Sinar flash kamera yang sedang menyorot model itu menyala dalam hitungan detik. Setiap pose yang dibuat oleh sang model ditangkap dan diseleksi nantinya. Sang model yang masih remaja itu pun tampak profesional dalam menangani permintaan pose dari kameramen. Tak halang, dia dibanjiri banyak sanjungan dan tepuk tangan.
"Cut! Kamu memang berbakat, Angel." Kameramen itu meletakkan kameranya dan bertepuk tangan untuk gadis delapan belas tahun itu.
Angel menyapa semua staf dan membungkukkan badannya untuk memberi mereka penghormatan. Dia berterima kasih kepada mereka karena telah membimbingnya dengan baik.
"Angel, nanti setelah hapus make up, kamu ke kantor saya, ya." Itu adalah ketua redaksi majalah remaja yang menaungi Angel sebagai modelnya. Wanita itu menepuk bahu Angel dan menatapnya lewat cermin
Angel tersenyum. "Iya, Tante."
Wanita itu tersenyum gemas kepada Angel dan mengusap bahu sang gadis. Dia pun melenggang, meninggalkan Angel dengan para penata rias untuk menghapus make up.
"Kamu beruntung sekali, Angel, bisa menarik perhatian Bu Silvi. Jarang ada model muda yang bisa membuat Bu Silvi terpukau." Salah satu penata rias berkomentar.
Angel hanya tersenyum. Dia menatap wajahnya di cermin. Dia menyadari bahwa perlakuan atasannya itu sedikit berbeda. Dia juga merasa diutamakan dari yang lain. Hal itu membuatnya merasa canggung dengan model seumurannya yang sama-sama dinaungi oleh Bu Silvi. Seperti sekarang, dia bisa melihat dari pantulan cermin beberapa teman modelnya yang sedang menatapnya tajam di belakang sana.
Setelah selesai melepas riasan di wajah dan di rambut, Angel pergi ke kamar mandi untuk memberishkan dirinya sejenak. Dia ingin membasuh wajah dan buang air kecil sebelum ke ruangan Bu Silvi.
Braakk!!
Pintu kamar mandi itu ditutup dengan sangat kasar. Jalan Angel dihalangi. Tiga teman modelnya yang tadi menatapnya dengan sinis, berada di hadapannya.
"Kalian kenapa?" tanyanya lembut. Sungguh dia tidak ingin terjadi apa-apa, karena dia tahu arti tatapan tajam mereka bertiga.
Angel pun diseret dan dimasukkan ke salah satu bilik kamar mandi. Dia mendapatkan perlakuan buruk dari teman-temannya. Air mata Angel mengalir. Dia hendak berontak tapi tak bisa. Dia sendirian dan mereka bertiga. Dia juga tak punya ilmu dasar bela diri seperti sahabatnya, Anka.
Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya bisa pasrah.
***
Angel menatap nanar layar gawainya. Tidak ada jawaban dari orang yang dia hubungi sedari tadi. Teleponnya tak diangkat. Pesannya pun tidak dijawab. Hatinya sungguh hancur. Sepertinya semua orang memang sudah tidak peduli dengannya.
Dia pun meraung pilu di pojok kamarnya dan melempar gawai yang tak berdosa itu ke lantai. Layarnya retak sana sini. Namun, mungkin masih bisa dipakai lagi, melihat benda itu masih bisa menyala.
Gadis malang itu pun menangis lagi, menenggelamkan wajahnya di pelukan lututnya. Hidupnya terasa sangat mengenaskan. Dia melihat ruam biru di pundaknya. Itu bekas pukulan yang dia dapatkan tadi di kamar mandi studio. Tidak hanya satu, bahkan di bagian pinggang dan tangannya pun terdapat ruam tersebut.
Kenapa hidup di dunia ini susah sekali?
Itu pertanyaan yang berkali-kali dia lontarkan kepada dirinya dan kepada Yang Maha Kuasa. Hidupnya sangat berat. Dia seperti tidak diizinkan untuk bahagia. Buktinya, sekarang ... dia terpuruk dan tidak ada yang datang untuknya. Selalu saja begitu. Bahkan dia berpikir bahwa dia akan bahagia, takdir selalu berubah dan mempermainkannya.
