Aku terbangun dari tidurku ketika mendengar suara notifikasi dari ponselku.
"Ck, siapa sih yang nge-chat tengah malam gini" ujarku sembari meraba sisi kasur mencari keberadaan ponsel miliku.
Aku membuka ponselku dan terlihatlah beberapa notifikasi dan jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh lima belas yang berarti aku sudah sangat telat berangkat sekolah.
Pejuang death-line
Karin
|WOYY REL BANGUN LO
|REL DEMI TUHAN REL DAH SIANG ANJIR
Syahla
|REL, YANG JAGA DI GERBANG SI JENDRAL
|mampus dah lo Rel
Bang Melvin
|Kenapa dia?
Syahla
|Biasa lah bang, telat
Karin
|Dia bimbingan olim gak sih hari ini?
Syahla
|Lah iya anjir
Leo
|Duh lo pada ngarep apa sih dari kak Urel, palingan juga bolos dia hari ini.
Karin
|Au tuh anak, susah amat anjir di bangunin.
MAMI|
MAMI MAMI MAMI, UREL TELAT|
ANJING GUE KIRA MASIH MALEM|
GIMANA NIH, GUE ADA BIMBINGAN YA KALI BOLOS LAGI|
Bang Melvin
|Mandi Rel
|Gerbang masih kebuka kok
AAA KEBURU GAK YA BANG|
Bang Melvin
|Keburu, buruan mandi
OKE|
Setelah berbalas pesan dengan teman-temannku. Aku langsung bergegas mandi dan bersiap-siap. Hari ini aku sudah menekatkan kalau aku gak boleh bolos karena sebentar lagi aku akan mengikuti olimpiade, reputasi sekolah ada di tanganku.
Setelah bersiap-siap dan rapi dengan seragam putih abu-abu miliku, aku langsung berlari keluar kamar untuk melihat apakah masih ada orang di rumah ini.
"ABANG, ABANG" teriakku memanggil seseorang yang aku sebut dengan 'abang'
"ABANG ANTERIN UREL KE SEKOLAH YOK, UREL TELAT INI!" teriaku lagi ketika tidak mendapat respon.
Cklek
Pintu kamar berwarna hitam itu terbuka dan terlihatlah laki-laki muda dengan balutan kemeja dan jas yang ia tenteng keluar. Bang Tama adalah kakak tertuaku. Kakak yang selama ini pontang panting mengurus perusahaan milik almarhum ayahku dan menyekolahkan aku dengan adik bungsu ku.
"Telat kan" ujar bang Tama sembari terkekeh berjalan ke arah meja makan mengambil selembar roti yang ia olesi selai coklat kesukaan ku dan Jinan adik bungsu ku.
"Bolos aja, udah telat banget" ujar bang Tama sembari memberikan roti yang ia oleskan selai tadih ke diriku yang aku terima dengan senang hati.
"Ihh gak mau, hari ini Urel ada janji sama guru" ujarku sembari menarik bang Tama agar ia mau mengantarku sampai ke sekolah.
"Makanya jangan tidur larut" ujarnya berjalan ke arah garasi menghidupkan mobil miliknya.
YOU ARE READING
AURENDRA (Aurel & Jendral)
Teen Fiction"Jendral, mari bahagia di kehidupan berikutnya sebagai dua insan yang di restui oleh semesta" © Chyntya Sucitra
