1. Dendam yang Merebut Raga

2.2K 246 82
                                        

Bau antiseptik menyeruak, menusuk sampai ke tulang saat kelopak mata hazel itu terbuka. Napasnya tercekat. Dahi mengernyit bingung. Dengan sisa tenaga, dia memaksa duduk. Seketika rasa sakit menggigit tiap inci tubuhnya, menimbulkan suara erangan tertahan.

Jemarinya meraba perut dan dada. Ia meringis. Ada perban panjang melintang di sana. Kulit ini asing. Terlalu dingin. Terlalu rapuh.

Ruangan putih. Alat-alat medis berjejer. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Di telinga, suara beep monitor jantung berdetak terlalu cepat.

Dia terdiam. Mencoba mengorek ingatan terakhir sebelum membuka mata. Menit berlalu, kilat ingatan menghantam.

"Aku berhasil, Sera. Akhirnya kita bebas," katanya sambil memeluk seorang perempuan.

Dalam ingatannya, dia merasakan perempuan itu mengangguk antusias. Tapi kemudian, jawaban yang keluar dan tindakan sang perempuan membuat dia tercengang.

"Kamu hebat, Rayden. Tapi, maaf-"

Tubuh Rayden yang penuh luka tembak menegang. Pelukan itu terlepas. Matanya membelalak saat melihat pisau di tangan Sera kini menusuk perutnya.

"Sera, kamu-"

Belum selesai, suara letusan memecah udara. Panas timah menembus kepalanya, lalu gelap.

"Argh-"

Dia tersentak. Kembali ke putihnya langit-langit rumah sakit. Kepala berdenyut. Dengan gemetar, dia meraba wajah. Struktur tulang terasa beda. Rahang, pipi... semua asing.

"Gue masih hidup? Tapi-"

Brak! Pintu terbuka dengan bunyi nyaring. Seorang remaja masuk tergesa. Seragam putih-abu dibungkus APD hijau tipis dan bermasker. Di belakangnya, seorang dokter ikut menghampiri ranjang.

"Lo udah sadar?!" Suaranya bergetar. Mata merah itu menahan tangis. Ia mengepal, menahan diri untuk tidak memeluk. "Gue tau, Ven. Lo kuat. Lo bukan tipe yang mudah nyerah... tapi serius, bercandaan lo nggak lucu. Lo hampir bikin gue gila pas dokter bilang jantung lo sempet berhenti."

Pasien itu mengerjap. Kosong.

Ven? Siapa? Apa dia manggil gue?

Dia berpikir dalam diam, hazelnya menatap bergantian sang remaja dan dokter dengan bingung.

"Ven?" Remaja itu-Lucian Luminor-merasakan ada yang salah. Senyumnya luruh. Ia menoleh ke dokter, panik.
"Adik saya kenapa, Dok? Kenapa dia menatap saya seperti orang asing?"

Dokter menghela napas, memeriksa monitor dan rekam medis. "Tenang, Tuan Muda. Operasi pemasangan graft pada aorta sudah berhasil. Kemungkinan efek anestesi ditambah henti jantung memang bisa menyebabkan kebingungan sampai amnesia sementara. Kita observasi dulu 24 jam."

"Apa? Amnesia sementara?" Lucian shock. Tubuhnya goyah. Dia mencengkeram tepi ranjang sampai buku jarinya memutih. "Jadi... Rayven tidak ingat saya? Sama sekali?"

Dokter mengangguk pelan dengan rahang mengeras.

Tatapan Lucian menajam. Dadanya naik-turun. "Lo... beneran nggak inget gue?" Nada itu patah, antara marah dan takut. Baru saja ia lega karena Rayven selamat dari meja operasi. Sekarang? Dokter justru memberikan pernyataan lain.
"Jangan bercanda, sialan! Gimana mungkin lo nggak inget? Rayven, lo itu punya ingatan fotografis! Dokter bilang apa? Amnesia sementara? Itu nggak lucu!" bentaknya.

"Mas Lucian, tolong tenang." Dokter menahan lengannya. Bersuara lembut tapi tegas. "Saya mengerti Tuan Muda khawatir. Tapi tekanan darah pasien bisa naik. Kondisi Tuan Rayven masih labil."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 12 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Back To You (Kembali Untukmu) Stories to obsess over. Discover now