#1 Bab 1
Sinar matahari yang tengah terik menerobos melalui celah-celah jendela kamar. Hasna merangkak menuju ranjang tidur. Kaki wanita itu tak sanggup menopang tubuhnya sendiri, karena terasa sangat lemas. Perempuan berusia 22 tahun tersebut kembali tersedu, seraya menutup wajah dengan selembar kertas yang beberapa menit lalu ia terima.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Tap!
"Hasna nggak sanggup denger suara Abi," rintihnya seraya mematikan ponsel seketika.
Tadinya Hasna sangat berharap agar luka hatinya saat ini sedikit terobati, dengan mendengarkan rekaman ceramah sang ayah. Namun baru mendengar suara bacaan basmalahnya saja, perempuan tersebut sudah tidak sanggup. Luka yang masih sangat baru. Perihnya begitu terasa. Sakit yang dialami Hasna kian luar biasa, kala mendengar suara ayahnya yang telah wafat sejak ia berusia tujuh tahun. Ia sangat ingin mengadu kepada sang ayah. Namun, dirinya tidak berdaya.
"Hasna ...." Seorang wanita paruh baya datang mendekapnya seketika.
"Um-mi--" ucap Hasna terbata. Perempuan itu terisak dalam pelukan wanita berpakaian syar'i yang bersamanya. Air mata meleleh, tumpah ruah, hingga tak dapat dikendalikan. Sungguh kabar yang sangat menyakitkan ia dengar, bahkan sekalipun suatu saat rasa sakitnya akan sembuh. Namun, luka yang dalam tentu akan meninggalkan bekas.
"Bagaimana bisa Gus Amin tega menduakan saya? Saya masih tidak percaya dengan kabar ini. Selama ini, kami menjalani pernikahan ini dengan baik. Dia begitu sayang terhadap saya. Saya pun demikian, Umi," keluh Hasna dalam dekapan wanita yang selama ini mengasuhnya. Air mata perempuan itu terus bercucuran.
"Ya Allah, Nduk. Umi lebih nggak ngerti. Tapi ... apa pun keputusan kamu setelah ini, kami pasrah jika nantinya lebih baik kamu menjemput kebahagiaan baru."
Hasna mengangkat kepala seketika dari dekapan bibinya. "Nggak, Um! Saya harus bertahan. Saya sangat mencintai suami saya."
"Tidak, Nduk."
"Abi?" sebut Hasna yang kemudian menyeka air mata.
Hasna terkesiap. Ia menatap seseorang yang baru saja berdiri di ambang pintu kamarnya. Tatapan perempuan itu penuh pengaduan kepada Kiai Hasan. Air mata kembali membuncah. Kakinya ditegakkan, lalu melangkah perlahan menghampiri sang ayah mertua.
"Biar Abi yang akan memutuskan masalah ini. Abi tidak bisa terima dengan perlakuan Amin, walaupun dia anak Abi."
"Keputusan seperti apa, Abi? Hasna tidak ada keinginan untuk berpisah dari Mas Amin, walaupun ini sungguh menyakitkan." Tangan Hasna menggenggam telapak tangan lelaki itu penuh permohonan.
"Kita bicarakan masalah ini dengan keluarga besar kita. Tapi ... insyaa Allah apa yang kami putuskan, semua demi kebaikan kamu dan Amin, Nduk." Kiai Hasan membelai kepala keponakan sekaligus menantunya itu dengan penuh rasa iba.
Mata indah Hasna mengerjap berkali-kali, seraya mengalihkan pandangan. Ada rasa khawatir yang tak terelakkan. Ia tidak dapat membayangkan apa yang terjadi jika dirinya harus berpisah dari Gus Amin.
Diam-diam Kiai Hasan juga menyeka titik embun di ekor matanya. Kepedihan menyusup bak pasukan musuh yang bergerilya dan menyerang di malam gelap gulita. Sangat tiba-tiba. Ia juga terpukul dengan kabar mengenai putra pertamanya yang kini telah menikah lagi.
"Bagaimana pun keputusannya, Umi harap ... Abi juga mempertimbangkan keinginan Hasna. Karena Hasna tentu lebih tahu seperti apa keadaan hatinya saat ini." Umi Aina memberikan usul tanpa mengabaikan perkataan Hasna sebelumnya.
Hasna Amanina merupakan anak tunggal dari adik kandung Kiai Hasan. Kedua orang tuanya wafat setelah mengalami kecelakaan. Sejak usia tujuh tahun, ia pun diasuh oleh keluarga Kiai Hasan.
Sang Kiai memiliki tiga orang putra. Kiai Hasan tidak memiliki anak perempuan. Bersama Umi Aina, ia merawat Hasna dengan senang hati. Di Pesantren Al-Islam Rembanglah, Kiai Hasan dan keluarga besarnya tinggal. Begitu sayangnya terhadap Hasna, lelaki tersebut enggan melepaskan sang keponakan untuk orang lain. Rasanya baru kemarin pernikahan putra pertama sang kiai, tetapi kabar yang baru terdengar itu memang benar.
"Idzaa qodhoita min amrin faj'al aakhirohuu rusydaa," gumam Hasna. Ia berharap agar akhir masalahnya berujung kebaikan.
Umi Aina dan Kiai Hasan beranjak dari kamar Hasna. Keduanya banyak berpesan agar Hasna banyak bersabar dan berzikir. Mereka merasakan sakitnya juga. Namun, hingga saat ini belum ada penjelasan apa pun dari putra mereka. Hanya sepucuk surat yang mereka terima dari Gus Amin. Semua masih menunggu penuturan langsung putra pertama mereka berdua.
"Umi ... Umi!" rengek seorang bocah di ambang pintu rumah.
