Layna Syafrina, wanita berambut pirang sebahu yang sangat cantik fisik dan budi pekertinya. Ia bercita-cita menjadi penulis novel terkenal seperti Tereliye, tapi dia hanya berbekalan nilai bahasa Indonesia 90 .Untuk mewujudkan cita-citanya dia belajar sendiri dengan memanfaatkan internet dan buku novel yang dulu sempat ia beli. Ia tak bisa memperdalam ilmu penulisannya. Walaupun ia sangat ingin kuliah, namun harapannya pupus karena orangtuanya bangkrut dan tidak mampu membiayai uang kuliahnya. Layna merantau dari kampungnya di Langsa dan sekarang tinggal di Yogya. Hal itu membuat dirinya membutuhkan banyak uang.
********
'Bismillah" ku staterkan motor beat biru ini pelan-pelan. Aku kerja parttime di supermarket sembari membuat novel, Shift kerjaku pagi - sore jadi malamnya aku bisa fokus buat cerita. Jam 8:10 aku sampe di tempat kerja
"kak maaf telat... semalam saya begadang soalnya saya kebut bikin cerita" kataku lembut.
"emang ada yang baca? yaelah kalo ga ada ngapain sih bikin cerita? kamu gaakan diatas Tereliye. Tuh garis bawahi perkataan saya." jawab kakak shift malam dengan ketus.
"Setidaknya saya ada penghasilan dari hasil kerja keras saya dengan berpikir dan tidak nyolot apalagi ngejelekin orang lain seperti anda!" jawabku dengan suara sedikit meninggi.
"kamu!! liat ya saya bakal bikin kamu menyesal karna udah bikin saya kesal!!" kata dia sambil menunjukku dan beranjak pergi.
"ck, kreak kau" kata ku sembari meninggalkan dia menuju loker dan ganti baju seragam.
*********
'kricing'
"selamat datang di toko kami, selamat berbelanja" kata ku sambil tersenyum ke pelanggan.
"Hai, apa kabar?" lelaki berambut hitam pekat, tingginya sekitar 178 cm, gak kurus tapi juga gak gemuk, wajahnya pas-pasan, dia menyapaku dengan ramah. Aku tau dia siapa, dia mantanku Kaleraf biasa ku panggil Mas Eraf...'jadi gagal move on Ahahaha'.
"Hai mas, alhamdulillah baik... mas gimana?" kataku sembari tidak percaya apa yang ku lihat.
"Mas alhamdulillah baik dek... gimana Yogya? baguskan saran mas?" katanya tersenyum manis yang bikin aku makin klepek-klepek.
"Bagus banget mas... keren juga kotanya tapi padet banget..."aku pun tertawa ringan.
Setelah Mas Eraf pergi, ntah kenapa aku mau berubah ke arah yang lebih baik dan mulai serius menulis cerita ku di wattpad.
*******
Jam menunjukan pukul 20:00 aku berinisiatif untuk menelepon ibu.
"Halo bu, kalo adek pake hijab cocoknya hijab apa ya bu?" tanyaku ke ibu.
"halo nakku sayang, adek mau berhijab lagi ya? adek cocoknya pake segitiga dek, tapi kalo mau pake pashmina juga cantik" kata ibu di seberang sana yang sukses bikin aku baper.
"coba beli pashmina hitam, sama segitiga hitam ya bu..."
"iyaa dek, coba beli dehh"
"okaiii makasih buu, assalamu'alaikum "
"wa'alaikumsalam nakku"
'tut' panggilan pun dimatikan.
setelah 1 tahun tinggal di Yogya, membuat aku tersadar bahwa berhijab lebih mulia dibandingkan tidak memakai hijab.
********
'Panggilan masuk dari ayah'
kuangkat handphone ku yang bergetar di atas nakas, ku naikkan tombol hijau di handphone tersebut
"Halo nak, Ayah sudah mengumpulkan uang, walau tidak banyak setidaknya cukup untuk biaya kuliah kamu" kata ayah di telepon secara tiba-tiba.
