Syal Rajut di Musim Dingin

21 1 0
                                        

Uap hangat keluar dari mulutku dan menguar diudara, sesaat aku mendesah pelan di tengah keramaian yang memuakkan. Bising yang membingungkan. Aku melangkah dengan terburu-buru agar cepat sampai di tempat tinggalku, namun jalanan Sapporo malam ini terlihat lebih jejal dari biasanya. Tak dapat dimungkiri, natal akan tiba.

Ah, natal tahun lalu mengingatkanku pada pemuda berambut acak-acakan dengan senyuman lima jarinya yang khas. Dia tertawa, mengoceh dan sesekali menatap pohon natal dengan binar dikedua matanya; bagaikan cahaya  yang berpendar menyilaukan dari langit.

Yang kudengar kala itu, desisan samar yang sering dia suarakan. Menatapnya bingung tanpa bisa berbuat banyak hanya itu yang kulakukan. Dia masih saja menunjukkan senyum hangat nan cerah bak mentari pagi. Entah apa yang terjadi dengannya, karena desisannya terulang beberapa kali. Saat naluriku ingin bertanya apa-yang-terjadi, dia menjadi agak kontroversial.

Satu tahun yang lalu juga, laki-laki hidung belang dan berlagak seperti orang pengidap megalomania; memutuskan hubungan kami tanpa tahu kesalahannya yang terlampau banyak. Dia narsistik sekali, memuakkan. Aku tidak akan merasa kehilangan dan galau yang terlarut hanya karena putus hubungan dengan laki-laki sepertinya.

Omong-omong tentang hubungan, dekat jauh atau datang dan pergi. Begitulah siklus kehidupan yang dirasakan makhluk yang bernama manusia. Kepergian seseorang bukan hal tabu lagi bagiku, sudah terlampau kebal dengan kata itu. Orang-orang tak akan peduli sekalipun aku merengek dan meratap tanpa alasan. Jadi, daripada harus mengurusi hal yang tidak perlu dalam hidupku, aku akan bersikap acuh. Kepergian tak lagi menjadi kata sesat yang akan membawaku kedalam arus berkabung tanpa tujuan. Dia sudah menjadi 'teman' yang tak berwujud dalam kesendirianku. Katakanlah kau akan menangis dan meratap, sesaat kehilangan orang yang kau sayang. Kehilangan orang yang begitu peduli padamu. Kau sendirian. Kesepian. Dan menangis lagi hanya untuk mengenang masa indah bersama orang terkasihmu. Lambat laun mereka hanya nama, dan kau pulih dalam beberapa waktu—walau itu kelihatannya tak sesingkat yang kau kira—sedangkan mereka yang tak tahu apa-apa tentangmu akan tetap melalui keseharian membosankan tanpa pengaruh yang berarti. Jadi daripada kau bersedih, rangkullah itu dan hidup seolah semua tak pernah terjadi. Dunia tak butuh tangisanmu. Dunia tak butuh keterpurukanmu. Hanya saja, dunia akan menuntutmu untuk baik-baik saja.

Aku mengeratkan cardigan berwarna army yang kukenakan, menghentikan langkah di trotoar dan menunggu lampu jalan untuk pejalan kaki berubah warna menjadi hijau. Sepertinya tahun ini aku akan menghabiskan natalku sendirian. Membaca buku di depan api unggun dan menyeduh secangkir kopi panas tanpa perlu repot-repot kedinginan seperti orang-orang diluar sana. Ah, tidak. Mereka di luar akan menggandeng pasangan masing-masing, lantas apa yang ditakutkan jika udara dingin kau rasakan? Penghangat otomatis ada di sekitarmu. Bahkan di dekatmu.

Aku ingin tanya, apa kau pernah mengalami hal yang tak diduga? Misalnya kau bertemu dengan seseorang yang saat itu juga kau menaruh padanya, seperti terkesima. Lalu tanpa diduga pun, dia hilang begitu saja tanpa kau bertemu lagi dengannya. Kalau pernah, sekarang aku berada diposisi itu.

Pemuda bersurai berantakan dengan senyum lima jari yang cerah dan menghangatkan. Satu tahun yang lalu, kami mengobrol dan bergurau. Setelah malam natal usai, tak pernah ku dapati dia walau hanya sekedar berpapasan di tempat kami bertemu. Aku sendiri lagi. Men-sugesti diri kalau itu hanya kebetulan. Tak pernah kubayangkan akan menanti natal selanjutnya dan berharap dapat bertemu kembali dengannya. Harapan konyol dan kekanakan.

Aku tahu.

Tapi aku juga punya perasaan seperti itu.

Aku kembali berjalan ketika lampu sudah berubah warna. Kulangkahkan kakiku secepat yang kubisa, aku sudah terlambat untuk sampai rumah. Tapi satu hal menarik atensiku. Membuatku terpaku barang sedetik pun. Tuhan seperti menjawab doaku. Dia disana, berdiri dengan gagahnya dan kulihat senyumnya yang merekah masih sama seperti satu tahun lalu. Aku berdebar-debar menanti apa yang selanjutnya terjadi? Apa kami akan saling menyapa dan jalan berdua menikmati salju-salju yang mulai turun? Atau kami akan lewat seolah tak pernah saling berjumpa.

Syal Rajut di Musim Dingin Stories to obsess over. Discover now