Note :
Ini adalah bagian pertama dari sebuah cerpen berjudul "The Unexpected".
***
Aku merapatkan jaketku, memerangkap kehangatan supaya tubuhku bisa bertahan di hawa malam yang dingin. Hari ini salju turun lebih awal disertai angin yang berhembus kencang dari arah timur, namun semua itu tak menyurutkan langkahku menuju toko buku milik Tuan Arcio yang ada diujung jalan.
Dulu kupikir Tuan Arcio adalah seorang antagonis yang menyeramkan. Kau tahu mengapa? Yeah, karena raut wajahnya judes, serta sorot matanya yang tajam seperti ingin memakan seseorang, membuat nyaliku ciut saat pertama kali melihatnya. Sewaktu aku berumur 18 tahun, ayahku mengajakku pergi melihat festival tahunan yang diselenggarakan di alun-alun kota. Kami yang tinggal pedesaan berangkat mengendarai mobil klasik warisan kakek kami.
Butuh waktu 30 menit diperjalanan sampai kami tiba disana. Suasananya sangat meriah, orang-orang berlalu-lalang, sebagian dari mereka mendekat ke podium tempat walikota memberi sambutan di sisi utara. Aku yang berdiri di samping mobil dapat melihatnya dengan jelas sebelum ayahku menarik tanganku ke arah berlawanan.
Aku bertanya. "Ayah, kita tidak mendengar sambutan walikota terlebih dahulu?"
"Tidak perlu. Aku jamin, sambutan itu pasti lama," sahut ayah tanpa menoleh. Dia sibuk menerobos keramaian dengan aku yang setia mengikut dibelakangnya.
"Kita akan kemana?"
"Aku ingin melihat ke stand buah, katanya ada pameran buah raksasa disitu."
"Tapi ayah-" pertanyaanku terinterupsi saat mendengar suara anak kecil menangis, lantas aku menengok.
"Kakek, aku ingin itu!" Dia menunjuk pada permen lollipop besar berwarna pelangi di salah satu stand. Tangan mungilnya menarik-narik ujung baju sang kakek.
Aku mengamati mereka dari belakang.
"Tidak boleh!! Bukankah kamu baru sembuh dari sakit gigi?! Lagipula kakek tidak membawa uang."
"Tuan Arcio?"
Ini suara ayah. Tapi tunggu, ayah mengenalinya?
Kakek itu berbalik. "George? Kaukah itu?"
Dia lalu menatapku. Bola matanya mendadak melotot, tatapannya menusuk, dan emm.. dia tidak akan menelanku bulat-bulatkan?? Sejak saat itu aku telah melabeli dia sebagai orang tidak ramah.
Tapi kini semua berubah semenjak aku pindah ke kota dan secara tidak sengaja takdir mempertemukanku dengannya lagi. Ternyata dia bukan seperti orang yang aku duga dulu. Prasangka burukku padanya telah sirna. Yang kulihat kini hanyalah seorang pria tua baik hati dengan senyuman tulus melayani pengunjung tokonya. Oh, jangan lupakan janggut putihnya yang panjang.
"Selamat malam, Tuan Cio," sapaku ramah.
Dia sedang mengeluarkan buku-buku dari kardus dan menatanya di rak kayu bertingkat. "Ryn?"
"Ya ini aku. Apakah model rambut baruku membuatmu tidak mengenaliku?"
Tuan Cio terkekeh. "Tidak. Itu tidak akan bisa mengelabuiku, dari suaramu saja aku sudah sangat kenal bahwa itu kau."
"Biar kutebak! Pasti buku yang kau beli 4 hari lalu sudah selesai kau baca, dan sekarang kau ingin mencari buku lagi. Benar bukan?"
Aku tertawa. Tuan Cio benar-benar menghafal kebiasaanku. "Boleh aku mencari sekarang?"
"Ya, ya, carilah kesukaan mu."
Aku mengangguk paham saat mendapat izin darinya, kemudian aku bergegas berkeliling menemukan buku yang cocok untukku. Mulai dari deretan rak buku-buku non-fiksi aku jelajahi, mataku pun teliti dalam memilah-milah judul, tak jarang tanganku mengambil satu atau dua buku namun berakhir ku kembalikan lagi.
Aku kesal! Tak ada yang menarik disini! Mataku memicing, melihat gantungan kertas kuning berukuran kira-kira 6 x 20 cm bertuliskan 'fiksi'. Sebenarnya aku bukanlah penggemar buku-buku fiksi seperti itu, tapi mengapa seolah-olah ada magnet yang menarikku kesana? Arrgh, apa aku coba saja?
Baiklah tak masalah, kita coba sekali ini.
Hampir saja aku sampai, ketika tiba-tiba sebuah buku jatuh menghentikan derap kaki ku dari susunan rak paling atas. Aku refleks menatap ke bawah, buku bercorak hitam keemasan bergambar istana separuh rusak dengan simbol cinta diatasnya menyita perhatianku. Tanganku terulur untuk mengamatinya lebih dekat. Tidak ada angin kencang disini, pintu tertutup, bahkan kipas angin tidak menyala. Jadi, bagaimana bisa buku yang kuperkirakan tebalnya 200-300 halaman itu bisa jatuh?
ESTÁS LEYENDO
The Unexpected [ END ]
FantasíaBuku itu tiba-tiba saja jatuh dihadapanku. Katanya, 'kamu adalah peran besar cerita ini'. Aku? Peran besar apa?
![The Unexpected [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/293860919-64-k810268.jpg)