bersyukur ada Hana yang bisa menolongku. Saudara Hana sudah didalam dan kami bertiga segera masuk untuk menuju stasiun.
•••
Sampai di stasiun kita semua turun. Roy saudara Hana beda 2 tahun dengan kami lulusan tahun ini, masih muda kan. Tinggal di Bandung dan mau kerja di sana.
"10 menit lagi kereta kamu berangkat." Kata Roy pada aku.
"Makasih." Ucapku sambil tersenyum dan menjabat tangannya.
"Santai sekalian jalan-jalan."
Aku beralih pada Hana yang sudah mau mewek.
"Gausah cengeng, bisa video call kali."
"Iya-iya gitu aja ngatain." Aku tertawa dan kami berpelukan.
"Jangan lupain sahabat kamu ini ya." Pinta Hana.
"Nggak akan dan nggak akan pernah." Kami tersenyum.
Dan terakhir ayah.
"Jaga diri baik-baik." Ucap ayah. Aku langsung memeluknya air mata mulai mengalir.
"Ayah juga, jaga kesehatan, jangan kerja aja kalo cape istirahat, keliling biar gak kesepian ya yah." Ucap ku dengan mengelus punggung ayah.
"Pasti nak pasti," Air mata ayah ku juga menetes.
"Do'a in semoga harapan ibu yang sudah tenang di sana tercapai."
"Ayah selalu doa in kamu nak tak kan terlewat nama mu di doa ayah,"
Kereta dengan tujuan Surabaya-Jakarta akan segera berangkat diharap segera memasuki kereta. (Cuma ngarang gak tau kalo salah, maap)
"Sudah-sudah, ayo kamu masuk kereta."
Aku melepaskan pelukan itu pelukan terakhir masih lama lagi aku bisa dipeluk ayah.
Aku berjalan dan memasuki kereta kulihat di cendela mereka masih stay berdiri menunggu kereta berjalan.
Aku melambaikan tangan disaat kereta mulai berjalan. Aku duduk tenang mengambil buku dan headset di sling bag. Mendengarkan musik yang berjudul 'Senyumlah' dari Admesh. Dan buku yang berjudul,
Seribu Wajah Ayah.
Selamat untuk aku, untuk memulai kehidupan berbeda tanpa ayah dan ibu.