Oneshoot
Seventeen brothership
Seokmin heran dengan sikap kedua orang tuanya. Mereka seperti tak pernah menganggap kehadiran saudara kembarnya, Wonwoo. Secuek-cueknya Wonwoo, dia tetaplah anak yang berbakti pada orang tuanya.
Entah apa penyebabnya...
Pagi itu tampak cerah. Seokmin sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Hati-hatilah di jalan, sayang, jangan lupa membawa bekalmu" ucap nyonya Jeon memberikan sekotak bekal untuk putranya.
"Ibu, kenapa hanya satu? Untuk Wonwoo?" Pertanyaan Seokmin membuat nyonya Jeon terdiam. Ia hanya menatap lantai tanpa menjawab pertanyaan putranya.
"Sudahlah, Seokmin, ayo kita berangkat segera. Kita akan terlambat jika berlama-lama nanti" ucap Wonwoo yang datang entah dari mana.
"Aku akan membagi bekalku denganmu nanti, oke?"
Nyonya Jeon hanya menatap putranya itu sambil menghela nafas lelah.
. . . . .
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Wonwoo, ayo makan ini bersamaku. Kau tampak makin kurus"
Mereka tengah berada di kelas saat jam istirahat. Hanya ada beberapa siswa di sana. Para siswa yang memilih untuk membuat tugas sekolah yang belum selesai.
"Aku tidak lapar, Seokmin"
"Hei, ayolah, sesuap saja"
Seokmin terus memaksa saudara kembarnya itu untuk memakan bekal yang disiapkan ibunya tadi.
Wonwoo terus mengelak tak mau makan, sampai seseorang datang menghampirinya.
"Seokmin, ayo kita lihat mading sekolah, di sana sudah terpampang urutan rangking seluruh siswa" ucap Mingyu, salah satu sahabat karib si kembar.
"Kau tak mengajak Wonwoo?" Tanya Seokmin. Baginya, jika ia diajak, Wonwoo juga harus diajak. Begitupula sebaliknya.
"Baiklah, ayo Wonwoo" ajak Mingyu lagi.
Mereka berjalan menuju mading sekolah yang tak jauh dari letak kelas mereka.
"Oh? Aku rangking 26" seru Mingyu senang. Pencapaian itu cukup bagus untuk siswa satu sekolah.
"Aku 33" ucap Seokmin. Ia kemudian mencari keberadaan nama kembarannya.
"Hm? Wonwoo tak masuk 50 besar? Padahal ia lebih rajin dariku, biasanya juga namanya ada di rangking 10 besar" ucap Seokmin heran. Wonwoo itu sangat rajin, entah mengapa namanya tak tertera di rangking 50 besar.
"Itu artinya peluang Wonwoo untuk masuk perguruan tinggi sangat kecil. Aku tak ingin kuliah jika Wonwoo juga tak kuliah"
Seokmin menghampiri saudaranya itu yang masih berdiri di belakang kerumunan siswa yang penasaran dengan rangkingnya. Wonwoo tampak biasa saja, apa tak apa baginya saat tahu bahwa namanya tak tertera di sana?
"Wonwoo, namamu tak ada di sana" ucap Seokmin sedih.
"Begitukah? Tak apa, namamu ada di sana kan? Kau punya peluang masuk perguruan tinggi, selamat Seokmin" ucap Wonwoo tersenyum.