Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Shena berusaha merenggangkan tubuhnya yang pagi ini terasa seperti akan patah bersamaan dengan mata yang juga berusaha mencari cahaya. Dan saat matanya berhasil terbuka, ia menoleh ke sisi kirinya dimana terdapat seseorang yang masih tertidur dengan nyenyak sambil memeluk pinggangnya posesif.
Ia menatap langit-lagit kamar beberapa saat, lalu ia menghembuskan napasnya kasar. Tubuhnya masih terhalang oleh selimut, tanpa busana.
Tanpa bermalas-malasan lagi, Shena meraba ke arah lantai mencari pakaiannya yang tergeletak dibawah sana.
Setelah pakaian itu menutupi tubuhnya, ia berjalan gontai menuju kamar mandi, sebelum ia melanjutkan untuk masak.
Tak sampai tiga puluh menit ia sudah keluar dari kamar mandi kamar tersebut, namun sebelum pergi dari kamar itu dengan membawa barangnya, ia kembali memandangi sosok yang masih tidur damai dengan keadaan telungkup.
Anggaplah Shena bodoh karena masih dengan baik mau memasak untuk lelaki brengsek yang telah merusak hidupnya, bahkan sekalipun lelaki itu tidak pernah memintanya untuk masak.
Lelaki itu bukan pacarnya apalagi suaminya. Tidak perlu terlalu diperjelas, kalau sudah begini, mau orang bilang apa juga, ia tidak bisa membantah. Dirinya sendiri bahkan sudah terlalu merasa rendah.
Dia Starben, orang-orang memanggilnya Ben. Lelaki dengan perawakkan seperti malaikat, ia sangat tampan, siapapun mampu jatuh cinta pada lelaki itu hanya dalam sekali pandang.
Wajahnya sangat berbanding jauh dengan sifatnya, mungkin iblislah yang mewarisi sifatnya.
Ada satu hal yang kalian harus tahu, siapapun mampu jatuh cinta pada lelaki itu dalam satu kali pandang dan Shena salah satunya. Sekali lagi, anggaplah dia bodoh.
Tapi saat lelaki itu datang padanya dan berbicara tentang masa lalu dan kesalahan yang ia buat, Shena dibuat bingung.
Awalnya ia merasa di atas awan saat Ben mendekatinya, sampai pada saat dimana ia melakukan hal keji padanya.
Memperkosanya dan membelenggunya dalam sekali genggam sebagai bentuk penebusan dosa yang ia perbuat dan perlahan Shena mengerti.
Dan setelah selesai masak. Ia mengambil barang-barangnya yang ia letakkan di sofa ruang tamu dan pergi meninggalkan apartemen milik Ben.
Masa bodoh kalau lelaki itu berakhir marah, lagi, karena berani meninggalkan dia tanpa pamit.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Aku gak bisa kehilangan kamu. Aku mencintaimu, Shena"
———
Ini bakal jadi cerita baru Nut setelah not My Sister selesai, ya atau kalau berubah pikiran bakal di pub kapan aja sih hahaha.