Aku seperti mencoba berlari dari apa yang harus kuhadapi.
Mengingkari bahwa sejak lama pilihan ini sudah terpatri.
Aku membuka mata dengan terpaksa, seiring sinar matahari yang menyerang tanpa aba-aba. Sedikit memicing, banyak merutuk. Lewat mataku yang masih menyipit, kulihat sosok Hara; kakak perempuanku satu-satunya; berdiri di depan tirai kamarku sambil memandangiku dengan tatapan iba yang paling kubenci.
"Hello my love, thank God you're still alive." suaranya bukanlah yang ingin kudengar di saat-saat seperti ini.
"It's been 2 months, Satya, and everyone starts thinking that you might kill yourself at this point." Hell yeah, ide bagus. Andai saja aku cukup punya nyali melakukannya.
Hara mendekat ke arahku, membuatku segera menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku. Sayangnya, gerakan Hara jauh lebih gesit. Ia menahan selimut yang sudah berhasil sampai ke setengah wajahku, lalu menariknya keras. Tenaganya kuat, aku tak sanggup melawan.
Tangannya meraba keningku, lalu dahinya mengernyit. Ah, pasti setelah ini ia akan menceramahiku panjang lebar.
"PRAAS!!! PRASETYOOOOOOOO!!!!" teriakannya membuatku mengambil bantal dan melemparinya dengan kasar. Bisa-bisanya ia berteriak di kamarku, saat aku bahkan tak mau bertemu siapa-siapa.
"Kalo mau teriak jangan di sini. Ke luar kamar gue, tutup pintunya RAPAT-RAPAT lalu terserah lo mau ngapain." ujarku pelan. Aku benar-benar tak punya tenaga untuk protes.
"Sengaja. Biar lo nyadar kalo lo masih hidup. Kalo hening, damai, ngga ada yang berisik, takutnya lo pikir lo udah di surga." ujarnya sambil duduk bersila di atas kasurku, hampir menindih tanganku, dengan sengaja tentunya.
Pras masuk ke dalam kamar dengan santai. Tampaknya ia sudah tau apa yang akan Hara ucapkan. Tangannya masih menggunakan rubber gloves, pertanda ia sedang membersihkan sesuatu saat namanya dipanggil.
"Demamnya belom turun?" tanyanya, entah padaku atau pada Hara.
"Belom. Masi panas begini badannya." Jawab Hara sambil menampar pipiku. "Udah berapa lama begini?" tanyanya ke arah Pras.
"Begini yang noona* maksud itu, begini yang mana? Begini demamnya, atau begini nelangsanya?" Aku melayangkan tatapan kesal pada Pras mendengar pertanyaan sarkasme yang ia ucapkan.
"Begini demamnya, Prasetyoo. Kalo nelangsanya sih ngga usah dibahas. He's always a crybaby since he was born, I'm amazed he's still alive with this amount of painful broken heart." Sialan, mereka berdua seolah sengaja bekerja sama untuk menyindirku dengan telak.
"Demamnya ngga selalu tinggi kok. Nanti setelah dipaksa makan dan minum obat lagi, bakal turun sendiri demamnya. Biasanya pagi hari memang seperti itu kondisinya."
"Ok good. Barang-barang saya udah diturunin kan?" Tanya Hara, membuatku keheranan.
"Barang-barang apaan?" tanyaku.
"Ya barang-barang buat gue tinggal di sini lah. Emang lo pikir apa? Oleh-oleh?" Damn, harusnya aku bisa menduga. Hara muncul di kamarku setelah hampir setahun kami tidak bertemu karena kesibukannya menjalankan bisnis ayahku di Seoul. Tak mungkin ia datang hanya untuk melihat keadaanku lalu pergi begitu saja.
"Ngga ada yang minta lo tinggal di sini ya, Hara." tegasku.
"Ngga ada yang bisa ngatur gue tinggal dimana, apalagi lo, anak kecil. Ngurus hidup sendiri aja ngga becus." Ia menoyor dahiku pelan. Sialan, aku memang akan selalu jadi anak kecil di matanya.
YOU ARE READING
SAGARA
General FictionNamanya Satya Sagara. Pria berusia 26 tahun dengan mental health issues yang sukses dalam karir namun pecundang dalam soal relasi sosial. Walau begitu, ia punya Anindiya, kekasih yang sudah 4 tahun menemaninya. Namun apa yang harus Satya lakukan, ji...
