•s a t u•

8 2 1
                                        

Jika kamu bilang jangan menunggumu, aku tidak akan menunggumu kembali.
Tetapi, yang kamu katakan adalah menunggumu kembali dengan versi terbaik.
Memang kamu kembali dalam versi terbaik. Ya versi terbaik untuk aku nenyadari bahwa yang kembali tak selamanya sebaik waktu pergi.

Aku Vania Larisa. Sosok perempuan yang dikatakan bodoh oleh sahabatku sendiri karena menunggu hal yang tak pasti. Menurutku, aku tidak bodoh! Hanya saja aku bergantung pada harapan. Apa salahnya? Dia mengatakan padaku sebelum pergi, bahwa dia akan kembali. Pasti!

Malam itu, dimalam bulan Januari dia menemui ku diteras depan rumahku. Dia mengatakan "Risa? Maaf baru bisa berpamitan. Aku akan pergi keluar negeri untuk menempuh pendidikanku. Aku akan kembali setelah menyelesaikan pendidikanku. Pasti! Aku akan kembali dalam versi terbaikku. Maaf jika selama 4 tahun ini aku tidak bisa membahagiakan mu" ucapnya dengan nada pilu, lalu pergi begitu saja tanpa mendengarkan ku.

Aku menangis? Tentu saja! Dia yang menemaniku selama kurang lebih 4 tahun. Dia yang mengerti diriku. Dia juga tempatku untuk berkeluh kesah. Tiba-tiba dia pergi meninggalkan ku hingga aku pun tak tau hingga kapan dia akan kembali.

Malam itu aku kembali mengingat memori lama tentang pertemuan pertamaku dengannya.

Kampus..

"Itu yang make kacamata hitam, topi warna merah. Sini!" Teriak Susan Adwipramata. Dia adalah kakak tingkat yang bertugas sebagai panitia MOS hari ini hingga 3 hari kedepan

"Saya kak?" Tanyaku lembut

"Siapa lagi kalau bukan kamu?" Tanyanya balik

"Kenapa ya kak? Saya ada salah?" Tanyaku heran

"Engga. Mau ngasih tugas ke kamu. Minta tanda tangan salah satu anggota BEM" ucapnya sambil memberikan kertas kosong dan satu bolpoin hitam

"Baik kak" jawabku singkat dan langsung mengambil kertas dan bolpoinnya

"Laki-laki ya. Jangan perempuan" tambahnya lagi

"Siap kak"

Aku pergi dari lapangan, mencari kating ber almamater khas anggota BEM. Memutari gedung kampus yang lumayan luas, sambil melihat-lihat sekeliling. Santai, karna tidak diberi waktu.

Saat asik berjalan menyusuri koridor demi koridor, kaki ku berhenti saat mataku melihat seorang lelaki tinggi beralmamater khas anggota BEM, rambut rapi, hidung mancung dan berwajah bak pangeran impian di negeri dongeng. Setelah puas memperhatikan keelokan wajahnya, aku kembali teringat tujuanku. Yaitu meminta tanda tangan salah satu anggota BEM dikampus.

"Permisi kak. Maaf lancang, kakak anggota BEM kampus ini?" Tanyaku dengan sopan

"Iya. Kenapa?" Tanyanya singkat

"Saya dapat tugas dari kak Susan untuk minta tanda tangan salah satu anggota BEM dikampus ini kak. Kakak bersedia?" Jelasku dan bertanya kesediaannya sambil menyodorkan kertas dan bolpoin hitam yang ku pegang

"Sini" jawabnya singkat, padat dan jelas

Dia, Aryanza Adiputra. Sosok dia yang ku ceritakan di atas. Sosok laki-laki yang membuat ku menunggu hal yang pasti namun ternyata aku membodohi diri.

Dia menandatangani kertas ku. Dibawah tanda tangannya, tertulis nama lengkapnya "Aryanza Adiputra"

"Nih" ucapnya sambil memberikan kertas dan bolpoin hitam itu

"Terimakasih banyak kak. Saya pamit" kataku. Lalu pergi meninggalkannya

Yaampun! Hari ini sangat-sangat membahagiakan! Sosok dia yang begitu sempurna dimataku. Wajahnya yang menunjukkan ketegasan, hidungnya yang mancung, matanya tajam seperti elang. Benar-benar seperti pangeran di negeri dongeng.

ABOUT HIMWhere stories live. Discover now