Kedua insan itu berjalan beriringan di sebuah taman tepat saat musim semi tengah berlangsung. Bunga-bunga bermekaran indah, seperti senyum manis si wanita yang tak luntur sejak tadi.
Netranya terus menatap tangannya yang digenggam oleh pria yang sudah lama ia sukai. Kurang lebih 7 tahun sudah ia menyukai pria ini dalam diam. Sebagian orang percaya bahwa angka tujuh adalah angka yang membawa keberuntungan, mungkin hal itu juga berlaku untuk Naya.
Pria itu membawanya duduk di sebuah kursi yang berada di bawah pohon sakura. Si pria masih setia menggenggam tangannya.
Beberapa menit sudah berlalu, tetapi belum ada sepatah-katapun yang diucapkan oleh pria itu. Tentu hal ini malah membuat Naya bingung. Ingin memulai sebuah obrolan, tetapi apa yang perlu ia bahas. Apa pria itu suka topik berbobot yang kadang bikin kepala Naya mau pecah atau hal-hal ringan seperti membahas kucing tetangganya yang baru saja melahirkan.
Semua terlalu rumit bagi Naya, maka dari itu ia lebih memilih diam sambil terus memandang genggaman tengan mereka. Berpikir positif saja, mungkin pria itu sedang membuat sebuah pantun untuk awalan obrolan mereka. Cakep.
"Nay." panggil pria itu lembut.
Jantung Naya langsung berpacu begitu cepat. Tanpa sengaja ia meremat genggaman tangan mereka.
"Nay." panggil pria itu sekali lagi.
Namun entah mengapa, rasanya begitu sulit untuk mengangkat kepalanya agar bisa melihat pria itu dengan jelas.
"Kamu gak mau tatap aku karena takut, ya?"
Pria itu suka ngelawak juga rupanya. Mana mungkin ia takut di saat-saat seperti ini. Apalagi dengan pria yang ia sukai. Rasanya Naya ingin berteriak kepada pria itu, tetapi mengapa sekujur tubuhnya terasa begitu kaku, seperti ada sesuatu yang sedang menahannya.
Ya ampun gusti, ini kenapa gue jadi kaya kanebo kering, sih.
Pria itu terkekeh. "Mungkin kamu gugup sama kaya aku," ucap si pria, "yaudah gapapa, kamu dengerin aja, ya."
Pria itu berdehem sejenak. "Jadi..."
Deg
Naya mencoba mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggerakkan anggota tubuhnya barang sedikitpun dan hasilnya sia-sia saja. Namun, bukan Rainnaya Kusuma namanya jika menyerah dan pasrah dengan keadaan.
"Sebenarnya..."
Deg
Naya mulai merapalkan doa dalam hati. Dari doa a sampai z, bahkan sampai doa makanpun juga tak ia lewatkan.
Gak lucukan di momen romantis yang sudah ia tunggu-tunggu dan pertama kali dalam hidupnya ini, ia tidak bisa menatap wajah crush 7 tahunnya yang sedang menyatakan cinta.
"Aku..."
Klekk
Kepalanya bisa digerakan sedikit. Oke sedikit lagi, Nay. Yuk, bisa yuk! batin Naya bersemangat.
"Itu..."
Setelah perjuangan yang dilakukannya, akhirnya Naya bisa mengangkat kepalanya dengan bebas. Perlahan tapi pasti sedikit demi sedikit ia melihat sisi wajah pria itu. Dimulai dari dagu, lalu bibir, lanjut ke hidung, dan...
Wanita bergigi kelinci itu tiba-tiba melebarkan kedua bola matanya kala melihat wajah si pria di depannya dengan jelas. Bukan, ini bukanlah crush-nya. Melainkan Dion si tetangga gila yang tinggal di samping rumahnya.
Menyadari keterkejutan Naya, pria itu menunjukkan wajah yang benar-benar menjengkelkan di mata Naya. Dion mengeluarkan smirk-nya. Oh tidak, senyum itu. Sebuah pertanda bahwa Naya akan berada dalam bahaya tak lama lagi dan sesuai prediksinya.
YOU ARE READING
Potret
General FictionBanyak orang bilang jika Naya sangat beruntung menjadi tetangga seorang Raden Mas Dion Wicaksana yang terkenal sangat tampan, tegas, dan berwibawa di kampusnya. Bahkan sampai dijuluki seorang Ice Prince. Mereka tidak tau saja seberapa sering Rainna...
