"Mbakk ambilin baju dong !" (kata seorang anak berusia 16 tahun)
"Iya mas tunggu sebentar" (ucap pembantu dengan lembut)
"Cepet mbak mau pergi nih" (dengan suara cukup keras ia sedikit membentak)
Sudah terdengar seperti percakapan anak orang kaya dan seorang pembantu yang berasal dari desa,ya ini adalah salah satu sudut pandang anak orang kaya yang bernama Akra, nama panjangnya Akraaaaaa kalo dipanggil,kalo di tulis di kertas ujian jadi Akra wijaya. Ia sungguh beruntung karena dilahirkan dari orang tua yang berkecukupan.
Ayahnya seorang direktur utama sebuah perusahaan, dimana perusahaan itu bergerak di bidang pertambangan. Pak wijaya dikenal sebagai sosok yang ulet dan tangguh dalam membangun usahanya, ketika terjadi perselisihan bisnis beliau tidak segan untuk memakai cara yang kotor demi mempertahankan kelancaran bisnisnya mungkin juga kekuasaaan nya. Hal ini bisa terungkap karena akra pernah menguping pembicaraan ayahnya dengan salah satu pengawal. Begitulah pak wijaya lebih tepatnya fajar wijaya, seseorang yang dikenal sebagai sosok yang kejam ketika bekerja.
Terlepas dari itu Akra adalah anak yang cukup dimanja oleh orang tuanya terutama ayahnya yang selalu menyediakan semua fasilitasnya, seperti diantar jemput menggunakan sedan bmw M2 coupe, tidak lupa dengan supir dan tambahan pengawal jika perlu, hp dengan karakter buah di belakang dan beberapa barang yang bernilai tinggi. Hal-hal yang berbau kemewahan adalah makanan biasa bagi Akra, mungkin ia tidak pernah punya pikiran "hmm gini amat idup" ngga ada sejarahnya Akra mikirin itu.
Semua itu ayahnya lakukan untuk menunjang kebutuhan anak seorang pengusaha dan yang terutama Akra pun menikmati, meskipun ia tidak terlalu dekat dengan ayahnya, tetapi dengan ibunya ia agak sedikit dekat. Namun kedekatan yang agak sedikit itu kini tidak lagi bisa ia rasakan, tepatnya dua tahun lalu ibunya meninggal karena sakit bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
Kini ia hanya tinggal dengan ayahnya dan beberapa pembantu dari desa, mungkin juga ayahnya sudah punya kekasih baru tetapi tidak dikenalkan dengannya, karena mungkin usia pacarnya seumuran dengan anaknya, takut kalah saing mungkin.
Jarum panjang jam mulai berdetak menuju arah 2, tepatnya pukul 11 lewat 10 menit pada sabtu malam.
Notif dari handphone nya pun mulai bermunculan, ternyata itu pesan dari teman-temannya. Mereka sedang merencanakan sebuah keseruan entah dimana, karena salah satu dari temannya sedang berulang tahun.
"Stadium, zodiac apa HW nih ?"
"Gue sih terserah aja ya, tergantung bos"
"Kita abis-abisan aja malem ini"
"Gue bawa cewe ya kesana"
"Serah lu dah boi"
"Gimana bos, tentuin lah !"
Melihat notif itu Akra pun mulai mengetik pesan.
"Stadium" (ia membalas singkat)
"Oke ra, gua aja yang buka table, lu mau pesen apa ?"
"Macallan satu"
"Oke deh ra, see you"
"Yang lain mau pada pesen juga ?" (tanya temannya)
"Ntar aja lah kalo udah nyampe"
"Oke deh"
Akra pun menutup layar hp nya dan mulai bersiap.
"Mbakk ambilin baju dong ! "
"Iya mas, tunggu sebentar"
"Cepett mbak mau pergi nih !"
YOU ARE READING
Figlio Dell'aurora
Mystery / ThrillerSeorang Akra wijaya yang sedang asik menyusuri sebagian titik kota. Namun di tengah perjalanannya ia merasa diacuhkan oleh sebagian orang.
