Halo perkenalkan namaku Nadina Afifah, hari ini hari pertama aku kuliah. Rasanya senang dan gugup, sedikit gugup jika harus bertemu orang baru.
"Nadin, semangat kuliahnya ya nak." Ucap mama diseberang sana
"Iya ma, pasti. Sudah dulu ya ma, aku harus berangkat sekarang."
Tringggg 07.00 WIB
Bergegas aku mengambil tas dan kunci motor kemudian berangkat ke kampus.
"Rambut ikal, alis tebal, kulit sawo matang, sedikit berantakan tapi tetap terlihat enak di,"
dug, "Maaf, bisa Anda geser sedikit? Anda menghalangi jalan saya." Ada suara seorang laki-laki yang mengganggu lamunanku, kurang ajar.
"Oh, maaf-maaf. Silakan lewat." Tapi tetap saja yang keluar dari mulutku adalah perkataan ini.
"Kalau dipikir, siapa rambut ikal tadi? Sepertinya kita satu fakultas. Ha. Sudahlah tidak penting." Aku kembali berjalan cepat menuju lapangan. Terik matahari cukup berani membuat kulit sawo ini semakin matang rupanya.
Aku menyukai bagian tengah dari kampusku ini, ada sebuah bangunan untuk mahasiswa-mahasiswi berkumpul. Orang-orang menyebutnya 'Aula Temu'. Dari segi arsitektur terlihat menarik karena bukan hanya cat putih bersih yang melapisi dinding bagian dalam tapi juga banyak lukisan yang tertera pembuatnya di setiap lukisan. Meskipun aku buta akan seni, tapi setidaknya instingku mempunyai selera yang cukup baik untuk menilai sebuah karya.
Aku mengambil jurusan akuntansi di fakultas ekonomi. Nilaiku tidak bisa dikatakan bagus saat mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas untuk siswa jurusan IPA pun tidak ada keinginan untuk memasuki industri Sains di masa depan. Akuntansi pun bukan yang benar-benar aku inginkan. Sama seperti sebagian siswa pemilih jurusan, aku adalah orang yang kebingungan.
Saat ini aku berjalan layaknya seorang yang yakin dengan pilihannya. Tidak, aku tidak boleh mundur. Bisa jadi, kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Jadi, ayo Nadin berusahalah sebaik mungkin.
"Untuk jurusan akuntansi silahkan mengambil tempat di ujung kanan yang bertuliskan AKUNTANSI dan ada kak Kevin yang memakai kacamata didekat papan." Teriak Ketua BEM Fakultas.
"Ah! Dia yang menabrakku tadi. Dunia memang sempit ya? Eh, tapi pertemuan ini sangat mungkin terjadi, karena dia juga mahasiswa disini." batinku.
"Untuk hari ini, masing-masing jurusan akan diberikan demo yel-yel dari kakak tingkat. Kalian akan diberi waktu satu hari untuk menghafalkan lirik dan gerakan. Diharapkan besok kalian bisa tampil dengan kompak dan semangat. Paham?"
"PAHAM." Suaraku ikut menyatu bersama teriakan teman-teman seangkatanku.
Rangkaian kegiatan hari ini cukup menyenangkan dan menghabiskan energiku. Bagaimana bisa orang-orang masih terlihat ceria setelah menghabiskan setengah hari mereka diruangan yang begitu banyak populasinya? Sudahlah, aku ingin segera pulang.
"Hai, Nadina." Aku menghentikan langkah ke 100 ku sebelum memasuki area parkir motor.
"Eh, kak Kevin? Ada apa ya kak?"
"Ini kunci motor kamu bukan? Tadi, aku lihat tertinggal didekat meja registrasi dan tertera nama kamu di situ."
"Oh, iya kak. Terima kasih ya kak."
"Iya sama-sama. Aku duluan ya, Nadina."
"Iya kak ... " Sebenarnya geli dengan panggilan Nadina. Tapi bagaimanapun itu juga namaku. Baru saja aku ingin memintanya memanggilku Nadin tapi dia sudah lebih dulu hilang dari pandanganku. Makhluk seperti apa dia bisa secepat itu menghilang?"
YOU ARE READING
Lembar Kesekian Untuk Anda Baca
General Fiction"Aku tahu, Gin. Seorang yang belum bisa benar-benar berdamai dengan dirinya sendiri tidak akan pernah menyediakan tempat untuk orang lain." -Nadin ------------------------------------- "Dari dulu sampai sekarang kamu ga pernah berubah ya, Na? Seolah...
