Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

PROLOG + Visual

6.9K 408 19
                                        

Hi, ini Je...
Stetoskop Tua adalah historical fiction kedua yang aku publish.
Berlatar era kolonialisme, Hindia-Belanda.

(Cerita ini hanya karangan Author, tidak bermaksud menyinggung pihak manapun. Dimohon untuk bijak dalam menngkap setiap informasi)

Happy Reading!!

Happy Reading!!

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Mas!"

"Napo toh?"

"Ada apa di tahun seribu sembilan ratus sepuluh?"

"Mana mas tau, belum lahir."

"Kebiasaan tidur pas jam sejarah."

"Koyok kamu ndak ae." (kaya kamu enggak aja)

Debu-debu berterbangan dengan barang-barang tua dan setumpuk kertas yang menguning termakan oleh zaman. Terselip beberapa pertanyaan besar dalam benak keduanya.

Apa yang terjadi di tahun 1910, saat bangsa Eropa masih menguasai Indonesia?

Bagaimana kota kelahiran mereka di masa itu?

Saat mereka dirundung rasa penasaran, kepada siapa mereka harus bertanya?

Tidak mungkin lembaran surat kabar berbahasa Belanda dan lembaran tulisan tangan dalam Ejaan Van Ophuijsen bisa menjawab tuntas. Karena ketika mereka tanpa sengaja memecahkan kotak kayu berukir hingga pecah. Sebuah benda berbentuk seperti stetoskop semakin membuat mereka penasaran akan apa yang terjadi di masa itu.

Bukti bahwa sejarah itu ada dan menyisahkan peninggalannya. Maka bagaimana pelakunya menjalani hidup di masa itu? Dengan sebuah stetoskop tua dan surat-surat lama.

(-STETOSKOP TUA-)

Ditanya patuh, apakah ia patuh? tentu saja ia patuh. Dasarnya ia seorang 'wanita' maka jadilah tampaknya bukan pribadinya.

Tapi jika ditanya, apakah ia mampu? tentu ia akan menjawab 'belum'. Mengapa? jika setiap gadis sepertinya, setelah tarapan diberi banyak wejangan, ini dan itu. Dibacakan serat pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Lalu kemudian setelah dianggap sudah mumpuni, tidak peduli siap atau tidak, mereka akan dipingit hingga ada laki-laki yang melamar mereka. Masih seusia pelepah pisangpun akan dinikahkan tanpa peduli 'apakah ia pernah memiliki mimpi?'.

Karena wanita pada zamannya tidak diizinkan untuk bermimpi.

Sembari menggenggam sebuah surat berisi lamaran dari seorang adipati di Jawa Tengah adalah hal paling menguntungkan bagi seorang wanita. Tak berdaya dan seperti manusia bisu yang tidak berhak berbicara. Nahas nasibnya sebagai remaja yang hendak bermimpi panjang akan gemerlapnya dunia.

"Setelah Ratni menikah, apa budhe mau merawat ibuk?" satu pertanyaan itu terlontar begitu saja. Seperti awal dari senapan panjang yang diisi degan bubuk mesiu.

STETOSKOP TUAStories to obsess over. Discover now