1

46 18 35
                                        

Kala itu, didalam kelas XII Ipa 4 terlihat lumayan sepi. Hanya ada Alana yang sedang menyusun meja - meja kelas yang terlihat berantakan seorang diri. Saat sedang fokus menyusun beberapa meja lagi, mata Alana tak sengaja melihat sepasang kaki yang berdiri didepan-nya. Gadis itu mendongakan pandangan, melihat siapa pemilik kaki yang berdiri dihadapan-nya.

Dan ternyata dia adalah teman sekelasnya, Albian. Laki - laki itu ikut menyusun sisa meja yang masih terlihat berantakan, membantu dirinya yang sedang menyusun seorang diri. Alana tidak sengaja bertatapan dengan dirinya yang memiliki mata tegas namun menenangkan. Mata itu, mata yang mampu membuat jantung Alana berdetak dua kali lebih keras.

Alana pikir ini hanya debaran biasa. Ah, sebut saja gugup. Namun kenapa setelah bertatapan dengan dirinya, atensi gadis itu terus terpusat padanya? Tidak mungkin, 'kan Alana menyukai-nya hanya karena tatapan 30 detik itu?

Alana selalu menyakal perasaan yang ia miliki pada laki - laki itu. Tapi sial-nya, semakin ia menyangkal. Perasaan itusemakin tumbuh.

Albian Dewantara, dia laki - laki si pemilik mata tegas namun menenangkan yang mampu menarik atensi gadis bernama Alana. laki - laki yang terkenal pendiam namun memiliki daya tarik yang luar biasa.

***

Bel pulang sudah berbunyi sejak sepeluh menit yang lalu. Tetapi, Alana dan beberapa temannya masih berada didalam kelas. Dirinya sedang berdiskusi dengan teman - temannya untuk kerja kelompok ipa nanti. "Kelompok kita kurang dua orang lagi, nih. Kira - kira mau ajak siapa, ya?" tanya Alana pada teman - temannya.

Lia, dan Hera menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Mereka berdua adalah salah satu teman Alana.

"Hmm, ajak Albian sama Damar aja gimana?" saran Ayara, yang termasuk teman sekelompok Alana.

Astaga, kenapa harus Albian? Batin Alana.

Lia berseru, "iya, boleh tuh! Ajak aja. Tapi siapa yang mau ngajak? Gue ga terlalu deket sama mereka berdua"

"Alana aja. Lo deket 'kan sama Albian?" ujar Hera kepada Alana.

Alana menggeleng cepat. "Ihh! Kata siapa? Engga deket tau. Gue sama dia cuma kenal biasa doang! Ngga deket - deket banget." Elak gadis itu.

Hera terkekeh kecil, lalu menyengir tanpa dosa. Astaga! Hera terlihat sangat cantik dengan cengiran yang menghiasi wajahnya. "Gue pikir kalian deket. Soalnya gue sering liat lo tanya pelajaran ke dia, dan dia pun kaya gitu." ujar Hera.

Ucapan Hera memang ada benarnya, Alana sering menanyakan soal pelajaran atau tentang sekolah pada Albian. Begitu pun dengan Albian. Bedanya, Alana menanyakan semua tentang sekolah pada Albian karena hanya dia lah yang selalu menyimak dengan benar apa yang disampaikan dari Guru. Karena jika menanyakan pada ketiga temannya itu, jawabannya sudah pasti 'tidak tahu'. Sedangkan Albian hanya memiliki dua teman dekat yang kerjaannya selalu bolos, sudah pasti tidak tahu informasi apapun kecuali kalau diberi tahu oleh laki - laki itu. Makanya Albian sering menanyakan informasi tentang sekolah pada Alana. Karena hanya Alana satu - satunya perempuan yang lumayan bisa dikatakan dekat padanya.

"Yaudah, nanti gue aja yang ngajak Albian, sama Damar." ujar Ayara.

Alana, dan kedua temannya mengangguk setuju. Tanpa mereka ketahui, sedari tadi jantung Alana berdetak dua kali lebih keras ketika menyebut nama 'Albian'.

Aduh! Ini jantung gue kenapa, sih? Ga mungkin, 'kan ... Engga, ga mungkin. Batin Alana.

***

Jam menunjukan pukul 7 malam, Alana yang baru selesai membersihkan badan berniat ingin membaca novel yang baru ia beli minggu lalu.

Baru saja Alana membuka halaman pertama dari buku novel yang ingin ia baca. Tetapi, dering notifikasi dari ponsel-nya mengganggu aktivitas yang sedang gadis itu lakukan. Mau tak mau ia mengambil ponsel-nya yang ada di meja belajar, dan membuka aplikasi bernama WhatsApp.

Kelompok Ipa

Ayara add you, Albian, Damar, Hera, Lia

Ayara : Nah, udah semua kan ini?

Lia : Iya, udah

Albian : Jadi kerja kelompok-nya mau kapan, nih?

Ayara : Besok bisa ngga?

Albian : Bisa, tapi gatau yang lain

Hera : Bisa kok

Alana : 2

Damar : 3

Ayara : Oke, jadi besok aja, ya. Dirumah-nya si Lia. @Lia, dirumah lo bisa kan?

Lia : Bisaa, nanti pulang sekolah langsung kerumah gue aja, ya.

Hera : Okeee

Alana mematikan ponsel-nya, ia pikir sudah tidak ada yang penting lagi. Baru saja ia menaruh ponsel-nya, tak lama kemudian ponsel itu kembali berbunyi. “Astaga! Siapa lagi, sih? Ganggu orang mau baca novel aja!” Gerutu gadis itu.

Albian : Alana, besok sekolah mau bareng ngga?

Impossible to get HimWhere stories live. Discover now