2 Tahun

3 0 0
                                        

Aku berjalan terburu-buru menuju ke arah meja 12 dimana seorang laki-laki melambaikan tangannya disana.

"Udah lama mas? maaf ya aku kejebak macet" Kata ku pada laki-laki dihadapanku ini

"Baru 30 menit kok" Jawabnya sambil tersenyum, dia laki-laki paling sabar sebagai pacar yang pernah aku temui, dan bersifat kebapak-bapak an ini.

Afdhi Rizal, kekasihku selama 2 tahun ini sudah menemani aku dari aku sebelum lulus kuliah, sampai aku sudah bekerja, kami terpaut 2 tahun.

"Kamu udah aku pesenin steak cordon blue" Tambah Mas Afdhi sambil tersenyum terus menatapku yang membenahi kerudung ku

"Oh yaa? waah makasih mas" Jawab ku tersenyum menggenggam tangannya.

"Selamat hari jadi 2 Tahun Sayang" Kata Mas Afdhi memberikan bunga mawar merah 1 bucket.

"Waaah, makasih mas" Jawab ku dengan senyum merekah-rekah dengan bahagia menerima hadiah Anniversarry ke 2 kami.

Aku bergantian memberikan 1 kotak hadiah untuk Mas Afdhi, aku memberikannya Jam tangan ber merk.

"Jam? " Tanya Mas Afdhi serius

"Iyaaa" Jawabku sedikit ceria

"Makasih loh sayang, tapi harusnya ini buat kamu supaya kamu gak lupa waktu, dan cepet bales chat aku" Lanjut Mas Afdhi mengejek ku

"Aku juga beli yang sama kok" Jawab ku menurunkan sedikit jas pergelangan tanganku dan menunjukkannya padanya.

"Oh jadii ini Couple" Lanjut Mas Afdhi ikut bahagia dan mencoba memakai jam pemberianku.

"Jadi sayang, gimana kerjaan kamu hari ini? " Tanya Mas Afdhi sambil memakai jam nya.

"Hmm baik kok mas, aku juga di promosiin naik jabatan, jadi sekretaris manager" Jawab ku bersiap menyantap  makanan didepanku.

Banyak yang menjadi obrolan kami, aku yang memang lebih cuek dan pasif dalam hubungan, terikat dengan lelaki paling perhatian dan kebapak-bapakan ini, aku memang suka dengan lelaki yang dewasa.

Di mobil pun, ketika ia mengantarku pulang, ia terus bertanya tentang kegiatanku, keluargaku dan yang lain...

Iya dia sudah aku kenalkan lebih dulu ke keluarga, padahal aku memang anak paling merahasiakan sesuatu dan memendam.

Gara-gara kedua kakak kembarku, Dhania dan Dhoni yang terus merecokiku dan kepo tentang kehidupanku, akhirnya keluarga pun tahu, ditambah Mas Dhoni yang paling overprotective kepadaku.

"Sayang, aku mau ngomong sesuatu" Kata Mas Afdhi tiba-tiba serius, padahal aku hendak merangkai kata puitis dalam otakku

"Mau ngomong apa? " Jawabku to the point menatapnya lekat-lekat.

Diraihnya tanganku dan digenggam erat-erat, aku jadi deg-degan dan agak khawatir.

"Mama udah nyuruh aku segera menikah, kamu tahu sendiri aku anak pertama, aku yang harus ngasih cucu pertama untuk ibu dan bapak" Kata Mas Afdhi

Aku terus deg-degan, berpikir apa mas afdhi mau menikah sama aku? tapi bertemu dengan orang tuanya aja belum pernah, kan mereka orang luar jawa di Lombok.

"Aku mau kenalin kamu ke keluarga di lombok" Tambah Mas Afdhi terus menggenggamku sepertinya berharap agar aku mau.

Aku mengangguk-angguk dengan gugup

"Eee emang kapan mas? aku hari biasa harus kerja" Jawab ku to the point tanpa babibu

"Aku mau nya hari sabtu minggu, kan kita sama-sama libur kerja" Kata Mas Afdhi menatapku saat menunggu lampu merah.

Aku mengangguk setuju walaupun jantung rasanya berdegub lebih cepat dari biasanya, aku yang baru 1 tahun saja bahagia dengan dunia kerja apakah akan siap menghadapi dunia baru lagi yaitu dunia pernikahan?

Lebih baik aku tenangkan dulu pikiranku, keluargaku tenang-tenang saja dengan hubunganku bersama Mas Afdhi, tidak mungkin ada halangan bukan?

Tapi kenapa aku khawatir berlebihan begini!

Kawan Hidup (On Going) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang