Sudah lebih 5 menit, Hyein mengambil langkah cepat. Ia tau Lucas tidak senang ada keterlambatan. Keadaan perutnya di pagi hari akibat makan pedas semalam menghambatnya datang tepat waktu
Aku pasti kena marah, pikirnya
Tapi apa mau dikata, terlambat tetaplah terlambat. Ia hanya berharap Lucas tidak berada di kantor sekarang, berharap ia... terlambat, atau mungkin ada urusan sejenak. Harapan itu sirna ketika dia mencoba mengintip lewat jendela, Lucas. sudah duduk manis dengan korannya, ditemani secangkir kopi dan sebulan asap rokok yang berputar di atas kepalanya.
Ah sial, Hyein mengumpat.
Bagaimana caranya sekarang? Ia tidak ingin dimarahi. Hyein berputar-putar di depan pintu sambil berpikir bagaimana caranya agar ia tidak ketahuan terlambat.
mungkin aku bisa mengendap-endap, katanya kemudian.
Lantas ia dengan hati-hati membuka pintu agar tidak berdecit, dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara apapun. Mejanya cukup jauh, butuh beberapa langkah dari ujung pintu.
Setelah menutup pintu, kakinya berjinjit mendekati mejanya. Lucas masih saja asik dengan koranya, gelagatnya tidak berubah dari tadi, tetap tenang dengan kursi yang berayun-ayun. Ini membuat hati Hyein sedikit lega. Setelah berhasil menaruh tasnya dan bersiap untuk duduk, ia memastikan kembali apakah Lucas menyadari kedatangannya.
Sepertinya aman, gumamnya.
"Hye!."
Pantat nya baru saja menempel bantalan kursi ketika Lucas memanggilnya. Bak tersengat listrik, panggilan Lucas membuatnya gugup setengah mati. Ia merutuk dalam hati, Aku pasti ketahuan.
Hyein menyahut, Suaranya sangat rendah, lebih rendah dari suara decit kursi Lucas yang mengayun. Ia terdiam sembari menunggu dengan waswas kata apa yang akan keluar dari mulut Lucas setelahnya. Penantiannya terasa sangat panjang, ia bahkan bisa mendengar jam berdetak di atasnya.
"Apakah kau percaya seseorang bisa bangkit dari kematian?" tanya Lucas.
Hyein terkesiap, dia mengira Lucas akan mengomelinya. Tetapi pertanyaan Lucas jelas terdengar lebih aneh.
"R-Reinkarnasi?" jawabnya ragu-ragu
"Bukan, tidak seperti reinkarnasi, tapi kembali hidup dengan tubuh yang sama."
Itu membuat hyein berpikir, apakah mungkin seseorang bisa hidup kembali? Yang ia tau hanya, seseorang mungkin akan terlahir kembali, tapi di tubuh yang berbeda. Lucas yang tidak sabar melipat koranya dengan rapi dan menaruhnya di atas meja, ia beranjak sambil membawa cangkir kopinya yang telah habis, melihat Hyein sekilas kemudian fokus pada pemanas kopinya.
"Kau orang beragama bukan? Apakah dalam agamamu seseorang bisa hidup kembali?."
Pertanyaan itu kembali melayang dari mulut Lucas. Kedua alis Hyein terangkat, ia masih tidak mengerti, kemana arah bicara Lucas sebenarnya. Apa dia hanya iseng bertanya? atau ingin mengujinya?. Kemudian bunyi tik dari pemanas kopi memecah kesunyian yang terjadi di ruangan itu. Suara gemericik air ketika dituangkan, Aroma kopi yang menguar, semua itu membuat Hyein merasa lapar. Apalagi pagi ini ia kehilangan sarapan paginya.
"Kau mau kopi?," tawar Lucas.
Wajah Hyein berubah sumringah. Ia mengangguk sekali dengan anggukan mantap, senyumnya terpancar dengan sempurna. Hatinya berbunga-bunga, seperti mendapat angpao di akhir bulan.
Tidak seperti Lucas biasanya.
Setelah kopi milik Hyein di seduh dan Lucas menaruhnya di mejanya, dengan sigap kedua tangannya menangkup kopi itu.
Beruntung sekali pagi ini, Lucas tidak marah, ditambah dibuatkan kopi, Hyein terkikik dalam hati.
Tidak seperti Lucas biasanya.
Senyuman di wajah Hyein memudar, tiba-tiba terlintas di benaknya, kata-kata itu, dengan arti lain. Ia menatap kopi itu dengan curiga. aroma yang tercium terasa berbeda, seperti ada yang kurang. Sekilas ia melihat Lucas yang telah berada di tempat duduknya, membaca-baca kembali koran di meja, dengan kaki yang bertengger di atasnya.