"Dafi! Adeknya ditolong, Le! " teriak Umi Aina kepada putra keduanya.
"Nggih, Um."
Gus Dafi seketika menggendong adiknya yang berusia empat tahun. Ia keluar rumah untuk menghibur adiknya. Pemuda itu melantunkan salawat-salawat agar tangis sang adik mereda.
"Ih! Maunya apa, sih, Yas?" Gus Dafi malah cengar-cengir menggoda adiknya, sambil menarik-narik hidung bocah bernama Ilyas itu.
"Umi! Umi! Ilyas na mau sama Mas item! Wa ... wa!" Tangis Ilyas malah menjadi.
"Mentang-mentang putih, ya, kamu alergi sama orang item?" gerutu Gus Dafi, kesal. Ia ingin sekali meninggalkan adiknya itu di teras, gara-gara Ilyas tak kunjung diam.
"Le ... kamu, kok, masih di sini? 'Kan, Bulik minta tolong buat nyupirin Sukri, nganterin orderan kopi?" kata wanita yang menghampiri Gus Dafi setengah sewot. Ia meraih Ilyas dari tangan pemuda itu.
"Lho? Kapan Bulik ketemu saya?" bisik Gus Dafi.
"Eh, tadi Sukri bilang sama kamu belum?"
"Belum Bulik ... makanya jangan marah-marah dulu." Gus Dafi ganti sewot.
Bulik Fat, begitu biasanya sang gus memanggil wanita itu. Ia adik bungsu Kiai Hasan. Keluarga besar mereka memang tinggal berdekatan. Selama ini mereka saling rukun dan senantiasa bekerja sama. Terutama untuk mengurus pesantren.
"Dafi ... kamu nggak liat jam?"
Gus Dafi menoleh kepada Umi Aina yang berdiri diambang pintu. "Jam satu lewat lima menit, Um. Ada apa?" Pemuda itu melirik jam tangannya sesaat.
"Astagfirullah ... kamu, 'kan, disuruh Abi gantiin ngajar santri kelas tiga. Udah cepet berangkat, Le!" Perempuan itu tampak panik. Umi Aina langsung masuk rumah tanpa menghiraukan kebingungan putranya, seraya menggendong Ilyas.
Bulik Fat tercenung. Padahal, dirinya merasa lebih dulu meminta bantuan kepada Gus Dafi. Salah satu sifat yang paling disukainya dari keponakan yang satu ini adalah pribadi Gus Dafi begitu penurut.
"Kamu itu gimana? Masak semuanya di-iyain? Kopi Bulik gimana, Le?"
Iya? Padahal Gus Dafi hanya melongo mendengar mandat dari nyonya besar di rumah itu. Ia sendiri bingung bagaimana mengerjakan perintah mereka.
"Iya, Bulik. Entar Dafi laksanakan satu-satu." Pemuda itu melepas peci kemudian mengacak-acak rambut kesal.
Gus Dafi menoleh kesana-kemari kebingungan. "Duh, Gusti ... Umi ...." Tak mendengar sahutan, pemuda itu lari mengejar ibundanya meninggalkan Bulik Fat.
"Alhamdulillah, Le. Mas Amin udah ngasih kabar bakal ke mari sekarang. Tapi mobil dia mogok, kamu jemput dia, ya, Le ...." Kalau Kiai Hasan sudah memberi titah, semua perintah nyonya-nyonya di sekitarnya tentu jadi batal. Sang kiai kembali merapatkan ponselnya ke telinga, lalu beranjak.
"Allahumma khirli wakhtar lii wa saddidnii," pinta Gus Dafi mendongak kepala ke langit-langit. Pemuda itu memohon petunjuk mana dulu yang harus ia pilih.
"Semua orang di sini pasti kepusingan gara-gara Hasna," gumam Hasna melewati adik iparnya.
Pandangan wanita itu terlihat kosong, matanya sembab, dan jilbabnya tampak berantakan. Ia bahkan seperti tidak menyadari keberadaan Gus Dafi. Biasanya perempuan tersebut akan mencari jalan lain atau menunggu hingga Gus Dafi lewat lebih dulu. Namun kali ini, Hasna seperti orang linglung. Huru-hara besar terjadi di keluarga mereka.
Siapa sangka seseorang tengah mengamati kepedihan wanita itu tanpa kata. Gus Dafi sesekali melempar pandangannya karena tak tega menyaksikan penderitaan yang dialami sepupu wanitanya. Ia hendak pergi, tetapi tak kuasa. Lelaki tersebut tetap ada, meski wanita-wanita di rumah itu memarahinya saat ini.
Sejak menikah, hanya seminggu sekali Hasna pulang ke rumah Kiai Hasan bersama sang suami. Kediaman perempuan itu dan suaminya berada di desa sebelah. Tak begitu jauh dari rumah orang tua mereka. Namun, setelah menerima kabar pernikahan kedua Gus Amin, ia pulang ke dalem ayah mertuanya seorang diri. Sedangkan, sang suami kini tengah berada di luar kota sejak lima hari yang lalu. Surat yang diterima Hasna benar-benar dari Gus Amin yang dititipkan melalui salah satu abdi dalem keluarga itu.
"Kalau gitu, saya dahulukan jemput Mas Amin untuk kamu, Hasna. Biar kamu lebih tenang."
YOU ARE READING
Suara dari Langit
RomanceBlurb Menolak lamaran seseorang yang lebih pantas menurut keluarganya, Hasna pun memilih menikah dengan putra sulung Umi Aina. Namun, pria yang ia cintai itu rupanya malah membuat keluarga besar wanita tersebut menjadi geram. Tak disangka, pernikah...
