Prolog

522 36 2
                                        

Bagas menapakkan kakinya tepat di depan gerbang sekolah barunya, ia menghela nafas panjang, menghirup aroma dunia baru, dunia yang hanya ada masa depan tanpa adanya masa lalu. Ia melangkah masuk dengan begitu yakin, yakin bahwa semuanya akan baik baik saja dan akan berjalan seperti apa yang ia harapkan. Sekolah itu tak kalah bagusnya dengan sekolah tempat ia menerima Beasiswa, tercatat beberapa kali sekolah barunya itu meraih prestasi baik tingkat Nasional maupun Internasional.

Lama ia mencari kelas barunya. Ia tergabung dalam kelas XI IPA 1, hingga tepat saat bel berbunyi ia menemukan kelas itu, berbeda dari sekolah sebelumnya, ia bisa langsung masuk tanpa harus ada pengantar pengenalan dari wali kelas.

Seluruh penghuni kelas itu saling berbisik dan sesekali menoleh kearahnya, ya Bagas tau, bahwa ia adalah orang asing dikelas itu, mereka semua telah saling mengenal satu sama lain sedangkan ia tak mengenal seorangpun.

“Maaf, Kursi yang kosong dimana ya ?” Tanyanya pada salah seorang penghuni dikelas itu.

“Terserah sih, kan hari ini baru awal masuk, jadi bebas mau duduk dimana, semaunya aja” Jawab anak itu, Bagas tersenyum menandakan rasa terimakasih yang tulus dari dalam hatinya.

Bagas memilih duduk dibangku belakang, karena ia sadar bahwa ia adalah murid baru, ia memilih bangku “Sisa” saja.

Guru pengampu datang, saat itu Bagas langsung disuruh maju dan memperkenalkan diri. Bagas maju dengan langkah mantap dan wajah yang begitu ceria.

“Assalamu’alaikum, Selamat pagi semua”

“Wa’alaikumsalam” Jawab seisi kelas serempak.

“Mmmm.. Salam kenal, Nama Saya Bagas” Katanya sambil mengedarkan seluruh pandangannya ke setiap sudut kelas.

“Terusss ?” Kata salah seorang Siswi.
Bagas menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia bingung harus menjawab apa.

“Pindahan dari mana kamu ?” Tanya guru pengampu.

“Ng… dari Desa saya Bu”

“Kenapa duduk dibangku belakang ?”

“Gak enak aja Bu kalau harus duduk didepan, namanya juga murid baru, gak sopan” Jawab Bagas.

“Bukannya apa, tempat duduk biasanya mendefinisikan karakter siswa itu, kalau duduknya di paling belakang biasanya ya trouble maker atau nggak siswa formalitas aja”

“Formalitas bu ?”

“Iyaa, maksudnya yang penting datang ke sekolah, mau dapat ilmu atau nggak pun yaa, yang penting sekolah, kamu termasuk siswa yang gimana ?” Tanya Guru Pengampu.

“Mmm.. Saya siswa baik kok bu, tenang aja, Saya juga jago main voli, dulu saya masuk tim inti di sekolah saya yang dulu”

“Syukurlah kalau begitu”.. Bagas mengangguk. Ia tak tau lagi harus berbuat apa.

Guru pengampu mengedarkan pandangannya, seolah mencari seseorang diantara siswa dan siswi penghuni kelas.

“Waah, Syukurlah, Anak brandal itu gak ada dikelas ini, pembuat rusuh dan pembuat onar”

Bagas bingung, entah siapa yang guru itu maksud, mungkin, salah satu trouble maker di sekolah ini.

“Kata siapa dia gak ada dikelas ini Bu .. Orang dia belum datang, kan hobinya telat” Jawab salah seorang siswi.

Bagas masih bingung kemana arah pembicaraan itu, namun tiba-tiba.

“Assalamu’alaikum” Terdengar suara seseorang memasuki kelas.

Bagas menoleh kearah sumber suara, ia terkejut melihat Zaki yang saat ini berada didepannya. Namun Zaki seolah tak pernah mengenalnya, ia masuk sebatas menoleh kearahnya namun ia terus berjalan menuju kursi kosong yang tepat bersebelahan dengan kursinya. Ia duduk menatapnya dengan tatapan asing.

“Nah begitu itu si brandal songong” Kata Bu Guru.