Untuk kedua kalinya matanya kembali menatap kopi di tangannya, yang kali ini terasa berbeda. Dengan perlahan bibirnya menyentuh pinggiran cangkir, menyeruputnya sedikit.
"Ya tuhan!," Hyein berseru tertahan, ia hampir saja tersedak
Dugaanya benar, kopinya super pahit.
"Itu hukuman untukmu karena datang terlambat," kata Lucas tanpa memalingkan wajah.
Semua kebahagiaan yang tadi ia rasakan sirna. bunga-bunga yang tumbuh di hatinya berubah layu. Hyein beringsut, meletakkan kopi itu kembali ke meja.
"Kau harus habiskan itu."
Lucas melempar koran terakhirnya ke meja. Kali ini sudah tidak ada yang bisa ia baca, dan tidak ada kasus yang ia tangani. Satu-satunya yang membuat ia terpikir saat ini tentang telfon Alfred pagi hari. Alfred bersikeras bahwa yang ia temukan benar nyata walaupun berulangkali Lucas menyangkalnya.
Lucas menghembuskan asap rokoknya. Kipas angin yang berputar di atasnya melempar asap itu kembali ke wajahnya. Ia kemudian memantik rokoknya, dan bersandar penuh ke punggung kursi dengan kedua tangan menyanggah kepala.
Hyein yang saat ini masih berjuang menghabiskan kopi itu menatap Lucas heran. Sepuluh menit berlalu dan Lucas masih saja seperti itu. Entah darimana timbul perasaan geli ingin mengganggunya. Hyein pura-pura terbatuk, tapi Lucas masih tidak peduli.
Kali ini kopinya telah benar-benar habis. tentu saja ia tidak akan bisa menghabiskan kopinya mentah-mentah, untung ada permen di atas meja.
Apa Lucas memikirkan pertanyaannya tadi? Tersirat satu pertanyaan di benaknya. Jika Lucas waktu itu hanya bercanda, mungkin ia tidak akan seperti ini. Tapi bisa jadi Lucas memikirkan yang lain. Lebih baik ia bertanya.
"Tentang, bangkit dari kematian itu... apa kau serius?".
Lucas mengerling sejenak, matanya kini beralih ke sepatu yang ia pakai
"Apa aku pernah bercanda?".
Oh iya, Hyein melupakan satu hal. Lucas tidak pernah bercanda. Ia selalu menanggapi semuanya dengan serius. Seseorang yang ia pikir kehilangan rasa humornya. Jika hal itu benar berarti...
Tidak mungkin.
Hyein terperangah. Kalau saja itu tidak keluar dari mulut Lucas, ia pasti tidak akan percaya. Apakah hal itu mungkin terjadi? Seseorang hidup kembali?
Ternyata dunia masih menyimpan banyak misteri. ia tidak bisa menutupi betapa excited nya dia dengan hal ini. Sesuatu hal yang membuatnya membuncah, seperti sedang memenangkan permainan lotre. Ia selalu penasaran dengan hal-hal baru, khususnya hal yang terlihat tidak mungkin.
"Apa kau ingin aku menyelidikinya?" tanyanya bersemangat
Lucas yang tau kegemaran Hyein lantas mengiyakan. Lagi pula, hari ini mereka tidak ada kerjaan. Hyein berseru girang
"Boleh aku liat berkasnya?."
Lucas menatap wajahnya. Lihatlah wanita itu sekarang, seperti anak kecil meminta uang jajan pada ayahnya. Tangan Hyein terulur, dan Lucas bisa melihat energi berlebihan keluar dari tubuhnya.
"Kasusnya terjadi di wilayah barat, diluar wilayah yuridiksi kita."
Energinya meredup, untuk kedua kalinya Lucas membuatnya kecewa.
"Alfred akan datang menemuiku malam ini, kau bisa bertanya-tanya dengannya."
Hyein terperangah.
"Terimakasih pak," katanya diikuti gerakan membungkuk dengan cepat
...
Ini tulisan pertamaku,
Terimakasih sudah membaca...
YOU ARE READING
Obsesi (Revisi)
Mystery / ThrillerSiang itu, Lukas menerima telfon dari Alfred, teman jauhnya. Alfred dengan terengah-engah bercerita kepada Lukas tentang kasusnya yang ia dapat di pukul dua dini hari. Ia menolak mentah-mentah apa yang dibicarakan Alfred kepadanya. Alfred tau Lukas...