"wah yang benar yah" kataku tidak percaya.
"alhamdulillah kalau begitu, tapi lebih baik uang itu ayah simpan untuk merenovasi rumah... masa kalian tinggal di rumah yang bocor sedangkan Ayna di tempat yang bagus..." sambungku dengan sedikit lirih.
"loh, kan ayah kerja untuk Ayna agar Ayna dapat meraih cita-cita" kata ayah yang membuatku tersentak, bagaimana bisa di usia ayah yang rentan ini ayah masih memikirkan uang kuliahku.
"ayah, jangan dipikirin lagi biaya kuliah Ayna, Ayna udah enak kerja. lebih baik uangnya disimpan untuk kebutuhan keluarga disana." Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba ibu kos datang
"Lay, kamu ada di dalam? ibu mau nagih uang kos nih"
"maaf bu, saya gajiannya baru minggu depan" kataku sembari membuka pintu
"okay, minggu depan ibu tunggu ya Lay"
"insha Allah bu" kataku lalu menyalami tangannya.
"hallo ayah, maaf ya tadi ibu kos datang" kataku pelan.
"uang kos belum dibayar nak? berapa kos di sana?" kata ayah cemas.
"tenang ayah, Layna sudah kerja. Layna bisa membayar uang kos sendiri" kataku menenangkan ayah.
"Bukan begitu nak, itukan memang tugas seorang ayah untuk anak gadisnya" mendengar jawaban ayah tidak terasa air mataku menetes.
"hiks, hiks... ayah jangan ngomong gitu... Layna sedih jadinya" kataku yang sedang menangis.
"Hahaha gemasnya anak ayah, ini anak ayah yang bungsu atau kakak tertua sih? kenapa gemas sekali" kata ayah mengolok ku.
"ayahh.... Layna rindu" kataku lalu menekan tombol video call, dan diterima oleh ayah.
"hai anak gadis ayah, bagaimana harinya? baik-baik saja kan?" kata ayah setiap kali kami video call.
"Hai, hikss ayahhh... Layna sedang rindu ayah, tapi hari layna baik-baik saja" kataku sambil menangis keras.
setelah 10 menit bicara dengan ayah, percakapan kami pun berakhir. Aku menuju kasur dan menangis teringat perjuangan ayah dan dengan penuh tekad aku membuka laptop memasuki akun wattpad dan melanjutkan ceritaku. Mulai hari itu setiap dapat ide, aku langsung menorehkannya di Wattpadku.
*********
Dua tahun aku berhijrah dan hijab telah membersamai prosesku. Qadarullah aku menikah dengan mas Eraf dan dititipkan anak kembar. Pada akhirnya, setelah berhasil melewati berbagai hujatan, nama ku akhirnya dikenal banyak orang karena karya pertamaku yang berjudul "Cinta Bertepuk Sebelah Tangan".
**********
BU, ALHAMDULILLAH ANAK IBU DIKENAL BANYAK ORANG...
anak ibu emang gak kuliah tapi liat sekarang bu... karya anak ibu sudah banyak di bukukan...
hal ini tentu saja karna dukungan ibu dan ayah sehingga Layna mampu membuktikan bahwa Layna bisa.
Layna telah menemukan lelaki yang mampu membimbing perjalanan hijrah dan karir Layna. Ibu bangga kan di akhirat sana? ayah gimana? ayah seneng juga kan?? Layna tutup aurat biar ayah sama ibu masuk syurga... bahagia terus ya ibu dan ayah...Layna di sini bahagia banget bu, dapet uang hasil jerih payah Layna...
Layna sayang kalian....
"Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah, jauhilah orang tuaku dari api neraka. Muliakanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah kedua orang tuaku dengan air yang jernih dan sejuk, dan bersihkanlah kedua orang tuaku dari segala kesalahan seperti kapas putih yang bersih dari kotoran." doaku untuk ayah dan ibu akan selalu hadir di setiap sujud terakhirku.
