Kenyamanan / Kekacauan

24 2 0
                                        

Dinginnya masih terasa disaat langit mulai berwarna hitam dan semakin pekat tak menggoyahkan langkah itu terus melangkah menyusuri jalanan kota yang ramai. Angin yang hilir mudik menerpa wajahnya hingga terasa dingin pun tak dihiraukan, dia hanya ingin pulang ingin kembali ke tempat ternyamannya dia hanya lelah dengan keadaan.

"Tarik napas dan buang"

Hanya intruksi itu yang terus dirapalkannya di dalam hati sampai langkahnya berhenti di depan sebuah rumah bercat putih dengan halaman yang dipenuhi bunga. Minimalis namun nyaman. Tangan kanannya mulai menggenggam gagang pintu dan mendorongnya sembari mengucapkan salam pandangannya mulai menyusuri rumah tersebut dengan menengok ke kanan dan kekiri mencari seseorang yang selalu memberikan pelukan penenang.

"Bunda, milki pulang"

Keheningan masih melanda, derap langkahnya mulai membawanya ke arah halaman belakang rumahnya, kebun bunga menyambut pandangannya saat dia mulai sampai pada tujuannya 

"Bunda..."

Masih belum ada jawaban sampai ketika netranya menangkap sosok yang sedari tadi dicarinya lengkungan di bibirnya tidak bisa lagi ditahan dipercepat langkahnya menuju sosok yang dirasa tempat ternyamannya berada di salah satu gazebo halaman belakang dengan ditemani secangkir teh  dan pandangan yang mengarah ke depan. Melamun, ya bundanya sedang melamun entah apa yang sedang dilamunkannya

"Bunda" ungkapan disertai goyangan singkat dibahu menyadarkan sosok yang dipanggil bunda ini mulai tersadar, menatap ke arah pelaku yang menyadarkannya

"Milki kapan pulangnya kok bunda nggak tau"

Senyumnya mulai terlihat segera mungkin dia mengambil tempat di bangku kosong sebelah bundanya "baru aja bun, tadi milki nyariin bunda pas buka pintu rumahnya sepi, milki kirain bunda lagi pergi ke toko mba jejen taunya bunda malah ngelamun disini" ucapnya sambil memakan kue dipiring yang memang disediakan sebagai pendamping teh "bunda lagi mikirin apa?"

Gelengan singkat sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut "bunda nggak mikirin apa-apa kok, bunda cuma pengen aja duduk disini sambil liatan bintang" tatapan yang mulanya melihat ke arah langit kini fokusnya sudah mengarah pada anak semata wayangnya yang masih setia menatapnya. 

tidak heran bagi milki jika sang bunda memang sangat mengagumi bintang, bundanya memang sangat fanatik dengan bintang. Bahkan di dalam kamar kedua orang tuanya pun terdapat beberapa stiker bintang yang dapat menyala walaupun dalam kegelapan.

Angin yang berhembus semakin kecang, udaranya pun mulai terasa sangat dingin "Bun, ayo masuk disini dingin banget nggak bagus untuk bunda" berdiri dan mulai mengulurkan tangannya agar segera digenggam sang bunda

"Padahal bunda masih ingin lihat bintang" walaupun rasa tidak relanya sangat besar beliau tetap berdiri. Menggenggam tangan anaknya kemudian tersenyum " kamu lagi ada masalah ya?"

Milki hanya terdiam bundanya memang sangat hebat dalam menebak. Tetap setia menggenggam tangan sang bunda sambil menuntut ke arah kamar kedua orang tuanya, mendudukan bunda di sisi ranjang kemudian keluar mengambil baskom berisikan air hangat. Dengan perlahan ia membuka sendal sang bunda dan memangku kedua kaki itu di atas pahanya di bersihkan kaki itu dengan kain.

Helaan napas berat menghentikan aktivitas milki "bun.. tau tadi milki dibully lagi" ucap milki sambil menatap wajah ibunya. Salah jika dia memberitahukan perihal ini pada bunda tapi dia ingin karena di dunia ini menurutnya hanya sang bunda  yang sangat mengerti keadaannya. "Tapi nggak apa-apa kok bun, milki tau kok mereka mungkin lagi kesal aja soalnya milki bisa dapetin beasiswa" ungkapan itu diucapkannya dengan raut wajah sombong agar bundanya tidak khawatir.

Seulas senyum pun mulai terukir di wajah bunda selaras dengan usapan lembut di rambut mulai terasa. Senyum yang indah itu yang dilihat oleh milki. Entah mengapa air mata yang sejak tadi ditahan mulai mengalir, sesak yang ditahan kini tidak bisa dikendalikan dia hancur untuk malam ini dibalik langit  gelap yang dihiasi bintang kesukaan bunda di bawah atap rumah tempatnya dan bunda berteduh milki menyerah untuk semesta.

---

"Kamu tiap hari kerjaannya mabuk mabukan!"

Prang!!

Vas bunga yang awalnya berdiri kokoh disamping bingkai foto keluarga itu kini telah hancur berkeping keping di atas lantai, dua makhluk tuhan yang memiliki panggilan berbeda sedang saling menatap dengan amarah yang tidak padam.

" lantas kalau saya mabuk mabukan mau kamu apa?" Tatapan itu seakan menyiratkan ketidaksukaan

"Kamu harusnya bisa jadi sosok suami dan ayah yang baik saya nyesal menikah dengan kamu" lagi kali ini bingkai foto yang disanding dengan vas yang menjadi sasarannya. Kini bingkai foto yang di dalamnya terdapat foto keluarga ayah, ibu, dan anak sedang tertawa bahagia kini sudah tak berbentuk hanya meninggalkan kenangan yang menjadi kabur.

Di dalam kamar di atas ranjang beralaskan seprei berwarna putih bercampur merah seorang gadis sedang duduk termenung  memegang pisau lipat dengan gantungan beruang.

"Hah sehari tanpa keributan gak mungkin bisa kayaknya" ucapnya sambil mengangkat pisau tersebut menaikan lengan bajunya kemudian menggoreskan pisau tersebut ke arah tangannya. Seakan menjadi candu baginya kini diarahkan pisau tersebut pada tangannya yang lain

Tertawa hanya itu ekspresi yang bisa ditunjukan seakan tidak ada rasa sakit sama sekali. Dia sedih namun rasanya air mata tidak ingin bersahabat lagi dengannya. Jika orang lain punya rumah untuk pulang maka dia tidak. Rumahnya kini hanya neraka untuknya dia hanya minta pada semesta untuk berbaik hati membuatkan dia rumah yang hangat. Martha gadis itu untuk malam ini memohon belas kasih semesta.

-maaf atas typonya🙏

Lekas PulihTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang