Romance - Mysterious Fantasy - Thriller
"Kekuatannya terkubur bersama kematian, Dia kembali membawa jiwa yang dingin membeku"
❄️❄️❄️
Kecelakaan Sang Bunda yang rancu membuat Shaileia bertahan untuk menyelidiki kasusnya. Namun, semenjak kedatangannya...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
❄️❄️❄️
20. One Last Breath
"Aku enggak tau siapa Mellisa," jawab Thrixa.
Deniz pun mengangguk dan kembali diam dengan menyeruput teh yang diteguknya tanpa perlahan. Deniz menghabiskan seisi minuman manis bercampur embus kesal.
Pria itu berlanjut menyandarkan diri dibangku kayu dengan mata elang yang tak henti menyapu kepenjuru ruang, netranya terhenti kearah rak tempel bertata buku-buku klasik dan separuh dari buku itu adalah novel yang baru dirilis.
"Gimana caranya kamu bisa ngedapetin buku-buku itu?" tunjuk Deniz penasaran.
Terjadi hening sejenak saat Thrixa menatapi rawut wajah Deniz yang mengintrogasi dirinya, tetapi bawaan Thrixa memang selalu tenang dan lembut. Jauh dalam pikiran Thrixa, ia tak mencurigai Deniz sebagai orang yang jahat, karena ia percaya jika Kaia tidak mungkin menyelamatkan orang yang merugikan mereka.
"Buku itu temanku, Kaia membawakannya untuk mengisi waktu luang tiap kali dia pergi. Kaia enggak bisa lama-lama disini," Thrixa membalas.
Deniz mengangguk, namun kemudian ia mengernyit, "Kenapa?"
"Kenapa, apanya?"
"Enggak ikut dia keatas aja?" Deniz memajukan wajahnya untuk membingkai paras Thrixa.
"Aneh kan? Sebenarnya ini tuh tempat apa? Dan.., ngapain capek sendirian? Enggak rindu keluarga?" tanya lelaki itu.
Thrixa menyahut santun,"Seperti yang kamu tau, kita terjatuh dari lubang yang sama lalu terjebak di lorong ini tanpa bisa keluar,"
"Lagi pula, keluargaku sekarang cuman Kaia," tambahnya.
Deniz makin tak yakin jika Thrixa itu manusia, tetapi ironisnya ia masih berharap jika perempuan itu adalah Mellisa yang lupa ingatan.
Di satu waktu, Thrixa menunduk memainkan jemari, "Aku, sudah ngelakuin banyak hal untuk pergi dari sini, Kaia juga selalu bekerja keras ngelakuin berbagai cara buat ngebebasin aku. Tapi, tiap kali aku mau kedinding jurang itu, tubuhku jadi enggak bisa gerak sama sekali, seperti membeku." Thrixa menuturkan.
"Beku?" ulang Deniz tak memahami.
"Maksudmu ada ruang pendingin disana? Bukannya ini cuman jurang? Apa masalahnya?"
Thrixa sedikit mendekat, "Dibawah sana bukan cuman jurang biasa, ini dunia berbeda."
Disaat yang bersamaan Kaia keluar dari kamar utama, taringnya sudah memendek yang tersisa hanyalah bibir mungil dan lembab. Kaia tampak sangat cantik dengan balutan dress hitam dihiasi surai blonde platinum tergerai sepinggang.
Kaia dengan jahil duduk disamping Deniz memakai kecepatan 1 detik, jantung pria itu hampir berhenti karena kelakuan Kaia seperti menusuk keberadaan ia duduk. Deniz menoleh kesamping kanan dan hampir terjatuh hanya untuk mengalihkan tatapan Kaia, Kaia ikut bergerak kekanan menatapi mata Deniz, Deniz kekiri Kaia ikut kekiri, maka Deniz mengambil nafas lelah sambil menekan tengah alis.