بسم الله الرحمن الرحيم
🍃Happy Reading🍃
Negri Ginseng memang bukan negara yang mayoritas akan orang islam. Tak sedikit dari mereka yang beragama islam pasti sudah diolok-olok bahkan dipandang buruk oleh sebagian masyarakat non muslim. Semua itu tidaklah menggoyahkan semangat seorang gadis bercadar yang sedang menunggu seseorang di bandara Incheon.
Tidak sedikit orang yang berlalu lalang disana memandangnya aneh.
Ada pula yang takut karena melihat pakaiannya yang sangat tertutup. Setelah beberapa menit menunggu di bandara, orang yang ditunggunya telah tiba disana.
"Assalamu'alaikum Abah". Sembari mencium tangan abah dengan penuh takzim.
"Wa'alaikumussalam Zahra, gimana kabarnya Nduk?"
"Alhamdulillah Khoir Bah. Abah gimana kabarnya beserta keluarga? Sehat?"
"Alhamdulillah Abah beserta keluarga juga sehat wal 'afiat".
Yah, gadis yang sedari tadi menunggu di bandara adalah Zahra dan yang menjemputnya adalah kakak dari Ibunya, Kyai Azzam. Kyai Azzam datang menjemput Zahra untuk pulang kerumahnya selama tinggal di negri ginseng ini, Korea Selatan. Tak lama mereka berbincang berbincang Kyai Azzam mengajak Zahra pulang untuk beristirahat.
Saat Zahra akan menarik kopernya, fokusnya teralihkan oleh keributan ditempat yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Ia melihat begitu banyak manusia dari kalangan hawa berlarian menuju tempat itu. Mereka berteriak histeris saat beberapa pria keluar dari pintu keluar bandara semua tim keamanan langsung bertindak secepat mungkin untuk mengamankan mereka, namun tak mampu dilihat oleh zahra dengan jelas karena disana banyak sekali orang. Zahra hanya kebingungan melihat itu semua.
"Abah kenapa disana sangat ramai dan rusuh. Bahkan mereka sampai berdesak-desakan dan berteriak-teriak seperti itu?" Tanya Zahra kepada Kyai Azzam penasaran.
"Udah, kamu ngga usah peduliin hal yang seperti itu, mending sekarang kita pulang biar kamu bisa cepat istirahat".
"Baiklah Abah". Jawab Zahra menarik kopernya mengikuti langkah kaki Kyai Azzam ke tempat parkir mobil.
* * *
Sesampainya di kediaman Kyai Azzam, Zahra langsung bersungkeman dengan Ummah Fatmah, Istri Kyai Azzam.
"Masya'Allah kamu makin cantik aja toh nduk". Puji Ummah Fatmah memegang kedua pipi Zahra yang tertutupi cadar.
"Hehehe, Ummah bisa aja" Ucapnya bersemu merah, untung tak dilihat Ummah Fatmah dan Kyai Azzam bisa habis Zahra di goda oleh mereka berdua. "Oh iya, Ummah. Dek Syawal dengan Syifa dimana Mah?" Tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.
"Mereka lagi bobo siang, sebenarnya mereka dari tadi udah nungguin kamu. Tadi, Ummah nyuruh mereka buat bobo siang dulu".
Zahra hanya mengangguk tanda mengerti. Di Ruang Tamu mereka saling bercerita baik itu tentang indonesia, korea, pendidikan Zahra dan lain-lain. Setelah puas bercerita Zahra diperintahkan Ummah Fatmah untuk beristirahat terlebih dahulu. Ia berfikir bahwa keponakan dari suaminya ini pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh dan Zahra pun menurutinya.
* * *
Malam harinya, setelah melaksanakan shalat isya berjama'ah Zahra dan Ummah Fatmah berlalu ke dapur untuk menyiapkan makanan malam yang telah di masak oleh Ummah Fatmah tadi.
BẠN ĐANG ĐỌC
Cinta Dalam Syahadat
Teen Fiction"Kamu yakin nduk mau pergi kesana?" "Yakin Umi. Zahra sangat yakin". "Iya, Umi ndak usah khawatir toh. Kan disana ada Mas Azzam, kakaknya umi, yang bisa jagain Zahra disana". Itulah perbincangan satu keluarga kecil diruang keluarga. Dimana sang ibu...
