Permulaan

17 4 3
                                        

Hiruk-pikuk masyarakat pencinta pekerjaan lebih dari segalanya, bahkan hidup pun demi kerja. Berdiri sesosok gadis kecil dengan pakaian nyentrik di antara para robot berpakaian setelan kerja. Gadis itu mendecih sangat tidak suka menghirup udara yang sama dengan para robot. "Orca sialan ... kenapa harus dikirim ke sini. Lagi pula guna apa tudung ini. Tanduk ini akan menjadi saksi bahwa dunia ini akan tunduk jadi alasku ...." Disenggol oleh salah sesosok robot—meminta maaf sembari terus tergesa-gesa. Tudung ungu pekat menutupi rambut perak dengan beberapa bagian helai berwarna ungu di bagian depan.

Harga diri gadis itu sedikit dilecehkan atas tindakan salah sesosok robot itu, tetapi dirinya teringat akan ucapkan salah satu rekannya. Menendang angin secara kasar dengan muka melipat.

Dalam perjalanan yang tidak jelas ini—raut wajahnya belum kian melemas, justru makin melipat dengan menebar tatapan pembunuh. Sungguh, para robot yang melihatnya saja menghindar dengan tatapan aneh seakan-akan berkata: 'gadis itu kenapa?', 'padahal imut tetapi menyeramkan ....', dan masih banyak lagi.

Suasana dingin yang menusuk tiap pori-pori—membuat para robot sedikit melambat. Tentu saja, andai tidak teringat sama perintah utamanya 'kerja, kerja, dan kerja!' niscaya para robot akan mangkrak di masing-masing gudang. Asap putih dari bibir gadis itu keluar dengan sangat kasar. "Orca sialan ...." Di pikiran gadis itu hanya mengutuk sesosok yang diolok sebagai 'Orca sialan', karena ia membuat gadis itu berada di sini.

Gadis itu memasuki sebuah gang yang temaram dan sempit itu. Menyenderkan tubuhnya. "Karasu!" Tak lama kemudian burung gagak berkoak-koak—berputar-putar di hamparan langit musim dingin lalu berteriak, "Laplus-sama, Laplus-sama ...." secara terus menerus sampai pada akhirnya berhenti ketika mendaratkan di atas tangan kanan kecil milik gadis itu.

Burung gagak kecil dan gemuk. "Laplus-sama, Laplus-sama. Ada seorang gadis berambut pirang berkekuatan super. Laplus-sama, Laplus-sama. Berhati-hatilah, gadis itu sangat kuat dari auranya." Sebuah tarikan di sudut bibir kecilnya semakin melebar, lalu berkata, "Kau bercanda, bukan? Atau kau hanya mencoba untuk menghiburku saja, hah?!" burung gagak bantet itu menciut ketika digertak oleh majikannya.

Dengan terbata-bata, burung gagak bantet itu bersumpah bahwa apa yang disampaikan tidak dilebih-lebihkan guna melipur majikannya. Namun, ia kian menciut ketika melihat aura pembunuh majikannya meledak-ledak.

"Kalau begitu ...." Laplus melepaskan tudung yang menaungi kepala kecilnya, "tunjukkan daku ke gadis itu. Daku bersumpah akan menghabisimu kalau itu hanya sekedar bualan belaka, sialan!" Burung gagak bantet itu segera mengepakkan sayapnya secepat mungkin sembari berkoak-koak sekuat tenaga, lalu menuntun Laplus untuk bertemu dengan gadis berambut pirang.

Di dalam bayangan diri sendiri—muncul dua tanduk menjulang tinggi. Laplus, dengan rasa penasaran untuk membuktikan bahwa penyataan burung gagak bantet itu bukan bualan belaka. Siapa yang percaya bahwa seorang gadis biasa memiliki kekuatan super, bahkan dengan sangat lancang melayangkan peringatan untuknya!

Kutukan kepada 'orca sialan' seketika lenyap dari isi kepala Laplus. Saat ini, hanyalah sebuah kesenangan di depan matanya. Rasa senang ini mulai memenuhi setiap aliran darahnya ....

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 08, 2022 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Laplus Vs DarknessWhere stories live. Discover now