“Ibu Cuma mau bilang, jangan bergaul dengan anak itu, nanti masa depan kamu suram” Lanjut Bu Guru sambil menyuruh Bagas duduk.

Bagas berjalan dengan tatapan yang tak lepas dari Zaki. Begitupun sebaliknya.

“Halo Zak” Sapa Bagas yang telah duduk disamping Zaki.

Zaki tak merespon.

“Gw Bagas, yang kenalan di Danau sore itu , lo lupa ?” Bagas meyakinkan Zaki. Namun tetap saja, Zaki tak bergeming. Bagas menyerah dengan sikap Zaki.

Saat jam pelajaran dimulai pun, sesekali Bagas melirik kearah Zaki yang begitu dingin. “Ini Zaki yang di Danau bukan sih ?” Batinnya.

Hingga bel istirahat berbunyi tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Zaki.

Zaki meninggalkan kelas.

Bagas dibuat penasaran dengan tingkah Zaki. Ada apa sebenarnya dengan Zaki.

**
Hari pertama menjadi siswa baru disekolah itu, Bagas cukup senang karena teman teman sekelasnya begitu baik kepadanya, bahkan saat istirahat pun ia di traktir oleh salah seorang teman dikelasnya.

Begitu Bel panjang berbunyi, pertanda kegiatan belajar mengajar berakhir, Bagas tak langsung beranjak. Ia sengaja menunggu Zaki yang tetap diam seribu Bahasa. Satu persatu teman sekelasnya meninggalkan kelas, menyisakan ia dan Zaki. Suasana sepi, tenang, dan begitu canggung antara keduanya.

“Lo Zaki yang di Danau sore itu kan ?” Bagas memulai pembicaraan dengan ragu.

“Bukan !” Jawabnya pelan sambil menoleh kearah Bagas.

“Gak mungkin gw salah orang” Ucap Bagas sangat yakin.

“Gw bukan Zaki, tapi Yanto” Jawab Zaki dengan menampakkan senyumnya yang begitu indah.

Entah,melihat senyum Zaki saat itu Bagas merasa sangat senang. Seolah Zaki memberikan dunia baru di sekolah itu.

Bagas merespon dengan senyum manisnya.

“Mau ikut gw gak ?” Ajak Zaki begitu ramah.

Bagas heran dengan sikap Zaki yang jauh berbeda.

“Lo gak mau tanya apa apa gitu ?, kan gw siswa baru disini “ Kata Bagas sambil merapihkan Buku di mejanya.

“Nggak,” Jawab Zaki singkat, namun sejak tadi Zaki tak pernah memalingkan pandangannya dari Bagas.

“Kenapa ?” Kata Bagas.

“Biar gw penasaran”

“Lah, maksudnya ?”

“Gw mau, apapun yang gw ingin tahu dari diri lo, gw bisa dapetin itu tanpa gw melibatkan lo”

“ Ribet banget, tinggal nanya doang cuy” Jawab Bagas

“Gw gak mau melibatkan lo dengan urusan gw”

“Urusan yang mana ?” Tanya Bagas.

“ya itu, apapun yang ingin gw tau tentang lo, itu urusan gw, lo gak perlu tau”

“Kenapa ?”

Zaki menghela nafas.

“Gw boleh minta 2 hal gak dari lo ?”

“Bukannya di jawab, malah minta sesuatu, yaudah iya, apa ?” Bagas sedikit mendekatkan wajahnya. Agar ia bisa mendengar jelas permintaan Zaki.

“Jangan pernah terlibat dengan urusan gw dan juga jangan pernah protes dengan apa yang gw lakuin” Zaki Nampak begitu serius dengan permintaannya, sorot matanya begitu tajam pertanda ia tidak sedang bercanda.

Bagas mengangguk. Jantungnya berdegup kencang. Namun, ia tak bisa mendefinisikan pesan apa yang sedang ingin disampaikan oleh tubuhnya. Hanya saja, ia merasakan bahagia saat itu.

“Yaudah, kalo lo gk mau ikut gw gak papa, lain kali aja, gw gak maksa” Kalimat Zaki terdengar begitu manja.

“Gw duluan kalo gitu” Katanya sambil meninggalkan Bagas seorang diri.

Pandangan Bagas tak lepas dari sosok Zaki saat itu, hingga saat diujung koridor, zaki menoleh dan memberikan senyum indahnya kepada Bagas.

"Gone"Stories to obsess over. Discover now