Pagi menyapa, tandanya hari berikutnya telah tiba.
seperti biasa, Bianca mematikan alarm terlebih dahulu lalu bangun dengan malas.
"biancaaa bangunnn.."
teriakan itu seolah sarapan bagi Bianca, tak memandang hari ini dia libur atau tidak, ia tetap harus bangun pagi untuk mengantarkan ibu nya ke pasar.
ia menggaruk bagian kepala nya itu sebelum beranjak dari kamar.
"yaampun bianca, cepet mandi.. ih males banget, pantes gapunya pacar ya kamu.."
"ckk, pacar lagi pacar lagi.. ituuu terus yang dibahas.." tak ada waktu senggang untuk mereka tak bertengkar.
namun ketahuilah, cinta kasih seorang ibu lebih dari apapun.
hanya saja, Ansari Alaska yang kerap disapa bu sari itu mempunyai cara berbeda untuk mendidik anak anaknya.
"bersih banget nih rumah.. ada apa?" tanya bianca yang kini malah duduk di sofa ruang tamu.
"pacar ku mau dateng, sama orang tua nya.."
Dia Sella Alaska, adik kandung pertama dari Bianca, umurnya tak jauh dari nya, hanya 3 tahun.
dan sekarang, Bianca lagi lagi jadi bahan omelan ibu nya, karna sang adik lebih dulu akan menikah dibanding dia.
"emang hari ini? bukannya bulan depan? ngebet banget dah tuh laki.." ucap Bianca yang tak mau kalah dengan omelan ibunya sedari tadi
"bukannya ngebet, tapi kamu nya yang kelamaan, mama aja umur 19 loh ya nikah.. tuh tante tante kamu, semuanya paling lama umur 20 udah nikah.. nah kamu, ihhhh.."
Bukan tante sari namanya kalau ga bisa menang melawan anak nya itu.
mau berdebat bagaimana pun, Bianca akan kecut dan berakhir kalah pastinya.
"sengaja juga hari ini.. kan lo lagi offday kerja, masa gue pas dilamar, lo gaada sih.. kan gue juga butuh restu dari lo,-" ucap Sella yang masih setia dengan kain pel lantai nya.
Bianca sempat terdiam awalnya, entah apa yang sedang ia fikirkan sekarang.
akan banyak lagi ocehan yang harus ia hadapi kali ini.
bukan hanya dari sang ibunya, melainkan juga dari keluarga besar yang datang nantinya, terlebih lagi..
rekan kerja nya.
"mau sampai kapan kamu bengong disitu? sana mandi.." titah bu sari
"sella, bangunin adik mu.. suruh dia juga mandi, abis itu kita makan dulu.. kamu abis udah ngepel, bantuin mama di dapur buat masak,-" lanjut bu sari.
sedangkan Bianca, dia hanya diam dan berjalan ke arah kamar mandi belakang.
masih agak bengong dan terlihat sedang berfikir.
tapi dia tetap melanjutkan perjalanan, dengan handuk yang ada ditangannya itu.
***
Damn.
entahlah, angin dari mana ini berasal.
tapi bukannya mandi, Bianca malah duduk di closet.
bukan untuk buang hajat, melainkan menangis.
Bianca terbilang wanita yang bisa menahan emosi nya di depan orang lain, tapi percayalah..
dia hanyalah seorang perempuan yang mempunyai hati rapuh seperti yang lainnya.
menangis tanpa suara itu lebih sakit, ia bahkan menggigit tangannya agar tak ada suara satupun yang keluar.
"biancaaa kamu belum mandi jugaaa?" teriak bu sari dari luar kamar mandi, pasalnya mungkin ia belum mendengar air sama sekali seperti layaknya orang mandi.
YOU ARE READING
BIANCA
Teen FictionSingkat saja, tak ada yang special jika harus mendeskripsikan sesosok Bianca Alaska, putri pertama yang sudah berumur matang yaitu 23 tahun itu masih belum juga mempunya kekasih. Sedangkan sang ibu, Ansari Alaska sedang sibuk ber-sosial butterfly ke...