Tangisannya terdengar semakin pilu. Rumahnya saat ini sedang kosong. Hanya tersisa dirinya yang meratapi kesengsaraan hidup tanpa dipedulikan oleh keluarganya. Tak ada lagi orang yang menemaninya seperti dulu. Hatinya terasa sangat kosong.
Tanpa sengaja dia melihat ke arah foto yang masih terpajang bagus di dinding kamarnya. Foto dirinya bersama tiga teman sejawatnya saat duduk di bangku SMA. Senyuman mereka terukir abadi dengan sangat indah dan cerah. Seakan, mereka bisa melewati semuanya bersama dengan saling berbagi dan memberikan pundak untuk sandaran bagi yang lain.
Tatapan mata Angel seketika berubah, dari sedih menjadi tajam. Dia merasa dibohongi dan dicemooh oleh kehidupan. Pandangnya sekarang menuju ke arah gadis yang memakai jilbab paling pinggir. Gadis yang dia kenal baik lebih lama dari yang lainnya. Gadis yang dia yakini sebagai seseorang yang akan ada dalam setiap fase hidupnya sampai kapan pun. Seseorang yang menjadi tempatnya mencurahkan semua kesedihan.
Dia pun mendecih gusar.
"Omong kosong! Kamu egois, Anka!" Teriakan itu memenuhi ruangannya. Menggema tajam dan kembali terdengar dengan sangat biru dan pilu.
Kemudian, tatapan mata itu menuju ke foto lelaki yang terpajang di sebelahnya. Sama saja, dia juga merasakan hanya dipermainkan oleh lelaki itu, lelaki yang sangat dicintainya. Lelaki yang bisa membuat dirinya nyaman dan aman. Bahkan, dia sudah sangat percaya dan menggantungkan hidupnya kepada lelaki itu. Namun, apa yang sekarang dia dapatkan? Dia diabaikan. Sungguh tidak dipedulikan. Telepon yang dia coba sambungkan kepada lelaki itu pun sampai sekarang tak bersambut. Pesan yang dia kirimkan kepadanya pun tak kunjung dibalas. Apakah dia memang sesampah itu?
Air matanya jatuh kembali dengan deras. Baiklah, jika memang itu yang mereka mau. Dia akan benar-benar melakukan apa yang telah dia tuliskan di pesan tadi. Dia tak akan ragu lagi. Rasanya, dia sudah bosan hidup.
Angel sudah putus asa. Ya, sangat. Dia tidak tahu dari mana semua kehancuran dalam hidupnya ini bermula. Saat kabar buruk dari ayahnya datang? Pertemanannya dengan Anka? Pertemuannya dengan lelaki itu? Atau apa? Yang mana? Entahlah, dia tidak bisa berpikir lurus sekarang. Semua orang yang ada di hidupnya memang pembohong. Sekarang tekadnya sudah bulat untuk pergi dari dunia ini, merealisasikan niatnya dari dulu.
Anda
Kak
Kak Ardli
Kak Ardli plis jawab teleponku
Kumohon, Kak
Aku gak bisa hidup tanpa Kakak
Aku udah ditinggalin Anka dan Kakak mau ngelakuin itu juga?
Kak
Kalau Kakak memang udah gak mau sama aku lagi, aku mending gak ada di dunia ini
Jangan cari aku jika aku udah gak ada
Kak Ardli plis jawab
Angel mengambil benda tajam itu dan siap untuk menggores kulitnya. Dia memejamkan mata dan tetap menangis pilu. Bahkan sampai sekarang pun tidak ada yang datang untuknya. Mungkin ini adalah babak terakhir dalam hidupnya, tapi kenapa masih tak ada yang mau memberikan kepeduliaan kepadanya sekali lagi saja.
Baiklah, selamat tinggal dunia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Angel
General FictionAngel membenci hidupnya. Kesialan demi kesialan terus terjadi. Wajah cantik yang dia miliki tidak menjamin kehidupan yang baik pula. Dia membenci keluarganya, membenci jalan yang ditempuhnya. Bahkan dia selalu protes kepada tuhannya. Satu keuntunga...
