Oleh : Joko Yuliyanto
Perempuan itu memijat keningku dari belakang. Sesekali tersipu saat berpapasan pandang. Ruang tamu yang nampak lengang. Kopi dan roti bakar di atas meja menemani menonton TV. Bersama dua kucing dalam temaram lampu gantung.
Kebiasaan bercanda melepas penat setelah seharian bekerja. Istriku sedang sibuk menyiapkan makan malam, "Kami tidak suka makan di luar rumah." Karena bagiku masakan istriku adalah hidangan termewah yang pernah ada. Sebentar lagi kami memiliki keturunan.
Beberapa hari yang lalu kita sibuk memikirkan nama anak. Satu yang jelas, bahwa anak pertama harus jadi orang sukses dan berpendidikan. Kami menyiapkannya sebagai penyokong ekonomi keluarga kelak. Membiayai kebutuhan rumah tangga, membahagiakan orang tua, dan membantu pendidikan adik-adiknya. Putra sulung harus mempunyai karakter bijaksana: kami pun akan bentuk.
Anak kedua kami didik menjadi agamawan. Menghilangkan inspirasi kebahagiaan akan dunia. Menghibahkan diri hanya untuk agama. Syukur bisa jadi alim ulama.
"Apa harus ke pesantren?"
"Di sana lah tempat kawah candradimuka bagi manusia. Agar tidak terikat pada bingar-bingar dunia. Kalau sekolah umum hanya akan mencetak anak menjadi babu atau buruh."
Istriku mengangguk saja, seolah menyetujui segala hal bahasan tentang tujuan hidup.
"Minimal kalau kita meninggal, anak-anak masih sedia mendoakan kita." tambahku.
Sedangkan anak bungsu kami didik menjadi seniman. Dia adalah penerus jiwa kami - melestarikan kebudayaan. Jika ribuan orang bangga dengan budaya asing, maka dia adalah salah satu yang keukeuh memperjuangkan kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa. Memberikan kebebasan berpikir, berimajinasi, dan berkarya sampai mempengaruhi masa untuk sama-sama merawat kesenian dan kebudayaan lokal.
****
"Selamat pagi, mas"
Tanggal merah. Matahari begitu malu menampakkan wajahnya. Angin semilir menusuk sendi. Perempuan itu kembali datang membawa kehangatan.
"Kau hidangkan secangkir kopi, aku buatkan sebait puisi."
Ah, kami terlalu tua untuk menjadi romantis. Kadang diksi yang indah akan lekas membosankan kalau tidak disertai dengan kelakuan konyol dan penuh gelak tawa.
Dulu waktu kami memutuskan serius berhubungan, ada beberapa detail kontrak di antara kami.
Dengan ini kami menyepakati;
1. Kami boleh menikah (poligami/ poliandri) lagi jika di antara kami merasa bosan atau menyesal.
2. Kami boleh mengajukan talak jika salah satu di antara kami meninggalkan salat.
3. Jika ada masalah rumah tangga wajib diselesaikan hari itu juga, dilarang bercerita masalah kepada orang lain (termasuk orang tua).
4. Dilarang menceritakan masa lalu pasangan kita, dilarang membandingkan pasangan kita dengan orang lain - apalagi orang tua.
5. Mencintai mertua sama besarnya dengan mencintai orang tua kandung.
Kami menulisnya dalam secarik kertas dan menandatanganinya di atas prangko. Sah!
Sampai sekarang kami tidak pernah bosan, kami tidak pernah punya masalah yang serius, kami saling sungkan dan selalu berkasih tiada lelah. Bedanya dengan yang lain, semakin hari kami semakin mencintai, sedangkan yang lain mudah bosan. Landasan kami mencinta adalah keikhlasan, bukan berdasar kepada sesuatu. Jika masih memaksa mengadakan sesuatu, maka itu adalah penggambaran akan imajinasi yang tidak semuanya bisa dilukiskan dalam kanvas. Adapun alasan itu akan berpindah, berkurang, dan menghilang.
"Hari ini mau ke mana?"
"Terserah aja mas."
Aku menghentikan pertanyaan ketika ada jawaban terserah. Segera aku mengambil sepeda butut. Aku bonceng dia mengelilingi sawah, memandang paronama pegunungan, dan menghirup aroma pedesaan. Selalu demikian sampai kami menua meninggalkan aksara.
****
Malam itu kami berbaring di atas kasur, memandang langit-langit. Kami saling memeluk dan berbagi dongeng. Benar kata orang-orang, bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mempunyai pasangan hidup.
"Lalu apa perbedaan yakin dan percaya?" tanya datar istriku.
"Kalau yakin belum tentu percaya, kalau percaya sudah tentu yakin."
Demikian bahasan malam-malam kami. Mulai dari memuji kesuksesan tetangga, bercerita pengalaman seharian, saling meramal akan masa depan, sampai menganalisis politik dan ekonomi dunia.
Bahagia itu diciptakan, bukan dicari. Banyak kegagalan dalam hubungan karena mereka mencoba mencari kebahagiaan. Ketika tidak ditemukan, mereka akan mencari kebahagiaan lain. Menciptakan kebahagiaan bukan bergantung kepada orang lain, tetapi ada dalam diri untuk dimunculkan dan dikembangkan. Sehingga kebahagiaan itu terpancar untuk disebarkan, masalah dan kesedihan kita pendam dan hilangkan.
"Pada suatu hari, ada seorang wanita yang kehilangan antingnya di dalam kamar. Saat bersamaan lampu di rumah mati. Dia mencari dengan meraba setiap lipatan benda sekitar. Merasa capek, dia mempunyai ide untuk mencari anting di halaman rumah yang kebetulan terang sorot rembulan. Sejam kemudian ada kakek renta menegurnya, "kamu sedang apa?", dijawabnya pelan, "Sedang mencari anting kek." Kakek bertanya lagi, "Kok kamu mencarinya di sini, memang jatuhnya di mana?", kemudian wanita tersebut menjawab di kamar. Seketika kakek tersebut menggelengkan kepala dan melenggang pergi."
Istriku tiba-tiba bangun dari duduknya. Bersila dan mengernyitkan dahi, "Maksudnya?"
"Kita sering mencari kebahagiaan di luar diri kita. Menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu atau seseorang, sedangkan kebahagiaan itu sejatinya ada dalam diri kita sendiri. Kita tidak akan pernah menemukan kebahagiaan di luar diri kita. Jika ining bahagia, berusahalah untuk menyalakan lampu di dalam rumah, bukan mencari cahaya di luar rumah. Kita tidak akan menemukan kebahagiaan."
Istriku menghela nafas, "Kamu sudah bosan ya mas?"
"Emang aku ada tanda-tanda menikah dengan orang lain?"
Kami tekekeh dan saling berpelukan hangat menyambut hari esok dengan kisah-kisah lainnya.
YOU ARE READING
TUTUR SEDIKSI
General FictionSebuah kumpulan cerpen tentang cinta, pertengkaran, dan konklusi pada sebuah imajinasi. Menulis tentang rasa yang tidak mampu terungkap oleh kata. Mati dalam perasaan dan angan-angan. Bertutur melalui diksi untuk menyampaikan pesan yang tidak tersel...
